Posted on Salasa, 4 Maret 2008 by Ki Santri
Oleh NINA H. LUBIS
DALAM makalah ini akan dikemukakan suatu analisis historis tentang identitas Sunan Gunung Djati, salah seorang wali dari Wali Sanga, yang menjadi pendiri Kesultanan Cirebon dan Banten, sekaligus penyebar agama Islam di Jawa Barat.
Sunan Gunung Djati, menjadi tokoh utama dalam berbagai naskah lama yang dapat disebut sebagai naskah-naskah Cirebon. Selain itu, beberapa buku Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Sejarah, Tokoh | 11 Pairan »
Posted on Salasa, 4 Maret 2008 by Ki Santri
Oleh AYATROHAEDI
MEMBICARAKAN tokoh panutan suatu kelompok masyarakat tertentu, merupakan sesuatu yang tetap menarik, sekaligus menantang. Kian sedikit sumber yang tersedia, akan kian bertambah pula tantangan yang dihadapi. Misalnya saja, benarkah embaran yang tersaji dalam berbagai sumber yang keshahihannya masih perlu disawalakan lebih lanjut. Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Sejarah, Tokoh | Leave a Comment »
Posted on Saptu, 1 Maret 2008 by Ki Santri
(1650-1730)
Abdul Muhyi, Syeikh Haji (Mataram, Lombok, 1071 H/1650 M-Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat 1151 H/1730 M). Ulama tarekat Syattariah, penyebar agama Islam di Jawa Barat bagian selatan. Karena dipandang sebagai wali, makmnya di Pamijahan di keramatkan orang. Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Tokoh | 26 Pairan »
Posted on Senén, 25 Pébruari 2008 by Ki Santri
Oleh NINA HERLINA LUBIS
“I HAVE nothing to offer but blood, toil, tears, and sweat.” Itulah “kata-kata bersejarah” yang diucapkan Winston Churchill pada tanggal 13 Mei 1940, tiga hari setelah dia diangkat menjadi perdana menteri Inggris. Kata-kata itu ternyata memberi spirit yang luar biasa kepada para pejuang Inggris untuk memenangkan Perang Dunia ke-2.
Empat tahun kemudian, di tempat nun jauh di Timur, di mana jam menunjuk angka enam jam lebih cepat, “kata-kata bersejarah” itu menjadi fakta sejarah. Pada tanggal 25 Februari 1944, yang jatuh pada hari Jumat, di sebuah kampung Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Sejarah | 3 Pairan »
Posted on Rebo, 20 Pébruari 2008 by Ki Santri
Oleh SUMBADI SASTRA ALAM
CIREBON saat ini tengah tertatih dalam usia yang makin renta. Dihitung dalam tahun masehi, konon Cirebon telah melewati perjalanan sejarah selama 535 tahun. Dan telah lama rakyat merindukan kehidupan yang penuh sejahtera di tengah kiprah manusia yang penuh kemunafikan dan ramai dengan geliat kemaksiatan.
Tampaknya penguasa Cirebon saat ini tak pernah mau membangun nilai-nilai sejarah yang sesungguhnya mampu menumbuhkan seraut wajah rakyat yang berjaya. Sejarah masa lampau tentang Cirebon yang pernah mengukir masa Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Sejarah | 6 Pairan »
Posted on Salasa, 19 Pébruari 2008 by Ki Santri
Oleh JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH
Saterusna, pikeun ngawangun hiji Pamaréntah Nagara Indonésia nu nangtayungan sakumna bangsa Indonésia jeung sakuliah lemah cai Indonésia sarta pikeun ngamajukeun karaharjaan umum, nyerdaskeun kahirupan bangsa, jeung milu ngalaksanakeun katartiban dunya dumasar kana kamerdékaan, karépéhrapihan anu langgeng jeung kaadilan sosial, nya disusun eta kamerdékaan kabangsaan Indonésia teh dina hiji Undang-Undang Dasar Nagara Indonésia, winangun nagara Republik Indonésia nu ngagem kadaulatan rayat sarta dumasar kana Katuhanan Nu Maha Esa, kamanusaan Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Kepercayaan | 2 Pairan »
Posted on Rebo, 13 Pébruari 2008 by Ki Santri
oleh AFIF MUHAMMAD
KETIKA seseorang mendengar istilah “Agama Jawa” disebut orang, serta-merta terlintas suatu gambaran tentang tradisi yang berkembang dalam komunitas Jawa tertentu yang dapat dibedakan secara jelas dari agama, khususnya Islam, yang juga berkembang berdampingan dengannya. Artinya, dalam “Agama Jawa” itu terdapat suatu pandangan hidup yang terdiri atas sistem kepercayaan, peribadatan, etika filsafat, seni, dan lain-lain, yang secara keseluruhan disebut dengan “Agama Jawa”, dan itu bukan Islam, bukan Kristen, bukan Hindu, dan bukan Budha. Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Kepercayaan | 5 Pairan »
Posted on Saptu, 2 Pébruari 2008 by Ki Santri
Oleh JAKOB SUMARDJO
KEKUASAAN kurang lebih berarti kemampuan, kesanggupan, kekuatan, kewenangan untuk menentukan. Kekuasaan meliputi wilayah keluarga, kampung, negara, lembaga. Dalam pengertian kebudayaan, wilayah-wilayah kekuasaan tadi menampakkan pola-pola yang sama. Pengaturan kekuasaan dalam keluarga, dalam kampung, dalam kerajaan sama. Itulah pola kekuasaan yang menampakkan dirinya dalam berbagai hasil budaya Sunda. Namun, kebudayaan sebagai cara hidup kelompok itu berubah terus. Apa yang akan diuraikan di sini berdasarkan artefak-artefak budaya yang sudah ada, jadi agak kesejarahan, dalam arti “telah terjadi”. Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Politik | Leave a Comment »
Posted on Saptu, 2 Pébruari 2008 by Ki Santri
Oleh SETIA GUMILAR
SEBAGAI dampak diberlakukannya konsep sentralisme pada masa Orde Baru hampir seluruh tatanan sosial mengalami persoalan yang sangat mengkhawatirkan. Dari segi budaya, kita merasakan adanya pemberangusan nilai-nilai budaya lokal yang semestinya merupakan fondasi bagi bangsa yang majemuk keberadaannya di dalam berinteraksi dengan nilai-nilai yang masuk melalui proses modernisasi dan globalisasi. Akibatnya, nilai-nilai budaya lokal kian tenggelam dimakan oleh budaya asing sebagai konsekuensi adanya upaya pemulihan kestabilan negara dengan menjadikan modernisasi sebagai ujung tombak pembangunan pada masa peralihan dari Orla ke Orba. Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Politik | 2 Pairan »
Posted on Saptu, 2 Pébruari 2008 by Ki Santri
Oleh MOEFLICH HASBULLAH
BERBICARA tentang kekuasaan, terutama dalam perspektif Sunda, ada dua hal berbeda yang perlu dibahas: tradisi kekuasaan dan tradisi berkuasa dari sebuah etnis atas suku-suku atau kerajaan lain dalam sejarah politik Nusantara. Yang pertama, yaitu tradisi kekuasaan, dapat dipastikan ada dalam setiap kelompok masyarakat. Di mana masyarakat manusia berkumpul dan hidup bermasyarakat, dapat dipastikan, di situ terdapat seperangkat instrumen dan struktur kekuasaan serta sekelompok kecil elit penguasa yang memimpin, mengatur dan seringkali menjadi penentu arah hidup publik. Sejak dikenal lewat catatan sejarah, diketahui bahwa masyarakat Sunda mengenal tradisi kekuasaan. Tradisi kekuasaan di Nusantara dalam era klasik dalam wujud konkritnya terlihat dari hadirnya institusi politik seperti kerajaan (masa pra-Islam) dan kesultanan (masa pengaruh Islam), atau negara dan partai politik dalam era modern. Baca jembarna »
Diberkaskeun dina: Politik | 2 Pairan »