Budaya Kekuasaan Sunda; Perspektif Demokrasi

 Oleh RULLY INDRAWAN

MENULIS sebuah risalah dengan karakteristik ilmiah untuk judul di atas, jelas bukan pekerjaan mudah. Namun dengan berbagai pertimbangan, sekedar beropini, menulis mengenai hal tersebut tampaknya tidak ada salahnya. Sebagai elemen pendukung budaya Sunda memang seharusnya merasa terpanggil untuk concern  terhadap dinamika dan problematika budaya tatali karuhun ini. Baca jembarna »

Budaya Kekuasaan Sunda; Analisis Historis

Oleh A. SOBARNA HARDJASAPUTRA

KEKUASAAN termasuk aspek politik yang banyak dibahas dan dipermasalahkan oleh para ahli dengan pandangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, konsep kekuasaan pun bermacam-macam. Namun demikian, dalam konsep kekuasaan yang bermacam-macam itu terlihat adanya dasar pendapat yang sama, yaitu bahwa kekuasaan adalah kemampuan satu pihak (subjek kekuasaan) untuk mempengaruhi pihak lain (objek kekuasaan), sehingga pihak lain bertindak sesuai dengan kehendak dan tujuan subjek kekuasaan (pemegang kekuasaan). Baca jembarna »

Kiai Haji Abdul Halim

(1887 – 1962)

Abdul Halim, KH. (Desa Cibolerang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, 4 Syawal 1304/26 Juni 1887-Desa Pasirayu, Kecamatan Sukahaji, Majalengka, 1381 H/1962 M). Ulama besar dan tokoh pembaharuan di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan kemasyarakatan, yang memiliki corak khas di masanya. Nama aslinya adalah Otong Syatori. Kemudian setelah menunaikan ibadah haji ia berganti nama menjadi Abdul Halim. Ayahnya bernama KH. Muhammad Iskandar, penghulu Kewedanan Jatiwangi, dan ibunya Hajjah Siti Mutmainah binti Imam Safari. Abdul Halim adalah anak terakhir dari delapan bersaudara. Ia menikah dengan Siti Murbiyah, putri KH. Mohammad Ilyas, pejabat Hoofd Penghulu Landraad Majalengka (sebanding dengan kepala Kandepag Kapubaten sekarang). Baca jembarna »

Kiai Haji Abdullah bin Nuh

(1905-1987)

Kiai Haji Abdullah bin Nuh (Cianjur, Jawa Barat, 30 Juni 1905-Bogor, 26 Oktober 1987) adalah seorang ulama terkenal, sastrawan, penulis, pendidik, dan pejuang. Sejak kecil Abdullah bin Nuh memperoleh pendidikan agama Islam dari ayahnya, KH. Raden Nuh, seorang ulama di kota Cianjur. Di samping itu, ia masuk sekolah I’anat at-Thalib al-Miskin yang didirikan oleh ayahnya. Dengan pendidikan tersebut ia mampu berbicara dalam bahasa Arab. Pada usia yang relatif muda ia sudah menghafal kitab Nahwu Alfiah (nahwu/tata bahasa berbait seribu) di luar kepala. ia juga mempelajari sendiri bahasa Inggris. Baca jembarna »

Kiai Haji Zaenal Mustofa

(1899 – 1944)

Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten tasikmalaya Baca jembarna »

Kiai Haji Ahmad Sanusi

(1888-1950)

Ahmad Sanusi (Sukabumi, Jawa Barat, 1888-Sukabumi, 1950) adalah tokoh Partai Sarekat Islam (SI) dan pendiri al-Ittihadiat al-Islamiyah. Ayahnya, Haji Abdurrahman, adalah tokoh masyarakat dan pengasuh pesantren di desanya. Ahmad Sanusi memperoleh pelajaran agama dari orang tuanya sampai ia berusia lima belas tahun. Setelah dewasa ia lalu belajar ke beberapa pondok pesantren di Jawa Barat selama kurang lebih enam tahun. Baca jembarna »

Haji Hasan Mustapa

(1852-1930)

Haji Hasan Mustafa (Garut, Jawa Barat, 1268 H/3 Juni 1852 M – Bandung, 1348 H/13 Januari 1930) adalah seorang ulama dan pujangga Islam yang banyak menulis masalah agama dan tasawuf dalam bentuk guritan (pusisi yang berirama dalam bahasa Sunda), pernah menjadi kepala penghulu di Aceh pada zaman Hindia Belanda. Baca jembarna »

Peran Sunan Gunung Djati dalam Dakwah dan Sosial Budaya

Oleh DADAN WILDAN

DALAM kosmologi Jawa, seperti halnya banyak kosmologi Asia Tenggara lainnya, menurut van Bruinessen (1999:42), pusat-pusat kosmis, titik temu antara dunia fana dengan alam supranatural, memainkan peranan sentral. Kuburan para leluhur, gunung, gua, dan hutan tertentu serta tempat “angker” lainnya tidak hanya diziarahi sebagai “ibadah” saja tetapi juga dikunjungi untuk mencari ilmu (ngelmu) alias mencari kesaktian dan legitimasi politik. Baca jembarna »

Islamisasi di Betawi

Oleh ALWI SHAHAB

DALAM diskusi ‘kecil’ di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) awal pekan ini (Januari 2002 –Ki Santri), banyak dipertanyakan sejak kapan penduduk Betawi (Jakarta) memeluk agama Islam. Apakah proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya baru terjadi sejak Falatihan, panglima Kerajaan Islam Demak menaklukkan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Pendapat ini dibantah keras budayawan Betawi, Drs Ridwan Saidi. Menurut dia, proses Islamisasi Baca jembarna »

Syarif Hidayatullah dalam Perspektif Kewalian

Oleh IKYAN SIBAWAIH

PERLU ditegaskan bahwa penulis mengasumsikan bahwa Syeikh Syarif Hidayatullah dan Sunan Gunung Djati merupakan orang yang sama. Dengan kata lain, salah satu nama lain dari Syeikh Syarif Hidayatullah adalah Sunan Gunung Djati. Hal ini perlu ditegaskan untuk menghindari kesamaran dalam tulisan ini, sekalipun hal ini mengabaikan polemik berkepanjangan tentang identitas siapa sebenarnya Syarif Hidayatullah dan Sunan Gunung Djati. Baca jembarna »