Al-Arabiyyah dan Bahasa Sunda; Ideologi Penerjemahan dan Penafsiran Kaum Muslim di Jawa Barat

Oleh BENYAMIN G. ZIMMER

Bismillâhirrahmânirrahîm. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Saya membuka tulisan ini dengan dua ucapan bahasa Arab yang disebut basmalah dan salam. Ucapan-ucapan ini sudah menjadi formula pembukaan untuk segala macam ceramah dan pidato seluruh kaum muslim di Indonesia. Apa yang terjadi ketika kalimat-kalimat ini diucapkan? Dari satu segi, saya menunjukkan bahwa tulisan yang saya berikan ini demi nama Allah subhânahu wa ta’ala, lalu saya menyampaikan seruan berdamai kepada para pendengar yang saya hormati.

Namun tulisan ini disampaikan dalam bahasa Indonesia; mengapa formula pembukaan ini tidak saya ucapkan dengan kata-kata yang tepat dalam bahasa Indoneisa saja? Atau seandainya ceramah ini dalam bahasa Sunda, mengapa ucapan bahasa Sunda tidak dipakai untuk pembukaan? Formula bahasa Arab ini, selain dipakai untuk memohon rahmat Allah, juga dipakai untuk mencari kesakralan bahasa Arab itu sendiri, khususnya bahasa Arab klasik dari al-Qur’an, yang disebut dalam bahasa Arab sebagai al-lugha al-‘arabiyyah al-fusha (bahasa Arab yang indah kedengarannya) atau singkatnya al-fusha. Kalau bismillah atau salam diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahasa Sunda, atau bahasa apa pun, berarti memperlemah kesakralan kata-kata yang diwahyukan kepada Nabi saw.

Ketika saya mulai mempelajari agama Islam (sambil mempelajari bahasa Sunda) di Bandung lima tahun yang lalu (1995), saya sangat terkesan pada pentingnya bahasa Arab al-Qur’an untuk kaum muslin di tanah Sunda ini. Walaupun al-Qur’an itu sudah diterjemahkan beberapa kali ke dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia, bahasa Arab yang tidak diterjemahkan digunakan di mana-mana dalam konteks agama di sini -dalam azan, ngaji, salat, do’a, zikir, dan kalimat-kalimat seperti basmalah dan salam yang tadi. Dalam konteks-konteks ibadah ini, pengunaan terjemahan bahasa Sunda atau bahasa Indonesia dengan jelas tidak mencukupi, karena bahasa al-Qur’an itu bukan hanya tidak diterjemahkan melainkan pada intinya tidak dapat diterjemahkan.

Prinsip dasar ini, bahwa bahasa al-Qur’an tidak dapat diterjemahkan, dapat diterima oleh seluruh kaum muslim di dunia, yang sebagian besar bahasa ibunya bukan bahasa Arab. Baik di Indonesia maupun di Asia Selatan, di Iran, di Turki, di Afrika Barat, maupun di Amerika Serikat, orang Islam yang non-Arab belajar membaca, menghafal, dan mengaji dalam bahasa yang bukan bahasa ibunya. Setahu saya, ini merupakan satu keunikan agama Islam jika dibandingkan dengan agama-agama besar di dunia; dalam agama Kristen, misalnya, bahasa Ibrani dan Aramaik yang asli dipakai dalam kitabnya sudah lama ditinggalkan dan diganti dengan bahasa Yunani, bahasa Latin, bahasa Inggris, dan ratusan bahasa lain. Lebih dari empat belas abad setelah wafatnya Nabi Muhammad, bahasa al-Qur’an yang diwahyukan itu tetap hidup dalam ibadah-ibadah orang Islam, yang berjumlah satu miliyar di seluruh dunia.

Hal yang memang ajaib ini mempunyai signifikansi yang sangat mendalam untuk ahli antropologi linguistik yang meneliti wacana dalam komunitas Islam yang non-Arab. Ketika bahasa al-Qur’an diperkenalkan di tempat baru, bahasa itu selalu bersentuhan dengan ide-ide lokal tentang bentuk dan fungsi bahasa. Antropologi linguistik menyebut norma-norma yang awam ini dengan language ideologies (ideologi-ideologi bahasa), dan studi etnografis dari seluruh dunia membuktikan Keanekaragaman ideologi-ideologi ini yang nampaknya layak dan biasa. Pemakaian istilah ideologi  di sini perlu dijelaskan sedikit. Istilah ini memang bisa berbahaya dalam ilmu sosial karena mempunyai konotasi yang bermacam-macam. Misalnya, ideologi sering terkait dengan pemikiran Karl Marx, yang menganggap ideologi sebagai “topeng” yang menyembunyikan fakta-fakta riil. Menurut Marx, tugas ilmuwan sosial adalah membukakan topeng ini (demytification) untuk membongkar yang nyata. Pemakaian ideologi di sini agak lain. Ideologi bahasa itu bukan topeng, karena tidak ada bahasa tanpa ideologi, ideologi bahasa “selalu sudah” (always already) ada di manapun bahasa dipakai. Tugas antropolog linguistik bukan “membuka topeng” melainkan meneliti bagaimana ideologi-ideologi lokal ini dapat diekspresikan dalam wacana sehari-hari.

Ideologi bahasa sering berupa fakta linguistik yang sangat alami, bahkan abadi dan universal, tetapi ternyata selalu bergantung kepada konteks tertentu,  yaitu konteks kultural, historis, dan sosio-politik. Kadang-kadang ideologi-ideologi bahasa yang berbeda bisa berinteraksi dan bersaing dalam komunitas linguistik yang sama. Interaksi antara ideologi ini bisa dilihat dalam kasus penggunaan bahasa Arab al-Qur’an di seluruh kaum muslim, ideologi bahasa lokal menghadapi ideologi yang sangat kuat yang terkait dengan penggunaan bahasa Arab dalam konteks agama. Fenomena ini sering terjadi dalam wacana penerjemahan dan penafsiran. Dalam wacana tersebut partisipan-partisipan membahas apakah satu sistem linguistik bisa ‘memasuki” sistem linguistik yang lain atau tidak. Dalam makalah ini dibicarakan ideologi-ideologi bahasa yang berlaku ketika orang Sunda yang beragama Islam mambaca, mengaji, menerjemahkan dan menafsirkan bahasa Arab al-Qur’an. Menurut pendapat saya, semacam lokalisasi yang memasukkan bahasa Arab “ke dalam” bahasa Sunda dan memasukkan bahasa Sunda “ke dalam” bahasa Arab; akibatnya, dua bahasa ini saling menerangi (interilluminating).

Ideologi “Diglosia” Dalam Bahasa Arab

BAHASA Arab al-Qur’an bukan bahasa Arab yang biasa-biasa. Sudah berabad-abad, sejak wahyu Nabi Muhammad, ahli ilmu agama dan ahli ilmu bahasa meningkatkan bahasa al-Qur’an sebagai acuan untuk bahasa tulis yang “klasik” dan “baku”, yang disebut al-fusha atau dengan sederhana al-lugha, “bahasa”. Dalam banyak komunitas Arab tradisional, biasanya hanya suatu kelompok (ulama) yang terbatas saja yang mampu berbahasa al-fusha, sedangkan orang awam biasanya hanya menguasai ragam-ragam bahasa Arab lisan sehari-hari, yang disebut dengan al’ammiya, al-darija, atau lahaja. Bahasa Arab al-fusha memiliki kewibawaan dari al-Qur’an. Oleh karena itu, al-fusha diduga memerlukan pengetahuan tata bahasa yang istimewa, sedangkan ragam-ragam bahasa Arab lisan diduga tidak mempunyai tata bahasa, atau bahkan bukan termasuk bahasa sama sekali. Hubungan hirarkis antara al-fusha dengan al-‘ammiya dilestarikan dalam masyarakat Arab dengan sistem pendidikan madrasah. Dalam sistem pendidikan ini murid-murid diajari adab, yang menghubungkan budi bahasa dan tata bahasa sebagai mata pelajaran.

Dikotomi linguistik antara al-fusha dan al-‘ammiyya telah digambarkan secara kanonis oleh sosiolinguis Amerika, Charles Ferguson, dengan istilah “diglosia”. Dalam kasus diglosia, suatu ragam bahasa tulis yang bergengsi tinggi (yaitu varian H) ditempatkan di atas ragam-ragam bahasa lisan atau sehari-hari (yaitu varian-varian L). H dan L, menurut Ferguson, dibagi dengan ketat menurut konteks penggunaan yang sesuai. Varian H sering dilukiskan sebagai ragam yang lebih indah, lebih logis, dan lebih mampu mengekspresikan pikiran-pikiran yang penting. Varian H dianggap abadi dan tetap, sedangkan varian-varian L dianggap berubah-rubah dan sulit dikendalikan. Mengenai bahasa Arab, dikotomi diglosia antara H dan L didukung oleh otoritas tekstual al-Qur’an yang sangat kuat sebegai kitab suci.

Beberapa antropolog linguistik pernah mengkritik paradigma diglosia ini dengan berbagai alasan. Dalam praktiknya ternyata dalam bahasa Arab tidak begitu gampang memisahkan suatu varian H yang selalu berbeda fungsinya dari ragam-ragam bahasa yang lain. Semacam ‘daftar’ kontek-konteks varian H dan L sulit sekali disesuaikan dengan penggunaan yang nyata. Daripada memikirkan diglosia sebagai gambaran penggunaan bahasa Arab yang nyata, lebih berguna menganggap diglosia sebagai gambaran kepercayaan lokal terhadap bagaimana bahasa Arab seharusnya digunakan, dengan kata lain sebagai deologi bahasa. Hierarki H-L, yaitu al-fusha di atas al-‘ammiyya, telah mengembangkan wibawa ideologis yang sangat besar, wibawa yang diperkuat setiap kali bahasa Arab al-Qur’an digunakan sebagai bahasa suci.

Ketika ajaran-ajaran Islam disebarluaskan ke penduduk Asia, Afrika, dan Eropa yang tidak dapat berbahasa Arab, ideologi ‘H’ yang memperkuat al-fusha itu ikut disebarkan, padahal orang-orang yang baru masuk Islam ini biasanya tidak bisa berbicara varian-varian bahasa Arab lisan. Malah bahasa-bahasa daerah mengambil posisi ‘L’ secara struktural, dengan bahasa Arab al-Qur’an ditempatkan sebagai bahasa yang abadi dan sakral. Bahasa-bahasa daerah diletakkan di bawah bahasa Arab karena dianggap tidak dapat mengekspresikan kebenaran-kebenaran al-Qur’an yang suci. Dengan demikian, prinsip bahwa al-Qur’an tidak dapat diterjemahkan, pertama kalinya dikembangkan bersamaan perluasan Islam ke daerah-daerah non-Arab.

Bahkan di Asia Tenggara, karena kuatnya madzhab Syafi’iyah, prinsip ini menjadi lebih kuat lagi. Menurut madzhab Syafi’iyah, proses penerjemahan al-Qur’an menghasilkan karya yang bukan lagi al-Qur’an; oleh karena itu, istilah tafsir sering lebih disukai dari pada istilah terjemahan untuk karya yang mengartikan al-Qur’an yang lebih halus lagi, di dasarkan ilmu pengetahuan dari Timur Tengah, antara terjemahan harfiyah, terjemah tafsiriyah, tafsir, dan ta’wil. Dalam tulisan ini dipergunakan istilah tafsir dengan makna yang luas untuk karya apapun yang mengartikan al-Qur’an dalam bahasa lain, karena untuk banyak orang Indoneisa terjemahan al-Qur’an, bagaimana pun harfiyah atau letterlijk, selalu mengundang penafsiran-penafsiran di penulis.

Masuknya Bahasa Arab Ke Pulau Jawa

KETIKA bahasa Arab al-Qur’an diperkenalkan kepada bahasa-bahasa besar di pulau Jawa (yaitu bahasa Sunda, Jawa, dan Madura), bahasa Arab itu bukan bahasa Arab pertama yang datang ke Jawa diperkuat oleh ideologi ‘diglosia’. Berabad-abad bahasa Sansakerta memenuhi peran itu. Sejak milenium pertama Masehi, ketika pengaruh India pertama terasa di Jawa, bahasa Sansakerta dihargai sebagai bahasa tulis yang elit, padahal bahasa itu tidak pernah dipakai untuk komunikasi sehari-hari. Pengetahuan Sansakerta diperkenalkan melalui jalur-jalur pendidikan oleh golongan terdidik yang terdiri dari bujangga dan ilmu agama. Dengan demikian bahasa Sansakerta menjadi petunjuk peradaban dan kehalusan di budaya keraton di Jawa. Bahasa Sansakerta dianggap ragam yang menunjukkan bahwa si pembicara atau si penulis terdidik dengan baik dari ajaran dari luar negeri. Menurut Zoetmulder (1994:14), “Memakai kata-kata Sansakerta sering mungkin merupakan suatu mode, tanda bahwa seorang tidak ketinggalan zaman, mampu menerima pengaruh dari suatu kebudayaan yang lebih tinggi; dengan demikian ia manambah status dan gengsinya.”

Kekuasaan bahasa Sansakerta yang asing dan aneh di Jawa ini lalu ditiru oleh bahasa-bahasa daerah. Istilah basa atau bahasa berasal dari kata Sansakerta, bhasa; untuk orang yang beragama Hindu-Budha pada zaman dahulu, yang disebut ‘ba(ha)sa’ harus mirip bahasa Sansakerta. Basa Sunda sebagai ‘basa’ dianggap mencerminkan kebenaran dan kebijaksanaan hanya karena banyak mengacu pada bahasa Sansakerta. Bahkan setelah jatuhnya kerajaan-kerajaan Hindu yang besar, seperti Majapahit dan Pajajaran; bahasa Sansakerta masih dianggap sebagai acuan untuk ilmu pengetahuan linguistik. Bahasa Sunda, seperti juga bahasa Jawa dan bahasa Bali, melestarikan ragam yang didasarkan pada bahasa Sansalerta, yang disebut Kawi.

Sampai sekarang ragam Kawi Sunda masih dilestarikan sebagai sumber wibawa linguistik dalam pertunjukan wayang golek. Selain ragam kawi ini, kata-kata Sansakerta juga memasuki percakapan bahasa Sunda sehari-hari, terutama melalui penciptaan ragam lisan yang ‘halus’. Sistem tingkat-tingkat bahasa Sunda (undak usuk basa) dikembangkan pada puncak zaman impreialisme bahasa Jawa pada bad ke-17 dan ke-18, ketika kerajaan Mataram memperluas wilayahnya ke daerah Sunda, khususnya daerah Priangan. Menak Priangan dikirimkan setiap tahun ke keraton Mataram untuk menerima perintah dan menyebarkan basa lemes. Seperti dalam bahasa Jawa, bahasa Madura, dan bahasa Bali, kosa kata halus ini pada umumnya terdiri dari kata-kata yang berasal dari Sansakerta atau terbentuk secara analogis dengan kata Sansakerta. Demikianlah penggunaan kata-kata Sansakerta menjadi petunjuk tingkah laku berbahasa yang halus.

Seperti bahasa Sansakerta, pada awal masuknya ke Jawa bahasa Arab sudah ditinggikan oleh ideologi ‘H’ sebagai bahasa indah dan abadi, suatu wahana untuk menyampaikan kebijaksanaan agama dan ilmu pengetahuan. Juga seperti bahasa Sansakerta, bahasa Arab pada umumnya tidak pernah digunakan di pulau Jawa untuk komunikasi sehari-hari, bahkan disebarkan melalui jalur-jalur pendidikan. Apalagi, bahasa Arab juga dilokalisasi dalam leksikon bahasa-bahasa daerah yang menerima ribuan kata pinjaman dari bahasa Arab. Sebagian besar kata pinjaman ini masih berkonotasi agama Islam. Di samping itu banyak pula yang mengalami perluasan makna. Orang Kristen di Jawa, misalnya, sering memakai istilah Arab seperti ‘iman’, ‘takwa’, ‘kitab’, bahkan ‘Allah.’ Namun kata-kata ini masih dianggap ‘berbau Islam,’ seperti dibuktikan di Kongres Partai Amanat Nasional pada Februari 2000. Satu kelompok di PAN ingin mengubah landasan partai dengan memasukkan kata ‘iman’ dan ‘takwa’, tetapi pemimpin partai merasa bahwa istilah-istilah itu menunjukkan eksklusivisme agama.

Banyaknya kata pinjaman bahasa Arab yang dilokalisasi dalam bahasa yang menganggap bahwa kata-kata al-Qur’an diwahyukan dan tidak dapat diterjemahkan. Akan tetapi, penyebaran bahasa Arab al-Qur’an di Jawa melalui pendidikan pesantren sering digambarkan sebagai penghafalan tanpa berpikir. Dalam satu surat, R.A. Kartini pernah menulis, “Karena al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke bahasa mana pun. Di sini tiada seorang pun tahu bahasa Arab. Orang di sini diajarkan membaca al-Qur’an, tetapi yang dibacanya tiada yang ia mengerti” (Suryanegara, 1995:182). Demikian pula, menurut Clifford Geertz banyak santri di Jawa “dengan keterampilan tinggi mempelajari pengajian bahasa Indah yang sama sekali tidak mereka pahami” (Geertz, 1976 [1960]:82). Dengan nada yang sama, Benedict Anderson pernah menulis bahwa penghafalan bahasa Arab adalah “tanda pertahanan Jawa melawan budaya Arab dan sebagai bentuk akhir penaklukan Jawa terhadap infiltrasi asing ini”.

Penjinakan Islam dan Arab oleh impuls-impuls budaya Jawa dilakukan melalui penjelmaan al-Qur’an ke dalam bentuk buku teks hermeneutik yang penuh dengan hal-hal yang membingungkan dan serba paradoks. Bahasa Arab dipelihara sebagai bahasa ‘penobatan’,  persisnya lantaran bahasa Arab tidak dimengerti. Islam telah melarang penggunaan lebih lanjut mantra Shiwa dan Tantra; Lalu Jawa menjawabnya dengan mengubah al-Qur’an menjadi sebuah buku mantra (Anderson, 1996:128).

Saya sangat tidak setuju dengan pendapat Anderson bahwa “Jawa” menjawab “infiltrasi asing” bahasa Arab dengan “mengubah Al-Qur’an menjadi sebuah buku mantra.” Pertama, dia mengabaikan bahwa sifat mistis dan samar dalam al-Qur’an mungkin juga berasal dari tradisi-tradisi tasawuf dari Persia dan India Selatan. Kedua, dia menciptakan dikotomi palsu antara tradisi Sansakerta yang ‘sah’ dan tradisi Arab yang ‘tidak sah’. Namun saya memang setuju dalam satu hal dari argumen Anderson, yaitu orang Muslim di Jawa secara paradoksal ‘menjinakkan’ bahasa Arab dengan ‘menjauhkan’ bahasa Arab, karena prinsip bahwa bahasa Arab tidak dapat diterjemahkan. Akan tetapi, prinsip ini tidak berarti bahwa bahasa Arab di Jawa hanya merupakan ‘bunyi tanpa makna’. Walaupun tidak ada penerjemah langsung, lokalisasi penafsiran bahasa Arab menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, yang ingin saya bahasa dalam kasus ‘Islam-Sunda’. Sejauh mana penafsiran bahasa Arab membiarkan bahasa al-Qur’an menjadi ‘dijinakkan’, dan sejauh mana bahasa al-Qur’an ‘dijauhkan”? Bagaimana metode-metode interpretasi digunakan untuk menjelaskan al-Qur’an kata demi kata, kalimat demi kalimat, ayat demi ayat? Dan bagaimana metode interpretasi Sunda memasukkan al-‘arabiyyah ke dalam basa Sunda dan basa Sunda ke dalam al-‘Arabiyyah?

Sundanisasi Al-Qur’an

SEKARANG saya ingin menyampaikan sejarah singkat ‘Sundanisasi” al-Qur’an. Berbeda dari tradisi penerjemahan al-Qur’an dalam bahasa Melayu yang mulai dengan terjemahan al-Raniri pada abad ke-17, terjemahan atau tafsir dalam bahasa Sunda baru muncul pada abad ke-20. Memang di Indonesia penerjemahan dan penafsiran al-Qur’an tidak begitu luas dalam bahasa daerah apapun sebelum abad ke-20, mungkin karena kuatnya madzhab Syafi’iyyah dan juga karena peraturan kolonial yang melarang penerbitan buku-buku Islam. Namun dengan kasus bahasa Sunda, situasi ini dipersulit lagi karena pada abad ke-18 dan ke-19 bahasa Sunda jarang dipakai sebagai bahasa tulis oleh elit terdidik, yang sebagian besar cenderung menulis dalam bahasa Jawa, bahkan bahasa Belanda atau bahasa Melayu. Baru  pada pertengahan abad ke-19 ada percetakan karya-karya bahasa Sunda dengan huruf Latin, di dorong oleh penasihat pemerintah kolonial Karel Holle.

Akan tetapi, pada masa itu juga terjemahan al-Qur’an berbahasa Sunda belum muncul. Hal ini bukan berarti tidak ada sarjana-sarjana Sunda yang cukup terpelajar dalam bahasa Arab al-Qur’an dari pendidikan pesantren. Rupanya, setelah abad-abad dominasi budaya oleh kekuasaan Jawa lalu kekuasaan Belanda, bahasa Sunda terasa kurang cocok sebagai wahana untuk bahasa al-Qur’an. Bahasa Sunda pada waktu itu masih tetap di posisi ‘L’ dalam paradigma diglosia, belum dianggap pantas untuk mengekspresikan pikiran yang mendalam. Sebagai contoh, waktu Karel Holle menceritakan kepada seorang bupati Sunda bahwa ada sajak-sajak yang ditulis dalam bahasa Sunda oleh seorang penghulu, si bupati menjawab, “Musatahil! Sunda itu bukan bahasa!”.

Sundanisasi al-Qur’an barangkali mulai dengan karya Haji Hasan Moestapa, sastrawan Sunda dan ahli tasawuf yang tinggal bertahun-tahun di Mekkah dan pernah memberi ceramah di Mesjid al-Haram mengenai penafsiran al-Qur’an. Namun dia pun tidak pernah menulis tafsir yang lengkap, hanya ayat-ayat terpilih. Sekitar tahun 1920, Haji hasan Moestapa memilih 105 ayat yang dianggap relevan untuk hidup orang Sunda, lalu diterjemahkan dalam bentuk dangding. Dalam kata pengantarnya, dia memberi nasihat dengan gaya tulis yang samar:

Jeung tangtu aya nu nanyakeun: ieu pakeeun iraha? Jawabna: Tibabaheula ngaula ka indung-bapa dijangjian: Jaga mah geus baleg, maneh kudu babalik pikir. Umur sabaraha nurutkeun Rosululloh dijasmanikeun cara jelema sakeun rasiah agama. Baheula ku basa Sunda akhirna ku basa Arab; jadi kaula nyundakeun Arab nguyang ka Arab, ngarabkeun Sunda tina bahasa Arab (Rosidi, 1989:394).

Mulai pada tahun 1920-an sastrawan Sunda yang lain mengikuti saran Haji Hasan Moetapa untuk “nyundakeun Arab” dan “ngarabkeun Sunda”. Pada tahun 1926, D.K. Ardiwinata mengusulkan agar bahasa pengantar di sekolah-sekolah agama di Pasundan seharusnya tidak hanya bahasa Arab tetapi juga bahasa Sunda. Pada masa itu pedagogi pesantren mulai diperiksa kembali, rupanya dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam yang ‘reformis”. Kaum reformis lebih memperjuangkan ijtihad al-Qur’an secara individu, daripada menggunakan teks-teks pengantara yang diwarisi generasi-generasi dahulu. Misalnya, menurut penasihat pemerintah kolonial G.F. Pijper, khotbah Jum’at baru menggunakan bahasa daerah pada tahun 1920-an; sebelumnya di seluruh Hindia Belanda khotbah Jum’at dan lainnya hanya menggunakan bahasa Arab. Di daerah Pasundan perubahan ini agak lambat dibandingkan dengan di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, tetapi pada 1982 sudah 70 persen masjid di Jawa Barat menggunakan bahasa Sunda untuk khotbahnya. Ada beberapa indikasi bahwa khotbah yang berbahasa Arab sekarang berbangkit lagi di desa-desa Sunda yang ketat dengan ajaran Ahlus Sunnah waljama’ah.

Satu perubahan ‘Sundanisasi” yang lain adalah penggunaan tafsir-tafsir pesantren Sunda. Menurut beberapa sumber, pada abad ke-19 pesantren-pesantren seluruh Pasundan memakai tafsir Jawa sebagai teks pengantar antara bahasa Arab al-Qur’an dan bahasa ibu para santri, yaitu bahasa Sunda. Penggunaan tafsir Jawa bisa dipertalikan dengan adanya Cirebon sebagai pusat pertama untuk pendidikan Islam di Jawa Barat. Penyebaran ajaran-ajaran Islam dari Cirebon ke daerah Sunda sangat jelas dari ‘logat Jawa’ yang digunakan untuk menghafalkan tafsir Jawa, yaitu dialek Jawa Cirebon. Sepanjang abad ini, kebanyakan pesantren di Priangan (misalnya di Tasikmalaya dan Garut) mengganti bahasa pengantarnya dari bahasa Jawa ke bahasa Sunda, tetapi masih banyak pesantren Sunda di daerah utara (Bogor-Karawang-Cirebon) yang tetap menggunakan tafsir Jawa.

Penggunaan tafsir Jawa di Pesantren Sunda mungkin merupakan salah satu alasan lambatnya Sundanisasi al-Qur’an pada abad ke-20. Meskipun Haji Hasan Moestapa menerjemahkan ayat-ayat terpilih sekitar pada tahun 1920, terjemahan atau tafsir lengkap baru muncul pada tahun 1940-an. Seorang menak yang terkenal, Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakoesoemah V, menulis tafsir Surat Al-Baqarah dalam bentuk dangding, sedangkan Ahmad Sanusi (pendiri Pesantren Gunung Puyuh di Sukabumi) dan K.H. Muhammad Ramli mengeluarkan tafsir Sunda yang lengkap. Namun tafsir Sunda tidak disebarkan secara luas sampai tahun 1970-an. Penerbit al-Ma’arif mencetakkan tafsir Ramli dengan judul Al-Kitabul Mubin: Tafsir Basa Sunda, sedangkan CV Diponegoro menerbitkan Al-Amin Al-Qur’an Tarjamah Sunda olah K.H.Q. Saleh dkk. Sejak tahun 1970-an beberapa tafsir yang lain sudah muncul, termasuk satu di antaranya karya penyair Sayudi dan satu lagi karya Moh. E. Hashim dengan judul Ayat Suci Lenyepaneun dalam 30 Jilid.

Tafsir Sunda baru yang barangkali paling unik adalah yang disusun oleh R. Hidayat Suryalaga. Pada tahun 1994, Hidayat menerbitkan tafsir juz 1, 2, 3, dan 30, lalu menerjemahkan juz-juz yang lain, dengan judul Saritilawah Basa Sunda. Seperti Haji Hasan Moestapa dan R.A.A. Wiranatakoesoemah V, Hidayat menggunakan bentuk dangding untuk tafsirnya. Uniknya, Karya Hidayat ditulis khusus untuk dipertunjukkan dengan musik tembang Sunda. Ketika diterbitkan Saritilawah Basa Sunda dilengkapi dengan kaset-kaset tembang Sunda. Di samping itu ayat-ayatnya juga dipertunjukkan oleh seniman Sunda dalam siaran Ramadhan TVRI Bandung pada bulan Ramadhan tahun 2000.

Yang cukup mengherankan adalah Saritilawah Basa Sunda tersebut tidak menimbulkan kontroversi sedikit pun ketika penerbitan buku atau siaran pertunjukkan itu. Sebagai perbandingan, pada tahun 1978 ketika sastrawan dan kritikus H.B. Jassin menerbitkan tafsir al-Qur’an yang puitis dengan judul Al-Qur’an Bacaan Mulis, reaksi dari Departemen Agama dan MUI cukup keras, sehingga mereka menolak memberi izinnya sampai tafsir itu diperiksa oleh tim ahli al-Qur’an. Begitu pula pada tahun 1992, Jassin ingin mnerbitkan Al-Qur’an Berwajah Puisi, versi al-Qur’an dengan kaligrafi Arab yang berbaris sajak. MUI dan Depag, karena tidak setuju dengan format cetaknya, memutuskan bahwa buku itu hanya bisa disebarluaskan untuk kalangan terbatas (padahal Jassin sudah mendapat dukungan dari 200 tokoh Islam). Memang Saritilawah Basa Sunda hanya penerbitan lokal dan tidak mungkin jadi sensasi nasional seperti karya H.B. Jassin itu, tetapi Hidayat secara hati-hati melampirkan surat keterangan dari cabang Jawa Barat MUI, ICMI, dan Depag di dalam setiap jilid yang diterbitkan.

Sangat menarik bahwa Saritilawah Basa Sunda menggunakan gaya tembang Sunda, yang berdasarkan kesenian menak Priangan khususnya Cianjur dan Bandung. Unsur tembang Sunda adalah pantun Sunda dan juga nyanyian Jawa mcapat yang diperkenalkan di Priangan pada zaman Mataram, ketika norma budaya dan bahasa Jawa atau Sansakerta masih kuat. Walaupun para menak sudah tidak lagi merupakan kelas sosial yang nyata, keseniannya masih berlaku sebagai unsur kebudayaan Sunda yang dianggap halus. Tafsir al-Qur’an yang bergaya tembang Sunda ini meniru kemuliaan bahasa Arab al-Qur’an dengan kemuliaan gaya menak yang sudah hilang. Mungkin justru karena kemuliaan menak sudah ditinggalkan pada tempo dulu, Depag dan MUI tidak menganggap Saritilawah Basa Sunda sebagai ancaman berbahaya seperti karya H.B. Jassin.

Metode Penafsiran Leksikal

SELAIN penafsiran al-Qur’an secara lengkap, interpretasi bahasa Arab bisa terjadi pada tingkat leksikal, yaitu kata demi kata. Satu metode penafsiran leksikal dalam bahasa Sunda yang pertama dikembangkan untuk menafsirkan nama dan istilah bahasa Sansakerta adalah kirata basa, metode yang menjelaskan arti kata dengan proses pemecahan bunyi kata. Kata kirata sendiri bisa dikiratakan: dikira-kira sugan nyata. Metode kirata dipakai dalam pertunjukan wayang golek untuk menjelaskan nama-nama tokoh dan kata Sansakerta yang lain, tetapi metode ini juga bisa dipakai sehari-hari, biasanya untuk humor atau nyindir. Bukan hanya kata Sansakerta yang dikiratakan oleh orang Sunda, melainkan juga kata pinjaman dari bahasa asing yang lain, termasuk bahasa Arab. Proses ini bisa terjadi secara ‘dua arah’, kemiripan antara bahasa dianggap saling menerangi (interilluminating).

Satu contoh bisa menunjukkan bagaimana interpretasi leksikal bisa saling menerangi, bukan hanya antara bahasa daerah dan bahasa Asing, tetapi juga antara dua bahasa asing seperti bahasa Sansakerta dan bahasa Arab. Menurut cerita wayang, Yudistira diberi azimat yang disebut Kalimasada. Kalimasada ini adalah buku dengan tulisan yang tidak dapat dibaca, lalu bisa berubah menjadi senjata (pusaka). Secara kebetulan nama Kalimasada sangat mirip dengan kalimah syahadat. Kemiripan ini sangat penting untuk mitos tentang bagaimana Yudistira masuk Islam. Yudistira bertemu denan Sunan Kalijaga, yang datang untuk menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijaga bisa membaca buku itu, karena ternyata tulisannya bahasa Arab. Lalu Yudistira mengulangi kalimah syahadat dan masuk agama Islam. Cerita ini bisa ditafsirkan sebagai contoh Islamisasi agama Hindu-Jawa, atau sebagai Jawanisasi agama Islam. Bagaimanapun juga, cerita ini menggambarkan bagaimana interpretasi leksikal bisa saling menerangi ideologi bahasa Sansakerta dan Arab. Baik bahasa Sansakerta maupun bahasa Arab mempunyai ideologi “H”, yaitu ideologi bahwa kata-katanya, meskipun tidak bisa diterjemahkan langsung, mengandung kunci kebijaksanaan, seperti kata-kata azimat Yudistira. Jadi kemiripan bunyi kata yang ‘kebetulan’ seperti Kalimasada-kalimah syahadat bisa jadi signifikan sebagai alat untuk saling menerangi kekuasaan bahasa-bahasa asing.

Ahli kirata seperti dalam wayang golek selalu waspada mencari kemiripan antara bahasa seperti ini. Demikianlah ahli kirata bisa menemukan bahasa Sunda dalam bahasa Arab dan bahasa Arab dalam bahasa Sunda. Satu contoh kirata adalah: korsi: cokor di sisi. Ini kirata yang humoristis, karena kata cokor (kaki) bisanya hanya dipakai untuk kaki ayam. Jelas ini bukan etimologi yang serius; ahli kirata pasti tahu bahwa kata korsi itu berasal dari bahasa Arab, karena semua orang Muslim mengetahui Ayat Kursi.

Ahli kirata juga bisa menemukan bahwa bahasa Arab tersembunyi dalam bahasa Sunda. Seorang dalam terkenal dari Karawang, R.H. Tjetjep Supriyadi, menjelaskan bahwa wayang golek adalah wahana yang cocok untuk menyebarkan ajaran Islam; buktinya, istilah-istilah wayang golek bisa disesuaikan dengan arti kata yang bernafaskan  Islam. Misalnya, kata ‘dalang’ bisa dipersamakan dengan kata bahasa Arab dalla, yadullu, dallan berarti ‘menunjukkan’, jadi peran di dalang itu memberi petunjuk.

Terkadang bahasa ketiga bisa dipakai untuk menghubungkan bahasa Sunda dan bahasa Arab. Kata ‘golek’, misalnya, diberi etimologi yang rumit. Ceritanya, pada abad ke-15 ada seorang keturunan Cina yang namanya Jimbun (konon menjadi raja Demak pertama, Raden Patah) yang sering mengelilingi Jawa dengan Sunan Kalijaga. Suatu hari mereka sempat menonton wayang golek. Jimbun tidak tahu namanya, tetapi dia menyadari bahwa kesenian ini bisa mengajarkan lima rukun Islam dan enam rukun Iman. Dalam bahasa Tionghoa, lima adalah go dan  enam adalah lak. Go tambah lak sama dengan golek.

Penafsiran bahasa Arab dalam bahasa Sunda, baik dalam terjemah al-Qur’an yang lengkap maupun penjelasan kata-kata masing-masing, bisa menginkorporasikan elemen asing yang kuat dalam sistem linguistik lokal. Namun ada paradoks: inkorporasi elemen asing ini bisa mendekatkan bahasa Arab dan bahasa Sunda, atau bisa pula menjauhkan dua bahasa ini pada waktu yang sama. Proses penafsiran bahasa Arab dalam bahasa Sunda mengingatkan si penafsir adanya jurang antara dua bahasa ini yang harus diseberangi, yaitu jurang antara H dan L yang melawan penerjemahan. Dalam tarik tambang ini antara domestifikasi dan alienasi, ideologi basa Sunda dan ideologi al-‘Arabiyyah tetap seimbang dalam ketegangan dialektis.***

Sumber: Makalah pada Forum Diskusi Reguler Dosen Fakultas Adab, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, 23 Juni 2000.

LIHAT INDEKS ARTIKEL

63 Balesan

  1. kudu namah nganggo basa sunda. sabab abdi mah teu ngarti bahasa indonesia teh..
    hapunten ue nya?

  2. saya

  3. mugia tiasa nambihan luang….

  4. With havin so much content and articles do you ever run into any issues of plagorism or copyright infringement?

    My site has a lot of unique content I’ve either written myself or outsourced but it seems a lot of it is popping it up all over the internet without my permission. Do you know any solutions to help reduce content from being stolen? I’d definitely appreciate it.

  5. pidato na make bhsa sunda

  6. I was recommended this blog by my cousin. I’m not sure whether this
    post is written by him as nobody else know such detailed about
    my problem. You are wonderful! Thanks!

  7. This is my first time pay a visit at here and i am actually happy to read
    everthing at alone place.

  8. You actually make it seem so easy with your presentation
    but I find this topic to be actually something that I think I would
    never understand. It seems too complicated and very
    broad for me. I am looking forward for your next post, I will try to
    get the hang of it!

  9. Hi there, of course this paragraph is actually pleasant and I have learned lot of things from it regarding blogging.

    thanks.

  10. Thanks to the Haitian-born Joseph Edward Gaetjens, the underdog The united states defeated Italy, the defending champion,
    one- in the initial spherical in Brazil’s town of Belho Horizonte, a place prosperous in African-Brazilian lifestyle.
    Before that match, the United States had been all but dismissed by journalists and specialists.

    Born of a Belgian father and Haitian mom, Mr. Gaetjens is referred to as
    one of the most respected gamers in the heritage of America’s soccer and the country’s biggest
    overseas-born player. As well becoming a member of the 1950 World Cup Crew,
    he performed for Brookhattan (New York) in the American Soccer League.

    E-book a “honeyteer” holiday. In 2010, CNN reported on this sort of holidays,
    in which partners decide for a honeymoon in the course of which
    they contribute to bettering the life of others. Rather of basically being visitors, the CNN piece mentioned, partners on
    these trips can “increase awareness about the daily life they will share with their companion.” UVolunteer
    offers a Costa Rica excursion in which volunteer vacationers aidan orphanage, playing with young children and teaching English.
    The children’s residence is located in San Ramon, an hour from Costa Rica’s funds and from the beach locations in a area Nationwide Geographic mentioned has “the greatest local weather in the world.”

  11. bandeng presto adalah makanan khas Indonesia yang berasal dari daerah Pati dan Semarang,
    Jawa Tengah. bandneg presto ini dibuat dari ikan bandeng (Chanos chanos) yang dibumbui dengan bawang putih,
    kunyit dan garam. Ikan bandeng ini kemudian
    dimasak pada alas daun pisang dengan cara presto.
    Presto adalah cara memasak dengan uap air yang bertekanan tinggi.
    Makanan yang dimasak dengan cara ini diletakkan dalam panci yang dapat dikunci dengan rapat.
    Air yang berada di dalam panci ini kemudian dipanaskan hingga mendidih.
    Uap air yang timbul akan memasak makanan yang berada di
    dalam panci ini. Karena ikan bandeng terkenal memiliki banyak duri,
    bandeng presto adalah makanan yang digemari karena dengan cara masak presto duri-duri ini
    menjadi sangat lunak.

    Heheh.. bangga juga sih karena saya pernah tinggal di kedua kota yang disebutkan diatas sebagai daerah asal bandeng Presto :
    Pati dan Semarang. Tiga tahun lalu saya kerja dan tinggal di Semarang.
    Sekarang saya tinggal di Pati. Istri saya orang Pati asli.

    Itulah mengapa situs ini lahir, sebagai wujud kebanggaan akan produk asli lokal sendiri :
    Bandeng Presto.

    Sistem presto membantu kita para penikmat bandeng agar bisa mengkonsumsi ikan
    ini tanpa khawatir dengan durinya. Sekarang sudah banyak varian makanan
    lain berbahan bandeng. Bandeng tanpa duri, otak-otak bandeng,
    bakso bandeng, nugget bandeng, krupuk bandeng, keripik bandeng,
    abon bandeng,… dan mungkin banyak lain yang belum saya sebutkan.

    Bandeng presto semarang memang ikan istimewa, selain enak dan bergizi, juga membawa berkah bagi banyak orang
    sumber :
    Bandeng presto duri lunak
    Bandeng presto duri lunak
    bandeng presto
    bandeng duri lunak
    bandneg presto semarang

  12. Does your website have a contact page? I’m having a tough time locating it but, I’d like to send you an
    email. I’ve got some creative ideas for your blog you might
    be interested in hearing. Either way, great website and I look forward to seeing it expand over time.

  13. Good site! I truly love how it is simple on my eyes and the data are well written.
    I’m wondering how I might be notified when a new post has been
    made. I have subscribed to your RSS which must do the
    trick! Have a great day!

  14. I think what you posted was actually very logical.
    But, what about this? suppose you typed a catchier post title?
    I ain’t saying your information isn’t good.,
    however what if you added a title to possibly get people’s attention?
    I mean Al-Arabiyyah dan Bahasa Sunda; Ideologi Penerjemahan dan Penafsiran Kaum Muslim di
    Jawa Barat | Pustaka Islam-Sunda is a little vanilla.
    You should glance at Yahoo’s front page and note how they create article titles to grab people to click.
    You might add a related video or a pic or two to get readers excited about everything’ve written.
    Just my opinion, it would make your blog a little bit more
    interesting.

  15. Incredible points. Outstanding arguments.
    Keep up the good spirit.

  16. Every weekend i used to pay a visit this site, because i want enjoyment,
    since this this site conations genuinely pleasant
    funny data too.

  17. With the group Germany has drawn for the duration of the test run for the World
    Cup draw on Friday evening, coach Joachim Loew could be satisfied.
    Fifa has launched the final ticket sales phase.
    (Image: AP) Fifa has launched the final ticket sales phase.

    Photo: AP Zurich – For the Soccer World Cup in Brazil nonetheless
    World Cup Knockout Round Format tickets for the 3 group matches of the German national team are available at the final minute sales phase.
    03.04.2014, 14:15 clock

  18. It is truly a nice and helpful piece of info. I am glad that you
    shared this useful information with us. Please stay us informed like
    this. Thanks for sharing.

  19. Wow, superb weblog layout! How long have you been running a blog
    for? you make blogging glance easy. The full look
    of your web site is fantastic, as neatly as the content material!

  20. I love it when people come together and share ideas.
    Great site, keep it up!

  21. Everything is very open with a really clear description of the challenges.
    It was truly informative. Your website is extremely helpful.
    Thanks for sharing!

  22. Thanks for ones marvelous posting! I genuinely enjoyed reading it,
    you are a great author. I will be sure to bookmark your blog and will often come back very soon. I want to
    encourage continue your great job, have a nice evening!

  23. Someone necessarily assist to make seriously articles I might state.
    This is the first time I frequented your web page and so far?
    I surprised with the research you made to make this particular put
    up incredible. Excellent process!

  24. Heya i’m for the first time here. I came across this board and I to find It really useful & it helped me out a lot.
    I am hoping to provide one thing again and aid
    others such as you aided me.

  25. You should cancel previous ones to prevent disputes. s car
    insurance company will, most likely, deny that their client is at fault and offer settlements that aren. The
    need for car accident lawyer arises in the situation when one has
    suffered major injury causing many losses.

  26. Hi there friends, how is everything, and what you desire to say about this piece of writing, in my view its really awesome
    for me.

  27. Hello, Neat post. There is a problem with your website in web explorer, could check this?
    IE nonetheless is the market chief and a big component of other
    folks will omit your magnificent writing due to this problem.

  28. I have been exploring for a little for any high-quality articles or blog posts on this kind of house .
    Exploring in Yahoo I at last stumbled upon this site. Studying this information So i’m happy to exhibit that I have an incredibly
    excellent uncanny feeling I discovered just what I needed.
    I most definitely will make certain to do not omit this website and give it a
    look on a continuing basis.

  29. Hmm is anyone else experiencing problems with the images on this blog loading?
    I’m trying to determine if its a problem on my end or if it’s the
    blog. Any suggestions would be greatly appreciated.

  30. We’re a group of volunteers and starting a new scheme in our community.
    Your site offered us with valuable information to work on. You
    have done an impressive job and our whole community will be grateful to you.

  31. Hello to every one, the contents existing at this web page are in fact amazing for people
    knowledge, well, keep up the nice work fellows.

  32. Thanks , I’ve just been searching for info about this subject for a while
    and yours is the greatest I have discovered till
    now. However, what concerning the conclusion? Are you sure about the supply?

  33. It’s an amazing paragraph in favor of all the web viewers; they will get
    benefit from it I am sure.

  34. Way cool! Some very valid points! I appreciate you writing this article plus the rest of the website is
    very good.

  35. There is definately a great deal to know about this issue.
    I love all the points you made.

  36. I do not write a lot of comments, bbut i did a few searching and wound upp here Al-Arabiyyah dan Bahasa Sunda; Ideologi Penerjemahan dan Penafsiran Kauum Muslim
    di Jawa Barat | Pustaka Islam-Sunda. And I actually do have a couple of
    questions for you if it’s allright. Is it just me orr does it lookk
    like some of the remarks appar like they are leeft by brain dead people?😛 And, if you are writing on other online sites, I’d like to
    keedp up wth anything new you hwve to post. Could you list oof the complet urls
    off alll your communmal pages like your linkedin profile, Facebook page or twitter feed?

  37. I’m gone to tell my little brother, that he should also pay a quick visit
    this website on regular basis to take updated from newest gossip.

  38. Euleuh-euleuh. Meni karunya teuing nya, eta basa Sunda bareto mah teu belul dipake pedah dicarek ku karajaan Mataram. Euleuh-euleuh, meni pikacuaeun nya karajaan Mataram teh jeung reuk ngaleungitkeun basa sunda sagala deuih nya.

  39. Hey there! Would you mind if I share your blog with my
    myspace group? There’s a lot of people that I think
    would really enjoy your content. Please let me know.
    Thanks

  40. My partner and I stumbled over here different web address and
    thought I might as well check things out. I like what I see
    so now i am following you. Look forward to finding out about your web page again.

  41. Attractive section of content. I just stumbled upon your website and in accession capital to assert that I get in fact enjoyed account your blog posts.
    Any way I will be subscribing to your feeds and even I achievement you
    access consistently fast.

  42. Hey there excellent blog! Does running a blog such as this require a massive amount work?
    I have no knowledge of programming however I was hoping to start my own blog in the near future.
    Anyhow, if you have any recommendations or techniques for new blog owners please share.
    I understand this is off subject but I just wanted to ask.

    Appreciate it!

  43. Hi i am kavin, its my first time to commenting anyplace, when i read this article
    i thought i could also create comment due to this brilliant
    paragraph.

  44. we sell craigslist phone verified accounts for $4, u can visit http://freshPVA.com for
    details. With these accounts you can post unlimitted ads on craigslist.

  45. Currently it looks like Drupal is the preferred blogging platform available
    right now. (from what I’ve read) Is that what you’re using on your blog?

  46. Also included with many of them arre a varietyy of attractive accessories.
    Overall, the device is one of the best GPS devices available on the market, and has great overall appeal.
    Retail stores or Ebay are excellent selections for selling
    back, since there is still an impressive interest in Goodgame Empire
    Hack Tool.

  47. whoah this blog is great i really like reading your articles.
    Stay up the great work! You realize, many persons are looking around for this info,
    you could aid them greatly.

  48. Verү good article. I absolutely appreciate this site.
    Sticқ with it!

  49. I started writing this series of zombie articles planning to only
    write for the month of October (2012) mainly because
    October coincides with the start of the flu season in the northern hemisphere.
    Regardless of whether you’re playing video games to reduce stress or for educational reasons, they can improve your life.

    Standing in the sweltering, wet-wool-blanket air of DFW on a Friday morning in July, I began to panic at
    the mostly empty state of my pockets.

  50. Hey I know this is off topic but I was wondering
    if you knew of any widgets I could add to my blog that
    automatically tweet my newest twitter updates. I’ve been looking for a plug-in like this for quite some time and
    was hoping maybe you would have some experience with something
    like this. Please let me know if you run into
    anything. I truly enjoy reading your blog and I look forward to your new updates.

  51. I do not even know how I ended up right here, however I assumed this publish was good.
    I do not know who you are but certainly you’re
    going to a famous blogger if you aren’t already.
    Cheers!

  52. Yesterday, whhile I waas аt work, my cousin stole mƴ apple ipad аnd tested to seе іf it can survive
    a fprty fot drop, ʝust ѕο she can be a youtube sensation. Μy iPad is noow broken and ѕhe hɑs 83
    views. I know this is togally օff topic bսt I Һad to share it wigh ѕomeone!

  53. That is a really good tip especially to those new to
    the blogosphere. Short but very accurate information… Many thanks for sharing
    this one. A must read post!

  54. Sae nya mudah2an seueur nu ngadukung

  55. Dildo, Gleitmittel, Ficken

  56. magnificent put up, very informative. I wonder why the other experts
    of this sector don’t understand this. You must continue your writing.
    I’m confident, you have a great readers’ base already!

  57. I enjoy what you guys tend to be up too. This sort of clever work and reporting!

    Keep up the fantastic works guys I’ve you guys to my personal blogroll.

  58. I think that everything published made a great deal of sense.
    However, what about this? what if you were to create a killer headline?
    I mean, I don’t wish to tell you how to run your blog,
    but what if you added something that grabbed a person’s attention? I mean Al-Arabiyyah dan Bahasa Sunda; Ideologi Penerjemahan dan Penafsiran Kaum Muslim di
    Jawa Barat | Pustaka Islam-Sunda is kinda vanilla.
    You might peek at Yahoo’s home page and note how they create article headlines to grab
    people interested. You might add a video or a picture or two to grab people
    interested about what you’ve got to say. In my opinion, it could make your posts
    a little bit more interesting.

  59. I truly enjoy reading through on this internet site , it contains great content . “Sometime they’ll give a war and nobody will come.” by Carl Sandburg.

  60. solawat

  61. malat kolbihi waena kol baha

  62. hello!,I like your writing very much! percentage we communicate more approximately your
    post on AOL? I require an expert in this house to resolve my problem.

    Maybe that’s you! Looking forward to see you.

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

%d bloggers like this: