Gerakan Kesundaan Politikkan Agama

Oleh RACHMAT ISKANDAR

Sangatlah berdosa kepada Ki Sunda jika yang mengaku jati dirinya Sunda, tapi malah mengingkari dan menistakan agama karuhun-nya sendiri, agama Sunda; seraya mengagungkan keyakinan budaya, keyakinan beragama, dan karuhun “bangsa asing” yang bukan miliknya Ki Sunda.

Sungguh terpuji jika masih ada Rawayan Sunda yang dengan tegar dan tegas mau mendeklarasikan dan mewajibkan lagi agama Sunda menjadi anutan seluruh wangsa Sunda yang merasa dirinya seuweuh siwi karuhun Sunda yang berjiwa Sunda.

Vitalitas budaya Sunda akan tumbuh subur jika orang Sundanya mau kembali kepada jati diri dan warisan budaya (culture heritage) karuhun-nya, sebagai tonggak merentang ke depan yang lebih gemilang.

KALIMAT pembuka tersebut saya kutip sepenuhnya dari leaflet yang diterbitkan secara resmi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat. Sebagai salah satu kutipan dari lembar kesimpulan makalah Anis Jatisunda berjudul “Sistem Religi dan Nilai Spiritual Ki Sunda dari Masa ke Masa”. Disampaikan dalam seminar “Napak Lacak Ki Sunda” di Bogor pada tanggal 13 Agustus 2005. Saya sendiri hadir dalam seminar tersebut atas tugas dari Kantor Budaya dan Pariwisata Kabupaten Majalengka dalam kapasitas saya sebagai peserta seminar.

Saya tidak tahu, apakah panitia seminar sengaja mengutip kalimat tersebut karena itu merupakan kesimpulan makalah, yang tentu saja disadari atau tidak, kutipan tersebut bernada legalisasi pemerintah Jawa Barat terhadap pernyataan budayawan gaek yang sangat mengenal betul seluk-beluk budaya Baduy dan sekitarnya tersebut. Atau mungkin juga bahwa hal seperti itu hanya merupakan ketidaksengajaan atau ketidaktahuan.

Namun apa pun alasannya, pengutipan tersebut pada akhirnya memiliki nada khusus pada pemahaman bahwa Disbudpar Jawa Barat atau paling tidak panitia seminar telah membantu upaya provokasi terhadap orang Sunda di mana pun berada untuk segera berpindah agama ke agama Sunda.

Mudah-mudahan kita semua bisa mendinginkan suasana batin untuk tidak terlalu cepat terprovokasi oleh keinginan pemakalah yang dikhawatirkan akan kian mempersulit upaya pemerintah Jawa Barat untuk membangun heroisme wangsa Sunda. Karena sebagian besar umat Sunda adalah umat Islam. Ujungnya, upaya tersebut dikhawatirkan akan terganjal oleh ketersinggungan umat beragama (Islam) terhadap gerakan kasundaan yang tidak ada kaitannya dengan bunyi ekstrem leaflet tersebut.

Karena sebetulnya saat seminar itu juga telah muncul protes keras dari Sdr. Elin Sumantri dan Hasan Wahyu Atmakusumah. Namun karena protes itu muncul dalam sesi diskusi yang sifatnya searah, tak ada kesimpulan apa pun atas jawaban dari Anis Jatisunda atas protes tersebut. Padahal kedua penanya tersebut tampak begitu penasaran atas jawaban Anis Jatisunda yang mengatakan bahwa sumber ajaran agama Sunda tersebut diketahuinya sekadar dari Pantun Bogor. Dia tidak tahu siapa yang membawa ajaran tersebut. Bagaimana bangun ayat-ayatnya termasuk bagaimana bentuk ajarannya. Karena sepenuhnya bersumber dari Pantun Bogor yang diakuinya sebagai sumber sejarah resmi orang Sunda.

Kesejatian Orang Sunda

SAYA tak terlalu menyalahkan Anis Jatisunda yang menyampaikan pendapatnya seperti itu, karena secara psikologis para peserta seminar memang betul-betul sedang ditarik ke alam masa lalu. Alam Ki Sunda versi para pemakalah. Hampir sebagian besar pemakalah yang ingin mencari gambaran manusia Sunda masa lalu selalu beranalog kepada kitab Hindu Siksa Kandang Karesiyan. Anis Jatisunda sendiri dalam jawabannya mengatakan, pernyataan itu hanya bersifat ajakan atau penawaran. “Mau nya sukur kalau tidak maupun ya tidak apa-apa. Saya mah hanya nawarkeun dagangan, sanajan nu dijualna ukur perah bedog susuganan mun digulaan mah payu.

Yang jadi kecemasan saya saat ini adalah pada pendapat Anis Jatisunda yang mengatakan bahwa untuk menggali khazanah budaya manusia Sunda hanya bisa dilakukan kalau kita telah kembali kepada agama Sunda. Seperti yang ditulis pada aliena terakhir kesimpulan makalah tersebut. Artinya, orang Sunda yang beragama Islam dianggap tak akan mampu menjadi orang Sunda seperti yang diharapkan penggagas seminar tersebut.

Inilah mungkin keberbedaan pemahaman yang harus disikapi dengan hati-hati. Karena sepanjang gagasan Anis Jatisunda tersebut merupakan keyakinan pribadinya, hal tersebut terpulang pada pemahaman dirinya. Namun karena pernyataan tersebut dinyatakan dalam forum resmi apalagi kemudian dimuat dalam brosur yang diterbitkan instansi pemerintah serta disebarkan kepada banyak orang, maka dengan sendirinya, pernyataan tersebut akan menjadi hal yang sangat mengganggu dan sangat mengancam hasrat pemerintah Jawa Barat untuk membangun gerakan kesundaan tersebut yang secara konseptual telah menunjukkan hasil yang sangat positif.

Dalam tulisan ini saya tidak mungkin berpolemik tentang apa yang dipahami dan menjadi uar pangajak Anis Jatisunda tersebut. Karena kalau diperdebatkan pasti tak akan ada ujungnya. Hanya akan menimbulkan pro dan kontra. Seperti kasus Inul Darartista dengan goyang Inulnya yang dianggap para seniman budayawan sebagai hak kebebasan berekspresi; toh tidak pernah mencapai ujungnya saat berpolemik dengan Rhoma Irama yang lebih melihat eksploitasi sensualitas dan erostisme sebagai suatu hal yang sangat dilarang oleh agama.

Atau juga soal friksi antara MUI dan pengusaha hiburan dalam memandang konsep kesejahteraan dan dosa. Keduanya dipastikan tidak akan pernah bertemu. Sangat sulit mempertemukan pemahaman agama yang di dalamnya berisikan tuntutan dan fatwa Ilahiyah yang bersifat vertikal antara manusia dan Penciptanya, dengan pemahaman sekuler yang lebih mengutamakan logika serta bersifat horizontal antarmanusia.

Apalagi, apa yang disimpulkan Anis Jatisunda tersebut hanya merupakan sebuah ajaran masa lalu yang dia temukan dalam sebuah pantun. Beberapa penggalan ajarannya disebutkan dari Pantun Bogor baik dari versi Aki Uyut Baju Rambeng episode Curug Si Pada Weruh, episode Kalang Sunda Makalangan, episode Tunggul Kawung Bijil Sirung atau dalam episode Pajajaran Seuren Papan.

Karena seperti diakuinya dalam seminar tersebut, Anis Jatisundapun ternyata tak pernah tahu apa sebenarnya bentuk ajaran agama Sunda tersebut. Termasuk kitabnya, manusia pembawa wahyunya, atau bahkan tak tahu mulai kapan agama tersebut ada. Karena konon, orang Baduy yang memegang ajaran tersebut tetap merahasiakannya. Atau bisa jadi kitab Sasaka Domas yang disebutkan dalam pantun tersebut berisi 800 ayat telah dibakar orang Surasowan (Banten) pada saat Pajajaran diserbu tentara Islam dari Banten dan Cirebon.

Saya malah sangat setuju kepada pernyataan Kang Anis bahwa inti ajaran agama Sunda yang dikutipnya tersebut sama dengan makna yang ada dalam Alquran. Karena selain ada pernyataan bentuk Tuhan yang Tunggal seperti yang disebutkan dalam Surat Al-Ikhlas. Pantun Bogor menyebutkan, Hyang Tunggal tatwa pangwadi, ngawandana di jagat kabeh alam sakabeh halanggiya di saniskara. (Sanghiang Agung yang Maha Esa, dialah sebenarnya sang Penyembahan, tiada beranak dan tiada bersaudara, mempunyai teman pun tidak di jagat dan di alam ini. Yang paling unggul segala-galanya). Konon itulah Sahadat Pajajaran yang disebutkan dalam episode Kalang Sunda Makalangan.

Saya mengutip adanya kata ahad atau kata sahadat yang murni merupakan kata yang berasal dari Alquran. Kemudian ada istilah Batara Cikal dari pernyataan salah seorang mantan Damar Tangtu yang dikutip Anis Jatisunda pada tahun 1972 yang bisa dipahami sebagai manusia pertama yang diciptakan ada di jagat ini. Dan orang Baduy sendiri toh mempercayai adanya Adam sebagai manusia pertama (mungkin yang disebut Batara Cikal) tersebut.

Agama Wiwitan

PEMAHAMAN saya adalah kalau orang Baduy setuju dengan konsep agama wiwitan dan setuju adanya nama Adam sebagai ujung sarsilah. Maka kita pun harus setuju pula bahwa agama wiwitan itu adalah agama Islam yang dibawa Nabi Adam a.s. Atau Wangsit Wangatuha, “…bisina isuk jagana pageto aya rawayan di are ndeuk marulang deui ka agama Sunda, wiwitanana mudu di kami heula…”

Jadi daripada susah-susah menuduh orang Surasowan membakar kitab Sasaka Domas tersebut, lebih baik kita buka Alquran yang berisi paling tidak 6666 ayat yang sangat bisa menjelaskan di mana Kang Anis saat ini berada.

Alquran itu bukan ditemukan dari pantun yang tidak jelas pula siapa sebenarnya pencipta pantun tersebut, melainkan langsung dibawa oleh Nabi Muhammad saw. dan direpresentasikan sifat dan sikap ajarannya tersebut dalam bentuk Sunnah Nabi serta terbukukan dalam kitab hadis yang terjaga kebenarannya lewat Ilmu Riwayah dan Ilmu Dirayah Hadis. Di sana bisa ditemukan istilah Sanad, Rawi, dan Matan sebagai unsur penanggungjawabnya. Boa-boa Kitab Sasaka Domas yang dimaksud orang Baduy teh Alquran tea. Karena belum ketemu, mereka menyebut sajalah Alquran itu dengan Sasaka Domas yang selama ini mereka cari.

Saya sangat yakin, kalau Kang Anis begitu memuja Pantun Bogor tersebut karena begitu luhurnya ajaran yang diujarkan pantun tersebut, bila hidayah Allah menyertai Kang Anis, maka Insya Allah akan ditemukan keadiluhungan Alquran dan Al-Hadis tersebut juga di atas segala karya sastra manusia di jagat ini. Termasuk, dengan mudah kita akan mampu membuka seperti apa sebenarnya manusia Sunda tersebut. Seperti apa budaya dan pranata sosialnya. Jadi mulailah dari agama wiwitan yang telah disempurnakan oleh Nabi Muhamad saw. tersebut.

Saya sendiri selalu yakin seribu persen bahwa agama wiwitan yang diajarkan Nabi Adam a.s. dalam proses jutaan tahun memang masih menyisakan berbagai kemiripan terutama dalam mengajarkan nilai-nilai moralitas, kebaikan dan ketuhanan. Hanya dalam proses jutaan tahun, Islam yang dibawa Nabi Adam a.s. memang telah sangat berbias. Kita toh mengenal aliran Majusi sampai terjadinya perbedaan paham dalam agama Hindu dan bagaimana Sidharta Gautama di Kapilawastu bisa menemukan 13 ajaran kebaikan.

Bisa jadi dalam perubahan usia zaman biasan tersebut masih menyisakan inti ajarannya. Walaupun mungkin juga yang telah sangat menjauhi prinsip akidahnya. Karena itulah, Nabi Muhammad diyakini merupakan manusia terakhir yang dipercaya Allah untuk melakukan koreksi total terhadap kesalahan tersebut. Dan itu semua seribu persen di bawah bimbingan firman-firman Allah sebagai Hyang Mahatunggal. Untuk kembali kepada agama wiwitan yang sama dengan yang dari kami (artinya kata ini mungkin saja “murni”) tersebut.

Sekali lagi saya tidak ingin terjebak dalam polemik berkepanjangan karena kita memang berbeda. Tulisan ini hanya berusaha mengikuti gaya pandang Kang Anis dalam memahami agama. Karena untuk berpolemik lebih lanjut mungkin kelak akan dilakukan pihak lain yang mungkin saja terusik oleh keinginan Akang untuk mengagamasundakan orang Sunda tersebut.

Yang sungguh disayangkan adalah walaupun tak bisa dimungkiri bahwa kehidupan masyarakat Baduy, masyarakat Pangawinan atau pun masyarakat Ciptagelar bisa menjadi representasi adat istiadat serta kepercayaan orang Sunda masa lalu. Namun pembuktian bahwa seperti itulah bentuk masyarakat Sunda pada masa lalu tersebut, tetap harus berdasar pada sistem analisis korelasi antara naskah, data dan fakta. Ditambah kajian yang lebih empiris tentang realitas masyarakat Sunda masa kini baik di perdesaan, kampung terpencil maupun di perkotaan. Sehingga analisis korelasi ini bisa lebih memberikan bukti yang lebih konkret tentang hipotesis alternatif yang ditawarkan. Jadi tidak sekadar memedomani naskah-naskah kuno yang belum tentu merupakan transkripsi atau representasi dari realitas masa lalu tersebut. Dalam hal ini Disbudpar Jawa Barat hendaknya harus hati-hati mengayomi pandangan kasundaan yang kurang proporsional tersebut.***

Sumber: Pikiran Rakyat, Kamis, 25 Agustus 2005.

7 Balesan

  1. cing atuh bikin analisa sejarah tong mawa-mawa ajaran agama islam, kudu objektip berdasarkan data primer dan sekunder ulah pake nalar dikait2keun sareng agama islam, ulah se-ngenah na we ngartikeun ; yang jelas na mah “islam is islam and sunda is sunda !” Okeh

  2. Saya setuju artikel/tulisan anda namun menurut saya Islam adalah islam Bukan Sunda wiwitan/ Kepercayaan

  3. Saya setuju dengan anda namun menurut saya Islam ya Islam Bukan Sundawiwitan/ kepercayaan

  4. Mending neuteup ka hareup, tinimbang nyoreang ka tukang. Urang maju teh ka hareup, lain ka tukang. Kumaha sangkan urang Sunda (baca: manusa sadunya; nu geus multikultur) ka hareup teh bisa hirup hurip nuturkeun jatining kamanusaana, eta nu penting, lain!?

  5. BISMULLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM…
    HAPUNTEN SATEUACANNA…
    SIM KURING URANG SUNDA TAPI TEU PATOS SAE NYARIOS KU BASA SUNDA…

    DALAM PANDANGAN SAYA DEWASA INI BANYAK ORANG YANG BARU TAHU SEDIKIT SUDAH MEMASTIKAN BAHWA PENGETAHUANNYA ADALAH YANG PALING BENAR….

    DALAM HAL MENYOROTI TENTANG BANYAK NYA AJAKAN UNTUK KEMBALI KE AGAMA SUNDA YANG SEBAGIAN PIHAK MENGKLAIM SEBAGAI AGAMA YANG PALING TUA (NAMUN BAGI SAYA BELUM TENTU YANG PALING BENAR), PANDANGAN SAYA ADALAH SBB:
    SAYA CENDERUNG LEBIH BERPIKIR KEPADA TEORI YANG DIKEMUKA KAN OLEH PROF. ARYSIO SANTOS BAHWA DAHULU DAERAH NUSANTARA UMUMNYA ATAU DAERAH SUNDA KHUSUSNYA, DISANA TERDAPAT SEBUAH PERADABAN MAJU YANG KEMUDIAN DALAM PERJALANAN SEJARAHNYA MENEBARKAN BENIH2 PENGARUH BUDAYA MEREKA KE SELURUH PENJURU DUNIA. PROF. SANTOS JUGA MENGEMUKAKAN BAHWA PENDUDUK SETEMPAT SUDAH MENGENAL AJARAN YANG MONOTHEISME.
    JIKA KITA MENARIK KORELASI DENGAN SEJARAH AGAMA2 TAUHID (ISLAM, KRISTEN, YAHUDI) MEMANG BANYAK HAL YANG BISA KITA TARIK TITIK TEMU DAN JUGA BANYAK KETIDAK SESUAIAN JUGA DENGAN TEMUAN ILMIAH.

    ADALAH MUNGKIN BAHWA PENDUDUK NEGERI TERSEBUT MERUPAKAN GENERASI2 AWAL MANUSIA KETURUNAN NABI ADAM AS….. (AGAMA SUNDA WIWITAN MEMPERCAYAI ADANYA NABI ADAM AS. SEBAGAI MANUSIA PERTAMA).
    ADALAH MUNGKIN JUGA MERUPAKAN NENEK MOYANG RAS-RAS MANUSIA DI SELURUH DUNIA…
    ADALAH MUNGKIN BAHWA PENDUDUK NEGERI PURBA TERSEBUT SUDAH MENGENAL TAUHID…
    ADALAH MUNGKIN BAHWA PERADABAN TERSEBUT SEIRING DENGAN WAKTU MENGALAMI DISTORSI PEMAHAMAN TERHADAP AJARAN AGAMA MEREKA… (MUNGKIN LELUHUR MEREKA MENYURUH UNTUK MENYEMBAH TUHAN, MEREKA MALAH MENYEMBAH MATAHARI)
    ADALAH MUNGKIN PERADABAN TERSEBUT JUGA MENYEBARKAN PEMAHAMAN AGAMA MEREKA (BAIK YANG TERDISTORSI MAUPUN TIDAK) KE SELURUH DUNIA SESUAI DENGAN TEORI PROF. ARYSIO SANTOS….

    DENGAN BERBAGAI KEMUNGKINAN DIATAS, MAKA SAYA MENARIK KESIMPULAN BAHWA…
    MUNGKIN KITA ADALAH KETURUNAN DARI PERADABAN TERSEBUT, NAMUN KARENA RENTANG WAKTU YANG SANGAT JAUH DAN DITAMBAH DENGAN SEGALA PROSES ASIMILASI MAUPUN SEGALA PROSES EVOLUSI ALAMIAH YANG LAIN, BELUM TENTU BAHWA ORANG SUNDA SEKARANG ADALAH SAMA DENGAN ORANG PERADABAN SUNDA JAMAN DULU…. (BAHKAN ADA TEORI YANG BERPIKIR PENDUDUK PERADABAN TERSEBUT JUSTRU MERUPAKAN NENEK MOYANG BANGSA YAHUDI/ISRAEL)..

    OLEH KARENA ITU MAKA AJARAN AGAMA SUNDA YANG ADA SEKARANG YANG DIGEMBORKAN UNTUK KEMBALI KE AGAMA TERSEBUT, BELUM TENTU MERUPAKAN MANIFESTASI DARI AJARAN AGAMA SUNDA PADA PERADABAN KUNO TERSEBUT. TERLEBIH DENGAN TERJADI BANYAKNYA DISTORSI YANG MUNGKIN TERJADI SEPANJANG RENTANG WAKTU YANG SANGAT PANJANG ITU….

    WALLAHU’ALAM BISSAWAB

    BAGI SAYA AJARAN TAUHID APAPUN YANG TELAH ADA PADA MASA ITU TIDAK SERTA MERTA KITA HARUS KEMBALI KEPADA AJARAN TERSEBUT (APALAGI AJARAN YANG TELAH TERDISTORSI), KARENA SEGALA AJARAN YANG TELAH DITURUNKAN SEMENJAK NABI ADAM AS. TELAH DI SEMPURNAKAN OLEH NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

    HATUR NUHUN
    WASSALAMU’ALAIKUM WAROHMATULLAAH WABAROKAATUH

  6. Nu komen teh jigna can di baca sadayana tos karomen
    (Bari naplok tarang sorangan)

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

%d bloggers like this: