Islam di Dalam Sunda; Tinjauan dari Sudut Budaya

Oleh H. WAHYU WIBISANA

MASUKNYA agama Islam ke Pasundan dapat ditelusuri dengan dua cara, yakni dengan merujuk kepada bukti-bukti sejarah dan atau dengan merujuk kepada rekaman alam pikiran masyarakat Sunda seperti tercermin pada cerita-cerita rakyat atau foklor. Selain itu, sebenarnya ada cara ketiga, yakni penggabungan cara pertama dan kedua, akan tetapi dengan catatan-catatan harus disertai logika atau nalar yang terukur.

Uraian singkat di bawah ini merupakan bauran antara ketiga-tiganya, atau bersifat elektis, karena tujuannya pun untuk beroleh sedikit gambaran tentang latar belakang sikap masyarakat Sunda pada umumnya terhadap Islam sebagai agama dan juga sebagai faktor pembentuk dan pemerkaya budayanya. Ada anggapan bahwa Sunda identik dengan Islam (hal yang sama ada pada masyarakat Melayu) tentu merupakan proses akhir dari pengaruh Islam terhadap alam pikiran dan sikap masyarakat Sunda. Hasil dari proses tersebut dapat diamati dengan jelas melalui pendekatan sinkronis-horisontal yang relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan penelusuran proses masuknya Islam ke Pasundan seperti yang dikemukakan di atas.

**

ADA dua versi yang berhubungan dengan masuknya agama Islam ke Indonesia. Pertama, melalui jalur sutera kemudian masuk ke Indonesia. Versi ini menekankan bahwa agama Islam dibawa oleh bangsa Cina yang merantau ke selatan dan berhubungan dengan penduduk Nusantara. Hal ini berbeda dengan versi kedua yang mengatakan bahwa agama Islam masuk melalui jalur laut Samudera Hindia, Persia, Gujarat, dan Samudera pasai, kemudian menyebar ke seluruh pulau di Indonesia, seperti Jawa, kalimantan, dan Sulawesi.

Khusus penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, sampai sekarang sejarah menyebutkan bahwa Pasundan menerima Islam lebih kemudian daripada Jawa, yakni melalui pengaruh Demak yang melebarkan sayap kekuasaannya ke Cirebon (1526) dan Banten (1527). Hal ini sesuai dengan berita pada naskah Sunda Kuno Carita Parahyangan yang ditulis pada dekade 1580-an: Kitu, kawisesa ku Demak deung Cirebon [Demikianlah, (Pasundan) dikuasai Demak dan Cirebon].

Di samping itu, adanya kenyataan bahwa bahasa Jawa (terutama dialek Cirebon) sampai pada awal abad ke-20 masih dipergunakan sebagai bahasa perantara antara bahasa Arab dengan bahasa Sunda di kalangan pesantren, terutama di Priangan Timur, merupakan suatu bukti, Sunda menerima Islam melalui Jawa, atau orang Sunda Priangan menerima agama itu melalui Cirebon, sedangkan orang Sunda yang berada di kawasan barat melalui Banten.

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa Pasundan secara geografis berada lebih barat daripada Jawa yang logikanya lebih dahulu disinggahi orang-orang Islam, mengingat lintasan pendatang dari luar, baik dari Cina menurut versi Jalur Sutera maupun dari Gujarat menurut versi lainnya, justeru dari barat (Sunda) ke timur (Jawa)?

Pertanyaan ini menarik akan tetapi belum terjawab, paling tidak bila hanya memperhatikan fakta sejarah yang sampai saat ini dipercaya kebenarannya. Lain halnya bila unsur foklor dijadikan bahan pemikiran dalam mencoba menelusuri pengaruh Islam di Pasundan, seperti cerita Syeikh Qura, pendiri pesantren di Karawang, Cerita Walangsungsang, atau Cerita Kian Santang.

Makam Syeikh Qura di Kabupaten Karawang yang diperkirakan tidak jauh dari pesantren yang didirikannya, sekarang berada di tempat yang jauh dari Laut Jawa. Menurut cerita, pesantren itu berada di tepi laut. Belum ada penyelidikan dalam berapa lama tempat tersebut dipisahkan dari pesisir sehubungan dengan proses pendangkalan Laut Jawa yang kemudian menjadi daratan yang membentang antara makam Syeikh Qura dengan pantai Laut Jawa sekarang. Berapa lama dalam hitungan tahun tertentu dapat menjawab kapan Syeikh Qura berkiprah menyebarkan agama Islam di Karawang, salah satu kabupaten di Jawa Barat.

Menurut cerita rakyat, salah seorang murid Syeikh Qura itu adalah seorang perempuan bernama Nyi Subang Karancang. Perempuan itu, masih dalam cerita rakyat, diperistri oleh Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, setelah raja itu menganut agama Islam. Inilah cerita rakyat yang hidup di pesisir utara Jawa Barat tentang pengaruh agama Islam yang masuk ke kalangan penguasa kerajaan saat itu. Cerita ini sejalan dengan cerita rakyat Cirebon, yakni cerita mengenai Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Rara Santang. Tokoh (perempuan) yang disebut terakhir ini diperistri oleh raja Mesir dan kemudian menurunkan Syarif Hidayatullah yang menjadi penguasa kerajaan (Islam) Cirebon. Disebutkan pula bahwa Walangsungsang dan Rara Santang itu merupakan kakak-beradik, anak Prabu Siliwangi, yang lebih dahulu menganut agama Islam daripada ayahnya sendiri.

Kedua cerita rakyat tersebut menggambarkan bahwa agama Islam sudah masuk ke Pasundan jauh sebelum Cirebon menjadi kerajaan Islam, yakni pada masa Prabu Siliwangi menjadi Raja Pajajaran (1474-1513, menurut Moh. Amir Sutarga, 1966).

Cerita rakyat lain yang berhubungan dengan itu adalah cerita Kian Santang (di Priangan) dan Pucuk Umun (di) Banten. Kian Santang, yang merupakan anak Prabu Siliwangi, pergi merantau hingga ke Mekkah. Di kota suci ini, ia bertemu dengan Baginda Ali yang mengujinya dengan sebuah tongkat yang ditancapkan ke bumi dan Kian Santang harus mencabut tingkat itu. Karena tidak mampu mencabut tongkat itu, Kian Santang takluk dan selanjutnya belajar agama Islam kepada Bagenda Ali. Berbeda dengan Kian Santang, Pucuk Umun menghadapi Sultan Hasanuddin. Menurut ceritanya, kedua orang itu mengadakan adu ayam dengan ketentuan bila ayam Pucuk Umun kalah, Sultan Hasanuddin bebas menyebarkan Islam di derah Banten. Ternyata ayam Pucuk Umun Kalah dan setelah itu ia melepaskan daulatnya atas Banten dan kemudian bermukin di Ujung Kulon.

Hubungan Sunda dengan Islam terekam pula pada cerita rakyat lainnya, di antaranya cerita rakyat berasal dari Ciamis tentang terjadinya Situ Lengkong, Panjalu. Menurut kisahnya, Raja Panjalu yang bernama Cakradewa menyuruh anaknya, Sanghyang Borosngora untuk mengambil air dengan gayung kelapa yang sengaja dilubangi. Ternyata Borosngora dapat melaksanakannya setelah ia pergi ke Mekkah. Air yang disiduknya itu adalah air zamzam yang kemudian ditumpahkan di Panjalu, sehingga menjadi Situ Lengkong.

Di daerah Garut, lebih “berani” lagi, karena ada cerita yang mengisahkan Nabi Muhammad sendiri dengan latar tempat beberapa kampung yang ada di daerah itu. Menurut cerita itu, Muhammad kecil diberi mainan berupa baling-baling oleh sang Batara, sedangkan setelah Muhammad menjadi Nabi, ia masih tidak dapat melupakan kebaikan Batara itu dengan cara mendirikan beberapa masjid di kawasan Garut.

**

CERITA-CERITA yang dikemukakan di atas tentu saja hanyalah cerita rakyat, bukan data historis. Walaupun demikian, kesimpulan yang dapat ditarik ialah betapa akrabnya Sunda dengan Islam sehingga agama ini sudah amat mendalam pengaruhnya terhadap alam pikiran orang Sunda. Selain itu, tidak tertutup juga kemungkinan bahwa agama Islam sudah lebih dahulu dikenal oleh masyarakat Sunda, jauh sebelum berdirinya Kerajaan Cirebon dan banten. Adalah wajar bila ada anggapan bahwa penyebaran Islam dari Demak melalui Cirebon dan Banten itu merupakan fakta sejarah yang dihubungkan dengan kekuasaan kerajaan, padahal dalam kenyataannya dapat saja melalui tokoh-tokoh di luar itu, walaupun secara kecil-kecilan. Artinya di samping adanya wacana besar yang dibenarkan oleh sejarah, ada pula wacana kecil yang ternyata akhirnya terserap oleh beberapa cerita rakyat.

Tinjauan penyebaran agama Islam melalui foklor, termasuk kepercayaan rakyat, memang menarik, walaupun hasilnya tidak akan sampai pada tataran sejarah. Namun ada lebihnya, karena cerita rakyat dan kepercayaan rakyat itu berada pada dunia imajinasi dari sudut sejarah, atau juga dari sudut logika, banyak pembengkokan (distorsi), ternyata fenomena alam batin masyarakat amat mencuat di dalamnya. Hal ini pun adalah fakta.

Keakraban Sunda dengan Islam seperti tergambar pada beberapa cerita rakyat itu adalah fakta yang tidak dapat diabaikan dan terbantahkan. Fakta macam ini memang menyalahi fakta lain, terutama fakta sejarah dan geografi. Logika waktu dan tempat amat diabaikan. Seperti contoh Kian Santang bertemu Bagenda Ali (Sayyidina Ali) yang mengabaikan fakta sejarah tentang masa hidup kedua tokoh itu yang tidak bersamaan, dan karena itu tidak mungkin bertemu secara fisik. Pengabaian logika ruang atau tempat tercermin pada “kepercayaan” bahwa salah satu goa yang ada di Pamijahan (tempat Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan dimakamkan) tembus ke Mekkah. Selain itu masih ada contoh lain, termasuk air Situ Lengkong berasal dari air zamzam atau Nabi Muhammad mendirikan beberapa mesjid di daerah Garut.

Itu semua mustahil, menyalahi logika akal dan realitas. Agaknya, dalam foklor ada logika dan realitas lain, yakni logika dan realitas kepercayaan yang berada pada alam pikiran yang notabene terbentuk pula melalui kesejarahan dalam hitungan tahun dan abad.

Keakraban Sunda dengan Islam tercermin pula pada aspek lainnya. Dalam sastra di luar cerita rakyat terdapat fiksi seperti Wawacan Purnama Alam yang asli dibuat oleh orang Sunda, di samping Wawacan Rengganis yang merupakan terjemahan dari sastra Jawa, atau Wawacan Nabi Muhammad yang merupakan salinan dari Kisah Nabi Muhammad.

Demikian pula pada lagu, di Pasundan dikenal pupujian atau nadoman,  di antaranya yang amat terkenal ialah pupujian yang berjudul Nabi urang Sarerea (Nabi kita Semua) yang merupakan terjemahan bebas dari Maulid al-Barzanji. Tampaknya terjemahan bebas itu disesuaikan dengan kondisi lingkungan Sunda, sehingga keakraban orang Sunda dengan Nabi Muhammad lebih terasa. Bila pada Barzanji dikisahkan tatkala Muhammad berumur tiga bulan, ia sudah dapat berdiri tegak; waktu usia lima bulan sudah dapat berjalan sendiri; dan sembilan bulan sudah dapat berbicara dengan lancar, maka dalam pupujian Nabi Urang Sarerea ditambah dengan lirik

Yuswana sapuluh bulan
Tiasa ameng papanahan
Ngelehkeun budak nu lian
Tapi tara kamagung
(Pada sepuluh bulan usianya
telah mahir bermain panah
ia mengalahkan anak-anak sebayanya
namun tidaklah ia besar kepala)

Pada Barzanji tidak disebutkan keadaan Nabi saat berusia sepuluh bulan, apalagi perihal nabi bermain panah-panahan. Permainan panah-panahan itu adalah permainan yang amat disukai oleh orang-orang Priangan Timur, antara lain Tasikmalaya. Diperkirakan pupujian tersebut, yang merupakan terjemahan bebas Barzanji itu, dibuat oleh orang Tasikmalaya, karena sudah dibukukan dengan penerbit Toko Kairo, Tasikmalaya (tanpa tahun) dan ditulis dengan huruf Arab.

Sementara itu, penyelenggaraan upacara yang diadatkan atau bersifat tradisional disesuaikan waktunya dengan hari-hari yang dimuliakan agama Islam, seperti panjang jimat di Cirebon, membersihkan tetinggal leluhur di Ciburuy (Garut) pada bulan Maulud, dan seren taun di Cigugur (Kuningan) bulan Rayagung (Dzulhijjah). Demikian pula pada tatacaranya. Sekarang masih terlihat di beberapa tempat atau di sementara golongan, orang membakar kemenyan (sebagai peninggalan adat lama) namun disertakan pula doa seperlunya. Percampuran adat lama dengan agama terdapat pula pada siklus kehidupan dan kematian manusia, seperti pada peringatan empat puluh hari kelahiran dan empat puluh hari kematian seseorang yang kesemuanya itu disertai doa-doa menurut Islam.

Demikianlah keakraban Sunda dengan Islam yang pada realisasinya disesuaikan dengan alam pikiran orang Sunda atau digabungkan dengan bahan-bahan yang telah ada sebelumnya. Mantra-mantra berbahasa Sunda yang merupakan sastra Sunda kuno ditambah pada bagian awalnya dengan bismillah atau astagfirullah, demikian pula silsilah tokoh-tokoh cerita pada Wawacan Sulanjana diawali dengan silsilah pada nabi, dari Nabi Adam sampai Nabi Sis. Hal ini menyatakan bahwa Sunda telah amat menyerap Islam dengan amat intens.

Hal-hal yang telah dikemukakan di atas, di luar pengaruh bahasa Arab kepada bahasa Sunda yang berlangsung cukup lama, yakni sejak akhir abad ke-16. Hal ini terlihat pada bahasa Sunda kuno, termasuk yang digunakan pada Carita Parahyangan, yang tidak ada satu pun kata yang yang berasal dari bahasa Arab, kecuali kata Selam yang berarti “Islam”. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Sumber: Materi Diskusi pada Forum Diskusi Reguler Dosen Fakultas Adab, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, 01 Pebruari 2001.

5 Balesan

  1. Menurut saya sesuatu yang di luar batas Logika “akal” itu tergantung dari Sahih/tidaknya akal yang menilai Logis atau tidak nya sesuatu itu, dan sesuatu yang diluar hukum adat/kebiasaan itu tidaklah mustahil, contuh sepele tapi nyata, kita tentu mengenal sirkus/sulap dll, nah itu diluar logika sederhana, tapi masuk dalam logika yang Sahih karena secara fakta2 logis bahwa teori Waktu dan segala yang ada ini hanya obyek dari (Rekayasa) Tuhan, dimana akan sangat mungkin Allah merubah konsekuensi dan systemnya kapan saja, baik diminta ataupun tidak, bahkan keberadaan kita dapat lenyap seketika jika di kehendaki.

  2. Alhamdulillah.. Kami sangat menghargai dengan “semangat” penulis dalam mengungkap cerita diatas, karena tidak mustahil sewaktu-waktu akan ada yang berani menulis lagi tentang budaya sejarah “sunda dan islam”. Terima kasih.

  3. menarik sekali

    • punten ngiringan, nitenan kapara inohong utamina para budayawan urang sunda nu saurna bade ngagugah, ngabedah, budaya sunda buhun dina jalaran ngamumula budaya sunda ti sirahna, rupina rada oyag tina jalan lempeng urang sunda nu parantos beradab teu jahiliyah deui kang.

  4. urang sunda teh kapungkur mah tebih nuju zamana zahiliyah teu benten sareng urang arab quresy nu nyembah berhala sapertos latta, uzza jsts, teras dongkap islam nu dicandak ku junjunan urang nabi Muhammad saw. janten beradab, na kunaon atuih ari ayeuna urang sunda kalah ka baralik deui kana kajahiliyahana, make loba nu nagaragem kahinduan boh dina adat istiadat sareng agamana, kunaon atuh teu janten urang sunda nu modern islami agamis, sunda nu smart nyandak kasaean tihinduna kamajengan agama ti islamna, sapertos budaya eropa di waktos zaman Helenisme sareng Renaisance nu campurkeun budaya timur sareng barat

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

%d bloggers like this: