Menjawab Misteri Kelangkaan Candi di Tatar Sunda

Oleh MOEFLICH HASBULLAH

BELAKANGAN ini, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) melalui Balai Arkeologi Bandung sedang mendapat pekerjaan besar di Jawa Barat, yaitu penggalian candi di daerah Karawang yang diduga merupakan sisa-sisa peninggalan dari kerajaan Tarumanegara dan penggalian candi yang baru ditemukan di daerah Bojongmenje Rancaekek, Kabupaten Bandung. Makna kedua temuan ini bagi masyarakat Jawa Barat merupakan suatu hal yang sangat berarti untuk memperjelas keberadaan orang-orang Sunda dalam pentas sejarah di Pulau Jawa pada masa klasik, yaitu masa sebelum pengaruh Islam masuk dan berkembang.

Temuan Candi di daerah di Batujaya Karawang yang nampaknya bakal merupakan situs paling besar di Jawa Barat mempunyai hubungan yang erat dengan prasasti Tugu, yaitu prasasti yang terdapat di desa Tugu, dekat Tanjung Priok sekarang. Dalam Prasasti Tugu tersebut dinyatakan bahwa Raja Purnawarman memerintahkan untuk menggali dua kanal, yaitu Candrabaga dan Gomati di mana kedua kanal tersebut alirannya terlebih dahulu dibelokan ke sekitar istananya dan kemudian di alirkan kembali ke muara. Panjangnya kanal tersebut setelah digali sejauh 6122 tumbak, oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka diperkirakan panjangnya 11 km. Jika perkiraan Purbatjaraka ini digunakan sebagai patokan dalam menelusuri bekas reruntuhan keraton Tarumanegara, maka situs Batujaya tersebut merupakan lokasi yang paling tepat untuk diasumsikan sebagai lokasi bekas keraton Raja Purnawarman karena jarak antara lokasi situs dengan muara Bendera (tempat terpecahnya aliran sungai Citarum menjadi dua, yaitu yang menuju muara Pakis dan yang menuju muara Gembong) berjarak sekitar ±11 kilometer. Perkampungan yang terletak antara dua pecahan aliran sungai Citarum sampai bibir pantai Pakis dan Muara Gembong merupakan sebuah delta yang terus mengalami pendangkalan akibat kegiatan sedimentasi fluviatil/erosi yang dibawa oleh aliran sungai Citarum.

Dugaan bahwa pantai Purba tempat bermuaranya kanal/sungai Candrabaga dan Gomati yang digali oleh Raja Purnawarman terletak di muara Bendera, berdasarkan pada kegiatan sedimentasi fluviatil (sungai) yang terjadi pada aliran sungai Citarum. Dari arah hulu, aliran sungai membawa sumber-sumber endapan seperti sampah dan lumpur yang kemudian membentuk delta pada muara bendera tersebut. Akibat sedimentasi fluviatil (sungai) yang terus menerus tersebut, telah memperbesar areal delta dan memecah aliran sungai Citarum menjadi dua, yaitu yang menuju muara Pakis dan yang menuju muara Gembong sekarang. Jarak antara muara Bendera ke muara Pakis sekarang sekitar + 12 km dan yang menuju muara Gembong kira-kira berjarak + 15 km. Penelitian geologi di daerah sekitar muara bendera mungkin akan memberikan jawaban yang lebih akurat tentang dugaan letak muara Purba seperti yang tertulis dalam Prasasti Tugu.

Hal paling baru dalam dunia arkeologi di Jawa Barat adalah temuan candi yang terletak di daerah Rancaekek, Kabupaten Bandung. Di areal situs ini sedang dilakukan penggalian yang selanjutnya sedang direncanakan upaya restorasi dan rekonstruksi candi oleh tim khusus ahli restorasi candi dari UGM. Seperti dikemukakan oleh Prof. Dr. Ayatrohaedi dan Dr. Tony Djubianto dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat pada tanggal 9 September 2002, dimungkinkan bahwa candi tersebut berasal dari abad ke VII berdasarkan pada bentuk pelipit dan beberapa aspek lain yang terdapat pada pahatan batu candi. Atau mungkin dari abad sebelum itu karena yoni (simbol syiwa)-nya ternyata tidak ditemukan yang berarti candi itu didirikan masa pra-Hindu. Jika memang asumsi ini benar, maka dapat dimungkinkan bahwa candi tersebut dapat memberikan jawaban atas keterputusan sejarah Sunda pasca Tarumanegara. Berita prasasti tertua pasca Tarumanegara adalah prasasti yang ditemukan di Bogor yang berangka tahun 932 M. atau abad ke-10 yang dikenal dengan prasasti Kebon Kopi.

Kendati demikian, penemuan candi-candi tersebut masih belum menjawab pertanyaan misteri selama ini yaitu “Mengapa di Tatar Sunda sangat langka ditemukan candi-candi peninggalam kerajaan-kerajaan masa lampau seperti halnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur?” Selama ini mengemuka beberapa jawaban yang mencoba menjelaskan pertanyaan tersebut tapi belum didukung oleh bukti-bukti sejarah yang kuat. Pertama adalah jawaban sosiologis-agrikultural dan kedua, jawaban proses Islamisasi. Jawaban sosiologis-agrikultural misalnya ditemukan dalam buku Nina Herlina (1998:26): “Mata pencaharian utama penduduk Priangan pada mulanya berladang atau ngahuma; baru kemudian bersawah. Sejak zaman kerajaan Sunda, orang Sunda dikenal bermata pencaharian sebagai peladang. Ciri yang menonjol pada masyarakat peladang adalah kebiasaan selalu berpindah tempat untuk mencari lahan yang subur. Kebiasaan berladang ini berpengaruh pada tempat tinggal. Mereka tidak memerlukan bangunan permanen yang kokoh, cukup yang sederhana saja. Kemungkinan besar itulah salah satu sebab mengapa di Priangan tidak banyak peninggalan berupa candi atau keraton seperti di Jawa Tengah.” Sedangkan jawaban yang kedua menjelaskan bahwa proses Islamisasi di Sunda cenderung lebih intensif dibanding dengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Proses Islamisasi yang lebih intensif berpengaruh pada militansi beragama orang Sunda. Karena keislamannya yang kuat, masyarakat Sunda yang sudah masuk Islam diduga “menghancurkan” bangunan candi-candi sebagai peninggalan agama Hindu Budha dan tempat pemujaan yang bertentangan dengan keyakinan yang diajarkan Islam. Hingga saat ini kedua asumsi tersebut di atas belum didukung oleh bukti-bukti sejarah alias baru dugaan. Tulisan ini mengangkat perspektif lain yang selama ini belum diungkap dengan mengangkat tiga argumen yaitu monoteisme orang Sunda, tradisi egalitarian masyarakatnya dan realitas kekuasaan di Sunda pra-Islam.

Monoteisme Orang Sunda

DARI berita sejarah yang ada dan dari hasil penelitian arkeologi terkini, Jawa Barat atau kawasan Sunda adalah daerah yang pertama mendapat pengaruh Hindu dan Budha dari India. Aktifitas politik pemerintahan dengan rangkaian kegiatan birokratisnya telah berjalan sejak awal-awal abad masehi. Hal ini menunjukan bahwa orang-orang Sunda adalah orang pertama di Indonesia yang telah mengerti dan menggunakan mekanisme birokrasi dalam mengatur hubungan penguasa-rakyat dan dalam hubungan sosial antara masyarakatnya.

Pengaruh Hindu dan Budha yang datang dari India setelah mengalami proses sinkretisasi dengan agama lokal (animisme dan dinamisme) mulai diterima oleh kalangan elit politik kerajaan. Stratifikasi sosial yang kastaistis telah memberikan keuntungan-keuntungan tersendiri bagi para ningrat kerajaan, sementara masyarakat lapisan luar kerajaan masih menggunakan keyakinan lama yang menyembah hyang yang oleh Fa-Hien disebut sebagai “agama yang buruk” seperti tertuang dalam laporan berita Cina. Ungkapan “agama yang buruk” oleh Fa-Hien ini merupakan ungkapan yang biasa diucapkan oleh orang yang taat pada suatu agama terhadap orang yang beragama lain.

Dalam konsepsi teologis orang Sunda pra Hindu, hyang (sanghyang, sangiang) adalah Sang Pencipta (Sanghyang Keresa) dan Yang Esa (Batara Tunggal) yang menguasai segala macam kekuatan, kekuatan baik ataupun kekuatan jahat yang dapat mempengaruhi roh-roh halus yang sering menetap di hutan, di sungai, di pohon, di batu atau di tempat-tempat dan benda-benda lainnya. Hyang mengusai seluruh roh-roh tersebut dan mengendalikan seluruh kekuatan alam. Pada masa masuknya pengaruh Hindu, konsep ke-esa-an hyang terpelihara karena semua dewa Hindu tunduk dan takluk pada hyang ini, kekuatannya dianggap melebihi dewa-dewa Hindu yang datang kemudian. Dengan kata lain, orang-orang Sunda pra Hindu-Budha sudah menganut faham monoteistis dimana hyang dihayati sebagai maha pencipta dan penguasa tunggal di alam. Konsepsi ini sama dengan apa yang diajarkan oleh Islam, yaitu Allah, ketika muncul proses Islamisasi di Nusantara. Istilah sembahyang pun lahir dari tradisi ritus menyembah Hyang (Yang Tunggal) sama dengan shalat menyembah Allah Yang Maha Esa dalam agama Islam.

Ketika pengaruh Hindu masuk ke masyarakat Sunda, ajaran Hindu mempengaruhi keyakinan lokal masyarakat yang sudah mapan. Kedua keyakinan teologis ini kemudian mengalami proses sinkretisasi/pembauran teologis. Ini tergambar dalam hirarki kepatuhan yang terdapat pada Naskah Siksakandang Karesian yang berisi Pasaprebakti (Sepuluh Tingkat Kesetiaan) yang isinya sebagai berikut : “Anak satia babakti ka bapak; pamajikan satia babakti ka salaki; kawala satia babakti ka dunungan; somah satia babakti ka wado; wado satia babakti ka mantri; mantri satia babakti kanu manganan (komandan); nu nanganan satia babakti ka mangkubumi; mangkubumi satia babakti ka raja; raja satia babakti ka dewata; dewata satia babakti ka hyang.” Konsep hyang merupakan konsep yang memang sudah hidup pada orang Sunda jauh sebelum pengaruh Hindu dan Budha tersebut datang.

Tradisi sesembahan orang Sunda pra Hindu-Budha tidak terpusat di Candi tapi menyembah hyang di kahiyangan. Konsep kahiyangan sangat abstrak alias tidak menyebut tempat fisik dan bangunan. Kahiyangan merupakan tempat para dewa bersemayam mulai dari para dewa lokapala (pelindung dunia) sampai pwah sanghyang sri (dewi padi), pwah naga nagini (dewi bumi) dan pwah soma adi (dewi bulan) yang menghuni jungjunan bwana (puncak dunia). Tradisi orang Sunda menyembah hyang bisa sebutkan sebagai salah satu alasan yang menjelaskan kelangkaan candi di tatar Sunda Priangan. Kuatnya kepercayaan Sunda lama terhadap hyang yang monoteistik tidak mendorong orang Sunda untuk membangun candi sebagai pusat peribadatan sebagai mana di Jawa Tengah dan Timur. Satu dua candi kecil yang ditemukan di Jawa Barat, ketimbang menunjukkan kuatnya pengaruh agama Hindu-Budha, tampaknya dibangun lebih sebagai simbol kekuasaan bahwa disitu pernah ada penguasa kecil, keturunan dari Kerajaan Sunda.

Tradisi Egaliter Orang Sunda

PENGARUH Hindu dan Budha datang ke pulau Jawa sekitar awal abad masehi dan daerah yang pertama bersentuhan dengannya adalah Jawa Barat dengan pusat pemerintahan yang diduga berada di sekitar Karawang dan Bekasi sekarang. Pengaruh kedua agama ini nampaknya kurang begitu kuat merekat pada masyarakat Sunda karena masyarakat Sunda sangat kuat dalam menganut keyakinan aslinya yang bercorak monoteistis yaitu mengabdi pada hyang tunggal.

Bukti kuat pernyataan ini adalah bahwa hingga saat ini bukti-bukti arkais yang mendukung kuatnya pengaruh Hindu-Budha sangat sedikit ditemukan di Jawa Barat. Jika di Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak terdapat tinggalan bangunan dan monumen sakral yang bercorak Hindu dan Budha, ini disebabkan karena sosialisasi Hindu dan Budha yang sangat intensif, baik yang dilakukan oleh kalangan keraton maupun oleh para brahmana dan pedanda.

Cepatnya penyebaran agama Hindu dan Budha pada masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur disebabkan karena konsep dan ajaran god-kings (dewa-raja) yang sesuai dengan alam berfikir masyarakat Jawa ketika itu. Bagi masyarakat Jawa, raja dihayati sebagai panutan yang mutlak yang mesti mendapat anutan karena raja dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Gelar para raja adalah gabungan dari dua otoritas yaitu otoritas politik (raja) dan otoritas religius (dewa) yang tergabung dalam istilah-itilah seperti rajaresi, khalifatullah fil ‘ardhi sayidin panatagama dan lain-lain.

Kepatuhan kepada raja secara militan selain berasal dari inti ajaran Hindu- Budha itu sendiri juga bersumber dari klasifikasi sosial yang sangat ketat. Ini tergambar dari stratifikasi yang muncul dalam masyarakat Jawa yang membuat dikotomi sosial secara tegas antar kelas seperti ningrat atau priyayi dan wong cilik. Pengahayatan raja sebagai titisan dewa dan adanya pengkelasan sosial secara tajam ini berakibat pada sulitnya atau tiadanya perbedaan pendapat antara raja dengan rakyatnya termasuk dalam persoalan agama. Keraton dalam kebudayaan Jawa adalah pemegang otoritas kebenaran. Oleh karena itu sifat dari kebudayaan Jawa adalah kebudayaan keraton di mana keraton berfungsi sebagai titik sentral agama, politik dan kebudayaan.

Pada masyarakat Sunda, pola seperti ini tidak ditemukan. Corak budaya yang berkembang adalah kebudayaan rakyat di mana posisi keraton tidak terlalu menentukan dalam pembentukan suatu varitas budaya. Jenis kebudayaan yang berkembang pada masyarakat Sunda didominasi oleh kebudayaan agraris dengan berbagai keunikannya. Dengan kata lain, kebudayaan Jawa dapat didefinisikan sebagai kebudayaan feodal yang hirarkis sementara kebudayaan Sunda dapat dianggap sebagai kebudayaan rakyat yang egaliter yang mencerminkan pada kesamaan derajat antar manusia. Salah satu buktinya adalah bahasa Sunda Buhun yang demokratis masa pra-Mataram dimana tidak hierarki bahasa seperti terlihat dalam undak-usuk sekarang. Istilah menak dan cacah juga dalam masyarakat Sunda ditemukan sebagai bentuk pengaruh kekuasaan dan kebudayaan Jawa di tatar Priangan sejak masa kekuasaan Mataram.

Contoh lain yang dapat diajukan dalam mempertegas pendapat ini adalah dalam seni pewayangan atau pedalangan. Pada masyarakat Jawa, lakon cerita wayang merupakan sumber ilham dalam memahami fungsi-fungsi sosial mereka dalam hidup berbangsa dan berbudaya. Epos Mahabarata dan Ramayana menjadi sumber pendidikan etis yang menghasilkan prilaku-prilaku yang kastaistis seperti kemunculan slogan ningrat dan wong cilik tadi.

Pada masyarakat Sunda, seni pewayangan atau pedalangan yang memainkan dua epos besar tadi hanya merupakan media hiburan pelepas lelah dalam aktifitas agrarisnya sehari-hari. Orang Sunda tidak menjadikan lakon cerita wayang sebagai sabda suci yang mesti diteladani. Mereka telah memiliki etika agraris yang sangat kuat yang tidak bisa digantikan dengan etika Hindu-Budha yang sangat rumit dengan nilai-nilai filosofisnya. Sifat egalitarian masyarakat agraris dan kepercayaan monoteistik orang Sunda yang sudah lama berakar kuat ini justru menjadi bekal penerimaan orang Sunda terhadap ajaran agama baru yang sesuai dengan kultur dan kepercayaan mereka yaitu Islam. Ketika Islam datang ke tatar Sunda dan mulai berinteraksi dengan masyarakatnya, spontan mendapat sambutan yang sangat luar biasa, terutama dari kalangan rakyat biasa. Walau tidak dapat dipungkiri bahwa orang Sunda merupakan kelompok yang paling akhir menerima Islam di seputar tanah Jawa, ini bukan berarti sifat konfrontatifnya terhadap Islam, melainkan karena sosialisasi Islam yang agak terlambat ke wilayah ini.

Gabungan fenomena di atas yaitu egalitarianisme masyarakat Sunda, komunikasi yang sejajar (demokratis) antara raja dan rakyatnya serta dikuatkan oleh pengaruh Islam yang luas setelahnya menjadi alasan sosial tidak ditemukannya banyak Candi di tatar Sunda. Egalitarianisme nilai-nilai masyarakat dan demokratisnya pola komunikasi penguasa rakyat berpengaruh pada cara raja dan rakyatnya memandang kekuasaan dan cara memandang dirinya masing-masing. Raja tidak perlu memisahkan dirinya dalam sebuah bangunan yang eksklusif dan kokoh jauh dari rakyatnya.

Sebagaimana keraton berfungsi sebagai simbol pemisahan yang jelas antara kompleks kekuasaan raja dengan rakyatnya, candi juga dibangun sebagai simbol penegasan yang jelas antara raja dan rakyatnya dan lebih merupakan sarana eksklusif para raja melakukan ritus sesembahan dan pemujaan. Di tatar Sunda yang egaliter dan kedekatannya dengan alam sebagai masyarakat agraris menyebabkan fokus sesembahan dan penghormatan lebih langsung kepada alam dan ke sanghyang ketimbang kepada para raja.

Hanya Satu Kerajaan

DI NUSANTARA, fungsi candi bukan hanya sebagai tempat beribadah para raja semata, tetapi juga berfungsi sebagai monumen sebuah dinasti yang berkuasa. Pertarungan politik dan adu gengsi kekuasaan antar kerajaan telah menghasilkan candi-candi megah di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Wangsa Syailendra dengan Candi Borobudurnya dan Wangsa Sanjaya dengan Candi Prambanannya. Pergantian kekuasaan kerajaan, baik melalui suksesi formal maupun melalui perebutan kekuasaan selalu diiringi dengan pembangunan candi megah sebagai monumen kekuasaannya. Ketika hari ini kita menyaksikan banyaknya candi-candi besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka kita dapat menduga selain sebagai simbol majunya sebuah kerajaan, betapa banyaknya pula konflik dan persaingan politik yang terjadi di Jawa pada zaman itu.

Fungsi candi sebagai monumen kekuasaan sebuah kerajaan seperti ini tidak terjadi di tatar Sunda karena kerajaan yang berkuasa di tatar Sunda hanya satu yaitu Kerajaan Sunda, cuma pusat pemerintahannya saja yang berpindah-pindah sejak dari Galuh (Ciamis), pindah ke Pakuan Padjadjaran (Bogor), pindah lagi ke Kawali (Ciamis) dan kemudian pindah ke Pakuan lagi (Sartono Kartodirdjo, 1977). Dengan kata lain, kekuasaan raja di Sunda itu tersentralisir dan kemungkinan keratonnya pun hanya satu. Tetapi -paling tidak hingga saat ini- keratonnya pun belum ditemukan berada di kota mana dari tempat yang berpindah-pindah itu. Candi yang sudah ditemukan pun, seperti candi Cangkuang di Garut, selain proses rekonstruksinya masih kontroversial, juga belum merepresentasikan sebagai bekas peninggalan kekuasaan kerajaan Sunda. Kekuasaan yang tunggal yaitu kerajaan Sunda adalah alasan kuat yang mendukung alasan-alasan lain yang sudah dikemukakan tentang tidak banyaknya candi di tatar Priangan.

Dengan demikian, kelangkaan candi di sebuah kawasan tidak selalu mengkespresikan tingkat peradaban. Candi hanyalah salah satu bangunan monumental yang dibangun oleh sebuah dinasti kerajaan untuk kebutuhan prestise sesembahan keluarga raja, selain sebagai simbol kekuasaan. Kerajaan Sunda adalah kerajaan kuat yang terbukti ketika kerajaan Madjapahit berada dipuncak kekuasaannya, kerajaan Sunda tidak pernah takluk di bawah pengaruhnya. Dengan demikian, pendirian candi dalam sebuah wilayah kekuasaan lebih berhubungan langsung dengan pola kekuasaan, konsep teologis dan tradisi politik yang berkembang. Tampaknya, sesuai dengan kecenderungan kuat konsep teologisnya yang monoteistik, tradisi pola komunikasi yang demokratis antara penguasa dan rakyatnya serta kekuasaan Sunda yang terpusat dan tunggal, kelangkaan dan bahkan ketiadaan candi di Tatar Sunda memang sudah semestinya. Inilah kekhasan lokal dan kekayaan tradisi kekuasaan di Sunda. Masyarakat Sunda perlu membuang semacam “ratapan historis” kelangkaan candi di Jawa Barat sebagai sebuah indikasi rendahnya peradaban dan sebaliknya banyaknya candi sebagai indikasi prestasi peradaban. Persepsi ini justru sebuah sikap “minder kebudayaan” (cultural inferiority complex) dihadapan kebudayaan lain, sementara kebudayaan Sunda memiliki sistem sosial kebudayaan sendiri yang sesungguhnya lebih berorientasi nilai-nilai, relijiusitas dan hal-hal lain yang bersifat abstrak.Wallahu a’lam!!

Sumber: Disalin dari HALAMAN INI

LIHAT INDEKS ARTIKEL

55 Balesan

  1. pantek amaang anjiang….tah apo2 yg ang buat siko ma….berax

  2. Tatar sunda, nu nyanjung baraya, pinuh ku lakon.. Megahna galunggung euweuh nu nyangsi,, caangna panon poe heunteu erep sagara cai,, hayu dulur,, tempokeun ka sundaan dumeh jdi pangisi dunya nu ngbogaan ciri.. Sunda wa islami eta hiji.

  3. Majapahit tdk pernah berani menaklukkan Sunda (dan dlm Sumpah Amukti Palapa memang nama “Sunda” tidak disebutkan) karena pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah keturunan langsung Rakeyan Jamri dari Galuh dan Dyah Lembu Tal dari Singosari. Namun dalam Perang Bubat, Gajah Mada yg terbakar ambisinya untuk menguasai Nusantara akhirnya menyerbu rombongan pengantin Dyah Pitaloka Citraresmi dan menganggap Sunda sebagai kerajaan vassal

    Tidak adanya nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada di Tatar Parahyangan bukan krn sentimen org Sunda terhadap Jawa, tapi utk dijadikan pelajaran bahwa cinta bisa diperdaya untuk dijadikan ambisi politik

    blog yg bagus!

    kahatur ti abdi,

  4. aing urang sunda…ngajak kabalarea hayu urang ngamomole budaya sunda…

  5. asa hariwang urang sunda geus teu apal kana budayana sorangan,kaelehkeun ku budaya luar.heeey…urang sunda sok atuh gera mumule budaya urang,ulah ngararuksak kana budaya sorangan. hayu urang pajukeun deui budaya urang nu kiwari geus ampir euweh. ti acep nupaduli kana budaya sunda, ayena ker di gawe di Toserba YOGYA di bandung.

  6. Jd bgng ni mw bkn paper ttg sunda stlh liad tlsan ni..

    Hehe..

  7. “….Kerajaan Sunda adalah kerajaan kuat yang terbukti ketika kerajaan Madjapahit berada dipuncak kekuasaannya, kerajaan Sunda tidak pernah takluk di bawah pengaruhnya….”

    Subhanalloh, blog anu sae pisan yeuh…

    Menurut saya, belum ada bukti bahwa kerajaan ini kuat secara militer. Ada pun selamatnya kerajaan ini dari kekuatan ekspansi kerajaan sebesar dan sekuat Majapahit kemungkinan besar lebih disebabkan oleh kekuatan diplomasinya, sampai-sampai Maharaja Hayam Wuruk pun tidak merestui ambisi ekspansif Patih Gajah Mada ke wilayah ini.

    Wallohu’alam

  8. hayuah urang jaga budaya sunda,urang mumule jeung jaga ku urang sararea,sanaos abdi aya di jakarta nuju kuli tapi sok emut ka tempat kalahiran nya eta di wado Sumedang

  9. “..Menurut saya, belum ada bukti bahwa kerajaan ini kuat secara militer. Ada pun selamatnya kerajaan ini dari kekuatan ekspansi kerajaan sebesar dan sekuat Majapahit kemungkinan besar lebih disebabkan oleh kekuatan diplomasinya, sampai-sampai Maharaja Hayam Wuruk pun tidak merestui ambisi ekspansif Patih Gajah Mada ke wilayah ini…”

    coba baca babad cirebon, Majapahit pra gajah mada pernah dua kali menyerang pajajaran (masa itu cirebon belum kerajaan) tapi berhasil dikalahkan, kapal majapahit disergap di pantai cirebon (dipimpin keansantang/gagak lumayung)-kemungkinan keberhasilan strategi menghancurkan serangan majapahit ini digunakan untuk menyergap pasukan portugis di sunda kelapa.

    sejarah sering berulang, kejadian yang agak mirip perang bubat adalah peristiwa gugurnya haji prawatasari ..

  10. blog na sae pisan..

    kahatur ti abdi
    bobotoh PERSIB

  11. aya tanda-tanda urang cirebon anu intelek ngakuna lain urang sunda, padahal mun maranehna baca babat sunda anu ngajadikeu cirebon teh kokolot urang Cakrabuana
    kumaha tah tanda-tanda hayangen jad propinsi, pribados mah da teu satuju—->cirebon majalengka indramayu subang minyak jeung gas wungkul…dolar kop tah kade emutan…

  12. Urang sunda kamarana wae ieu the,,hayo maju terus urang sunda sampe ka jd presiden sugan,,hehehe ngareupken euy

  13. hayu urang jaga kelestarian budaya sunda khusus na,orang nu berbudaya nu maju..masyarakat sunda masyrakat picontoheun jang masyarakat suku2 d nusantara..teu aya dua na,sim kuring nuju tugas ptt d natuna ngajaga nusantara sakanteunan.. Asli sunda tasikmalaya.

  14. Menurut pendapat saya (mohon maaf jika salah), Majapahit tidak dapat menaklukan tatar Sunda adalah salah satunya dipengaruhi oleh faktor alam jawa barat yang penuh dikelilingi dengan pegunungan, gunung2 dan lembah2 yang untuk mencapainya perlu dukungan kekuatan sumber daya manusia yang cukup besar, pasokan logistik yang cukup banyak dan peralatan perang yang canggih…. pertanyaannya, apakah di jaman itu sudah ada??… sepertinya sih belum… belum lagi cuaca yang dingin dan sering hujan, membuat sulit menembus tatar sunda, oleh karenanya terbukti saat mataram modern hendak mengusir Belanda di Batavia, mereka hanya bisa melewati pesisir pantai (Cirebon), dimana sebenarnya saat itupula pasokan logistik mereka sudah carut marut… gagalnya serangan Mataran membuat banyak pula tentara2 mereka akhirnya tinggal di daerah Matraman sekarang yang ada di Kota Jakarta….

    Sebenarnya sentimen antara Jawa dan Sunda, menurut saya diperuncing oleh Pemerintah Belanda yang saat itu menjajah Nusantara, bayangkan 350 tahun bercokol di nusantara bisa saja merubah sejarah yang sebenarnya tidak demikian (jangan jauh2, orde baru saat berkuasa selama 32 tahun saja sudah banyak sejarah yang diselewengkan) sebenarnya tujuan belanda hanya 1 yaitu memecah belah persatuan dan sayangnya masih banyak diantara kita yang membawa rasa sentimen itu sampai sekarang….

    Saya bersyukur bahwa saya dapat menikmati kebudayaan sunda tanpa sedikitpun berkurang rasa suka saya pada kebudayaan jawa… karena saya merasa bukan masalah sunda atau jawanya tapi bagaimana kita memiliki kebudayaan nusantara… bagi saya ditemukan candi di jawa barat sama senangnya dengan jika ditemukan candi di irian jaya (misalnya)

    terima kasih.

  15. setelah mengikuti beberapa berita mengenai penemuan candi di UII Jogja baru2 ini, maka jika dikaitkan dengan kondisi alam Jawa Barat yang penuh dengan gunung2 berapi… sekali lagi menurut saya (maaf jika salah) ada kemungkinan bangunan-bangunan candi2 di Jawa Barat masih tersimpan dengan rapi (tertimbun) di bawah tanah dan belum terkuak sampai saat ini.

    Mudah2-an suatu saat akan ditemukan juga bangunan candi yang besar dan megah sehingga menjadi kebanggan dari masyarakat sunda khususnya dan Indonesia umumnya…. amiiiin!

  16. wilujeng sumping wae,hatur nuhun kasadaya anu masih deudeuh kana tatar sunda,

  17. aslmualaikum,abd mh hadirin kaget,jeng bngung,cenah d kampung ciburang ds padaasih kc cijati aya Makam sunan ciburang namina,matakan kmpungna d ngaranan ciburang,naha enya eta teh??atw mitos wungkul?pedah cirina cnah aya tumbak titingalna,nu ayn sok d ango upami hutbah jum-ah!sareng aya makam nu jujukutan lhureun eta mkam t neurak ku seuneu,jeng panjang lewih ti biasa!
    cikan ka ahli sejarah pangnalungtikeun,tmana jujutanana!

  18. Kalau menurut sy, kebudayaan jawa lebih maju daripada tatar sunda, karena artinya untuk membangun candi dibutuhkan sistim sosial yang maju dan modern, kalau belm maju dan modern ya jelas tidak bisa membangun candi.

    • Nying sebelum komentar baca dulu dengan Jelas dan seksama pahami setiap kata-2 nya..

    • jawa kowek,,
      baca dengan jelas dong
      dan jangan ngaku2..
      contoh candi borobudur, emang yg bangun kerajaan jawa gitu?
      yg bangun kan kerajaan sriwijaya
      jadi jgn ngaku ngaku deh

    • Sebelumnya maaf , dari dahulu kami itu tidak suka dengan apa yg namanya AGUL KU PAYUNG BUTUT , soal kemajuan mah kieu we ,didinya boga candi , sim kuring gaduh alam nu loh jinawi , nu matak didinya sok hayang ka daerah kami , dina pola pikir na ge ari didinya mentingkeun darajat jeung martabat teu mikiran babaturan , mun kami babarengan nu penting senang badaniyah jeung batiniyah

  19. Kahatur,emut abdi kapittutur Rama prabu Siliwangi:

    “Cileuncang sesa hujan caah datang ti girang,geura riksa tihulu wetan bisi meulengkung bekas nyalahan”

    panon bukakeun geura beunta, ceuli dengekeun sing taliti, manah singkabkeun sing hade, ngaji geura kaji diri memeh pati, sing iman hirup aleman tur kamalinaan, sing taliti milih Gusti, Anging Hyang Tunggal nu kudu disembah”

    ‘Tos ningali saha kuring nusajati?
    najan ujud ukur ujud tanpa raga tapi nampak mata, teu kudu nyarita kasaha kuring apal andika
    iman lan takwa

    Sadulur balarea, naon ari Pajajaran teh?
    Pa=Tempat/wadah,Jajaran=Barisan

    Pajararan=Wadah Barisan, nyaeta Barisan Iman Takwa nu bakal kaluar di ahir wanci dunya….nu disebat ku nabi Muhammad dina quran ash shaaff:4

    hamo leleda neuleuman maksud kaula!!!

  20. aduuuh sanca langit sim kuring hayang ceurik ku pitutur Amma Prabu. SYAHADAT
    SYAH – ADAT
    SAHA – DHAT (DZAT)

  21. kedah di pertahankeun atuh anu atos aya teh sareng kedah di jaga

  22. manawi aya nu uninga silsilah nu kongkrit,yen bojo na prabu kiansantang aya 42 bojo,,,,
    upami aya sakantenan sareng silsilah katurunan ti sdyana yaaa
    wsslm

  23. Assalamualaikum Wr.Wb…

    Mangga urang mumule budaya urang sunda dipupusti sareng dikaji ku urang sadayana.

    Ngahaturkeun nuhun ka penulis…

  24. aing bangga jdi urang sunda hayu urang momole lestarikeun sagala nu nyangkut kanu budaya kabiasaan urang sunda

  25. kata siapa orang sunada ga bisa jadi presisen, sebentar lagi presiden negri ini adalah orang sunda.

  26. haturan…sunda, keur kuring mah boga atawa henteuna ki sunda wangunan candi teu matak nambahan atawa ngurangan kanyaah jeung kadeueuh kuring ka ki sunda…
    nu matak sedih mah mun ningali di sabudeureun urang, barudak anu lahir ti indung bapa sunda ti oorok geus diajarkeun basa endonesia lain basa sunda!
    rek dikumahakeun atuh basa sunda teh?! rek ditumpurkeun bae? rek dipaehan? na teu nyaah kitu kana basa sunda anu sakitu luhungna? kunaon jeung naon alesanana make jeung arembung ngajarkeun basa sunda ka anak sorangan? era? gengsi? kampungan? atawa hese kusabab aya undak usukna? cik atuh sadar urang sunda teh…sadar!! undak usuk basa lain pituin sunda tapi eta teh pangaruh ti budaya sejen ti budaya tatangga anu terus dipertahankeun nepi ka ayeuna…sanajan konsekuensina pada naringgalkeun kusabab dianggap hese! sadar…sunda sadar!!! hudang…hudang…hudang!!!!

    • Malah pikeun kuringmah teu ayana candi di sunda the ngajadikeun bangga, ciciren kolot urang teh teguh pamadegan dina nyepeng kayakinan yen gusti teh nunggal, pan lebah datang islam anu monotheis mah ganjang pisan kolot urang ngagem kana eta agama,

      Kuring panuju pisan yen undak usuk basa nu ngajadikeun hesena diajar basa sunda urang kulon(sukabumi, bogor…..) mun ngomong di bandung era, lantaran kurang ngarti udak usukbasa.

  27. sim kuring orang sunda

    • sampurasun dulur….pami saur pribados keun urang sunda teu kagungan candi tapi urang sunda kedah tetep ngajungjung harga diri sakumaha kanjeng putri dina perang bubat.

  28. gak ngaruh kita gak punya candi tapi aku yakin tanah priangan tempat aku dilahirkan walaupun tidak dibesarkan disana mempunyai nilai sejarah yang sama melegenda seperti daerah -daerah lainya.kitu…..

  29. menghargai jawa artiny hrs menghargai sunda….krn rangkaiannya tidak terputus..jd jg saling merasa lbh baek lah…

  30. Kumaha iye urang Sunda, di Bogor eweuh kasundaan na, di Karawang, di Bakasi di Depok geh ara re weuh. Kami hirup di Lampung, ttp bae mempertahankeun budaya Sunda salain ngajungjung bida Lampung. Iye jalema Sunda asli nu madang, ngising hirup di tanah laluhur cararicing bae nele paehna budaya Sunda di opat kota eta. Kuma iye carita, coba kami hayang ngadengekeun yeuh.

  31. sampurasun, dulur sakabeh, ayeunamah urang pada apal kumaha dongengna kasundaan baheula, tapi tibatan urang bingung mening meuli oncom we, di dawuan aya oncon anu alus anu kawentar ka janapriya ka jamparing angin angin, alus ain pupulsan, lain ngansaukur rasana anu khas oncom, tapi kualitasna ano No 1, tah ka sadaya kadang wargi anu kaleresa ngalangkung ka subang, simkuring ngawartosan, di dawuan aya oncom anu raos, pangaosna mirah, mung $.1,- sa gedengna (sagedeng=2 keureut)

  32. Ngan hanjakal artikelna teu make basa sunda

  33. Hey… Urang sunda karuhun urang kapungkur nyenbah ka sanghiyang widi wasa atanapi numaha kawasa wajar da ka pungkur can lebeut islam tapi kayakinan tos matek kanu kawasa tah ayeuna diri urang naon bedana urangge kudu mantek nyembahteh kudu kanu maha kawasa alloh jeuneungan nana pan sundateh kapanjangan tina susunan dauhan nu maha agung tah kitu rasiahna anu ku urang perlu di jagana.

  34. Assalamu alaikum….sampurasun…ka urang sunda ulah leutik hate komo bari ngarasa rendah diri pila kadar urang sunda can nembongkeun ciri numustari rupa nu mawa komora sarupaning karaton atawa candi.tapi urang kudu ingeut sajarah lakon sunda anu ngawalan tur akhiran diawalan ku aki tirem nini tirem mimiti aya karajaan nu disebut salaka nagara akhiran pajajaran tilem jadi misteri nepi ka kiwari can ka buka. Ke bakal timbul dei. Ka guar patilasan nana, kuring ngadenge beja, beja jeung beja dei carita jeleuma nu sok ka lobang. Di antarana manggihan lobang alam nu di jeurona rupa2 prenak prenik kaya arca jeng lapangan malahan aya danou sagala kitu caritana kuring oge aya percaya aya henteu da etamah omong ti omong dei kawasanana aya disekitar perbatas an
    Antara bogor banten sukabumi di leweng tutupan.

  35. Assalamu alaikum….. Sampurasun. Urang sunda gera hudang geus ngadeketan th tujuh belas gera mandi beberesih cokot cai anu suci bersihken bumi pertiwi tina hadas anu gede jeng nuletik pek gera lakuken sakumaha nu tujuh belas ker ngejar bibit anu tilu sangkan jejeg sipat gusti tangtungken hukum nu adil nu adil tinu kawasa kokohken lambang nagara sangkan ngiblat kana katuhanan yg maha esa ke nga harepan th 20 20 eta sipat nu kagungan kudu ati sing taliti ulah arek lanca linci migusti kanu maha suci sakitu pepeling tikuring sing jadi bahan ka hadeyan wasalam

  36. Yah cing rancage we ka dulur sasuku sunda.robih atuh nami propinsina .tong Ku jawa barat. Bade pasundan atanapi parahiangan satuju teu .hayu urang dukung atuh

  37. Definitely believe that that you said. Your favourite justification seemed to be on the
    web the easiest factor to be mindful of. I say to you, I certainly
    get irked whilst people think about concerns that they plainly don’t realize about.
    You managed to hit the nail upon the highest and also defined out the entire thing
    with no need side effect , other folks could take a signal.
    Will likely be again to get more. Thank you

  38. Betulll karena itulah orang Sunda sangat susah dilepaskan dari Islam karena Tuhan urang Sunda Satu/ahad.. Sampai banyak yang stress ingin melepaskan keislaman Sunda

  39. Agama monotisme pra hindu buda di tatar sunda tiasa di buktikeun ku ayana situs gunung padang..didinya seueur simbol simbol anu aya pakuat pakaitna sareng agama islam

  40. Masyarakat sunda kuno mempunyai agama sendiri yaitu agama sunda yg monoteisme. Tempat sembahyangnya kabuyutan yg biasanya berada di atas gunung seperti gunung padang yg luar biasa luas. Besarnya jauh lbh besar dari borobudur, dan malah mungkin ada lagi yg sejenisnya yg blm ditemukan. Makanya di tatar sunda sedikit candi berbeda dgn di jawa yg menganut hindu budha sehingga ada banyak candi

  41. kenapa di sunda jarang candi karna raja raja sunda sakti” menghilang bersama kerajaannya &sbg bukti di tatar sunda pernah brdiri kerajaan lihat lah mahkota binokasih sanghyang pake di sumedang&bohong besar apabila orang sunda g mau merantau lihat la naskah bujangga manik,trs knapa kita malu pake bhs sunda pdhl kita ini suku paling unggu paling kreatif paling ganteng cantik di antara suku yg lain.

  42. ada suku yg takut klo suku sunda bangkit,makanya pergantian nama provinsi jabar menjadi pasunda or parahyangan tak pernah terrealisasi.pdhl klo kita boleh demo knapa di buku peta yg beredar sekrg yg namanya kepulauan sunda besar sunda& sunda kecil tlah hilang entah lah !sunda hrs bangkit

  43. Sae pisan pedaranana, salami ieu seuseueurna pedaran sajarah sunda diserat dina wangun basa sunda, janten mung kahartos ku urang sunda deui, akibatna bahasan sajarah sareng budaya sunda teu kaguar sacara nasional. Ku diserat nganggo bahasa indonesia mudah- mudahan janten jalan ka payun para ahli sejarah langkung seueur nu nalungtik budaya sareng sajarah urang sunda. Pami sajarah langkung seueur nyebat majapait, sriwijaya, panginten litelatur sajarah budaya sunda seuseueurna dibahas ku basa sunda janten eklusive sipatna. intina urang cobian muka diri nepangkeun diri urang ka batur mugi-mugi ku cara kieu urang nampi feedback sajarah sunda dina catetan atanapi versi bangsa atanapi suku bangsa nu sanes. Ku cara kitu pribados yakin rekontruksi sajarah sareng budaya sunda insyaAllah baris langkung sae margi ditunjang fakta ilmiah catetan sajarah ti pihak sanes nu tiasa dijantenkeun acuan fakta atanapi pengakuan sejarah sunda sacara de facto sareng de jure. Janten sanes dianggap mitos lokal sapertos salami ieu.

  44. setuju dgn tulisan anda

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

%d bloggers like this: