Kekuasaan Sunda dalam Konstalasi Politik Modern; Sebuah Perspektif Perbandingan dengan Jawa

Oleh MOEFLICH HASBULLAH

BERBICARA tentang kekuasaan, terutama dalam perspektif Sunda, ada dua hal berbeda yang perlu dibahas: tradisi kekuasaan dan tradisi berkuasa dari sebuah etnis atas suku-suku atau kerajaan lain dalam sejarah politik Nusantara. Yang pertama, yaitu tradisi kekuasaan, dapat dipastikan ada dalam setiap kelompok masyarakat. Di mana masyarakat manusia berkumpul dan hidup bermasyarakat, dapat dipastikan, di situ terdapat seperangkat instrumen dan struktur kekuasaan serta sekelompok kecil elit penguasa yang memimpin, mengatur dan seringkali menjadi penentu arah hidup publik. Sejak dikenal lewat catatan sejarah, diketahui bahwa masyarakat Sunda mengenal tradisi kekuasaan. Tradisi kekuasaan di Nusantara dalam era klasik dalam wujud konkritnya terlihat dari hadirnya institusi politik seperti kerajaan (masa pra-Islam) dan kesultanan (masa pengaruh Islam), atau negara dan partai politik dalam era modern.

Dalam sejarah politik Nusantara, Kerajaan Tarumanagara adalah salah satu kerajaan tertua yang dikenal terletak di daerah Jawa Barat. Dari naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, diketahui bahwa kerajaan itu berdiri selama kurang lebih 3 abad (abad ke-4 samai abad ke-7) dan telah berlangsung sekitar 12 kali pergantian raja. Masa puncak kejayaan Tarumanagara terjadi pada masa Raja Purnawarman (394 -434). Raja Tarumanagara yang terakhir yaitu Linggawarman mempunyai menantu bernama Tarusbawa. Tarusbawa inilah yang kemudian dikenal sebagai pendiri dan raja pertama kerajaan Sunda yang berkuasa selama kurang lebih 54 tahun (669-723) (Ajip Rosidi dkk., 2000: 649). Kerajaan Sunda sendiri runtuh pada tahun 1579 akibat serangan gabungan Banten dan Cirebon yang sedang meluaskan pengaruh Islam. Adanya Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Sunda (Galuh, Pakuan Padjadjaran dan Sumedang Larang) membuktikan bahwa sejak awal masehi masyarakat Sunda mengenal tradisi kekuasaan dan tradisi politik yang cukup stabil dan panjang. Karenadanya dapat dikatakan bahwa Bila tradisi kekuasaan itu diukur oleh adanya kerajaan Sunda, maka pengalaman politik Sunda telah berlangsung sekitar 14 abad atau lebih.

Yang menarik adalah, mengamati fenomena politik Sunda dalam konstalasi politik Indonesia modern pasca kemerdekaan. Sering muncul pertanyaan bahkan gugatan di kalangan masyarakat Sunda, mengapa orang Sunda relatif tidak memiliki pengaruh dalam percaturan politik nasional pasca kemerdekaan?  Mengapa hanya sedikit tokoh Sunda yang berperan sentral dalam pentas politik dan kepemimpinan nasional terutama pada masa-masa awal kemerdekaan? Mengapa muncul asumsi kuat para pengamat asing tentang Indonesia (Indonesianis) -dan asumsi sangat populer dalam studi-studi sosial politik Indonesia– bahwa untuk memahami Indonesia harus memahami Jawa, atau bahwa Indonesia adalah Jawa. Padahal, ketika disebut “Jawa,” dalam konteks geografis, Sunda adalah bagian dari pulau Jawa.

Sejak kekuasaan kerajaan Sunda ditamatkan oleh pengaruh Islam (abad ke-17), sejarah politik Sunda relatif tidak memiliki kelanjutannya. Dominasi kerajaan Sunda digantikan kerajaan Islam Cirebon dan Banten. Pasca kemerdekan, warisan faham dan nilai-nilai kekuasaan Sunda tidak menemukan refleksinya dalam sejarah negara modern Indonesia. 20 tahun masa Orde Lama dan 32 tahun Orde Baru, seperti disinyalir oleh Benedict Anderson (1990) dan Fachry Ali (1986), merupakan refleksi dan manifestasi dari faham kekuasaan Jawa. Kebudayaan Sunda nyaris tidak mewariskan nilai-nilai kekuasaan dalam politik Indonesia modern.

Konsep-Konsep Kekuasaan

Masa/ Pengaruh Sumber/ Asal Kekuasaan Syarat Perolehan Kekuasaan Sumber Naskah
Kerajaan Sunda Silsilah/keturunan raja Putra dewata Carita Prahyangan, Batara Danghyang
Pra Pengaruh Mataram Kabuyutan (Mandala), yang keramat, adikodrati Penguasaan kabuyutan, bertapa di kabuyutan Amanat dari Galunggung
Pengaruh Mataram Pulung (Wahyu) Tertitisi Pulung terdahulu Sejarah Sukapura
Nurbuat, Cahaya Nurbuat Shalat, Munajat, Pdkt. Diri Pangerah Kornel (roman)
Masa Islamisasi(pengaruh Islam) Keturunan/silsilah tokoh besar, tokoh agama Pendirian Kerajaan (Kesultanan Cirebon) Carita Purwaka Caruban Nagari
Pemberian pusaka/gelar Hubungan darah, pertalian saudara, kesinambungan kekuasaan Carita Purwaka Caruban Nagari

Kebudayaan Sunda memiliki konsep tentang kekuasaan. Masalahnya, studi tentang konsep kekuasaan Sunda ini masih sangat jarang dilakukan. Dari yang sangat sedikit ini, mungkin baru Nina H. Lubis yang pernah membahasnya (1998: 56 – 68; 2000: 136 – 149) kendati dalam uraian pendek dan tidak mendalam. Ia hanya menggambarkan perkembangan legitimasi kekuasaan dalam tradisi Sunda tapi tidak menganalisisnya dalam kaitan dengan kondisi politik Sunda modern. Sepanjang sejarahnya, menurut Nina, konsep legitimasi kekuasaan Sunda mengalami beberapa perubahan baik karena pengaruh intern maupun ekstern. Dari uraiannya, perkembangan legitimasi kekuasaan dalam tradisi Sunda dapat diringkas dalam skema 1.

Konsep-konsep kekuasaan Sunda ini, hampir seluruhnya memiliki kemiripan dengan konsep kekuasaan dalam tradisi Jawa, terutama dalam dua cirinya yang menonjol: terjadi beberapa perubahan sesuai perkembangan dan pengaruh-pengaruh luar serta bersifat mistik.

Hanya, berbeda dengan Jawa, yang “tidak ditemukan” dalam tradisi Sunda adalah uraian tentang ide dan sifat kekuasaan yang justru sangat menonjol dalam alam pemikiran Jawa. Menurut Anderson (1990:17-23), dalam tradisi Jawa kekuasaan dipandang sebagai sesuatu yang konkrit, homogen, jumlah keseluruhannya tetap dan kekuasaan tidak memiliki implikasi moral yang inheren. Selain empat ciri tersebut, Frans Magnis Suseno (1984: 98) menambahkan bahwa kekuasaan bagi orang bersifat numinus yaitu bersifat adikodrati. Menurut Fachry Ali (1986: 32), gabungan sifat-sifat ini memiliki implikasi praktek kekuasaan: “konsentrasi atau pemusatan kekuasaan.” Bagi orang Jawa, konsentrasi dan pemusatan kekuasaan bertujuan untuk menghadirkan keteraturan dan menciptakan keselarasan. Sambil mengutip Anderson, Fachry  Ali (1986: 32) menulis:

Keteraturan dan keselarasan selalu menjadi obsesi orang Jawa. Obsesi ini yang kemudian melahirkan gejala kekuasaan yang dianggap sebagai sesuatu yang konkret, yang homogen dan tak berbagi. Dan pemencaran kekuasaan hanya akan menyebabkan timbulkan ketidakaturan ataupun berbagai konflik dan huru-hara lainnya. Dan oleh karena itu, sebagian kepustakaan tradisional Jawa lebih banyak membicarakan masalah bagaimana memusatkan dan mempertahankan kekuasaan daripada masalah bagaimana menggunakannya dengan wajar.

Krisis dan Transformasi Kekuasaan Tradisional

SAMA dengan di Jawa, baik masa Hindu atau pengaruh Islam, pusat kekuasaan di Sunda terkonsentrasi pada keraton atau istana kerajaan. Terpusatnya kekuasaan di keraton ini ditunjang oleh legitimasi yang kuat masyarakat Sunda pada rajanya seperti tercermin dari istilah-istilah murbawisesa (pemegang kekuasaan tertinggi), ngawula kanu kawasa (mengabdi pada yang berkuasa), kawula gusti, dewa raja dll di mana raja yang dihayati kekuasaannya tak terbatas adalah sebagai titisan dewa yang wajib ditaati perintahnya.

Tetapi sejak masuknya VOC dan kuatnya kekuasaan Belanda yang menghancurkan struktur kekuasaan tradisional, sejak tahun 1684 seluruh daerah Sunda ditaklukan, tahun 1755 seluruh Jawa Tengah dan Timur dijatuhkan dan sejak tahun 1830 seluruh Jawa sudah berada dalam kontrol pemerintah kolonial Belanda. Sejak itulah, struktur dan pusat-pusat kekuasaan tradisional mengalami krisis, transisi dan keruntuhannya. Tetapi, berkuasanya negara asing tidak praktis menggantikan struktur kekuasaan tradisional yang ada. Penguasaan dan kontrol kolonial ini bersifat tidak langsung. Belanda kemudian memerlukan “kelas menengah” dari kelompok ménak Sunda yang menjadi penghubung antara pemerintah kolonial Belanda dengan rakyat jajahan. Dari sinilah kemudian muncul kelompok elit birokrat tradisional pribumi dalam masyarakat Sunda yaitu bupati dan para pangreh praja. Pangreh praja adalah korps pegawai pemerintahan sipil pribumi. Pangreh praja berarti “penguasa kerajaan.” Hierarki pangreh praja umumnya adalah susunan pejabat yang terdiri dari bupati, patih, wedana, asisten wedana. Di samping itu ada pula pejabat mantri seperti mantri tanah, mantri kopi, mantri tebu, mantri pengairan dll. Sebagai bentukan Belanda, posisi mereka sangat dekat dengan Belanda. Selain memonopoli hubungan dengan penguasa kolonial, mereka adalah wakil golongan pribumi dalam urusan dengan Belanda.

Dengan munculnya elit pribumi yaitu bupati dan pangreh praja ini, maka runtuhnya kekuasaan tradisional (baik Sunda maupun Jawa) tidak berarti hapusnya sisa-sisa kekuasaan tradisional yang ada. Para bupati sebagai elit pribumi memiliki kekuasaan dan memimpin masyarakat. Tetapi sesuai dengan perubahan struktur politik yang terjadi, dimana pemerintah asing Belanda menjadi penguasa, para bupati ini melepaskan kesetiaan dan keterikatannya sedikit demi sedikit pada pusat-pusat kekuasaan tradisional, yaitu keraton, kemudian merubah kesetiaannya dengan mengintegrasikan dirinya pada penguasa yang baru.

Pergeseran Kekuasaan Tradisional:

Keraton (Raja) >>>  Kabupaten (Bupati) >>>  Institusi modern (Ketua/pemimpin)

Sampai disini, struktur dan sejarah kekuasaan tradisional baik di Sunda maupun di Jawa relatif berada dalam kondisi dan perkembangan yang sama. Yang kemudian berbeda dan kelak Jawa mengkonsolidasikan perannya yang menonjol dalam percaturan politik pasca kemerdekaan adalah periode sejarah yang berkembang sejak kehadiran kelompok birokrat lokal yaitu bupati dan para pejabat pangreh praja ini.

Elit Sunda Dalam Pergerakan Nasional

DALAM perkembangannya, fungsi para pejabat pangreh praja tidak terbatas hanya sebagai penghubung atau komunikator antara kaum pribumi dan penguasa Belanda atau ekspresi kekuasaan asing dalam sosok pribumi. Lebih jauh mereka telah menjadi lapisan elit masyarakat tersendiri yang terus berkembang. Dalam perkembangannya pangreh praja telah mengalami perluasan fungsi sebagai berikut:

  1. Menjadi katalisator terhadap tuntutan-tuntutan dan aspirasi-aspirasi baru di kalangan mereka akibat perubahan struktural dan kebijaksanaan politik etis.
  2. Menjadi wadah bagi munculnya gerakan-gerakan bersifat institusional dan menjadi wadah saluran kekuasaan.
  3. Menjadi ujung tombak perubahan-perubahan sosial.

Karena fungsi yang berkembang seperti di atas, pangreh praja justru telah telah berkembang menjadi agen modernisasi bagi kelompok pribumi. Perkembangan mereka yang signifikan adalah pada posisi sosial dan kemakmuran ekonomi, tetapi yang paling penting adalah hak privilese yaitu akses kelompok ini pada dunia pendidikan modern yaitu STOVIA, HIS dan HBS. Dari 743 orang murid yang bisa bersekolah di STOVIA Batavia pada tahun 1875 – 1904 misalnya hampir semuanya adalah anak-anak pangreh praja: anak-anak pejabat tinggi 146 orang, pejabat menengah 278 orang, pejabat rendah 119 orang. Dari dominasi anak-anak pejabat itu, yang lulus hanya sedikit yaitu 160 orang. Yang lulus paling banyak adalah dari anak-anak wedana dan bupati.

Dapat dikatakan, peranan dan posisi pangreh praja dalam sistem kekuasaan kolonial inilah yang kemudian membedakan peranan sejarah kekuasaan Sunda dari Jawa dalam era modern abad ke-20. Pada awal abad ke-20 hanya anak-anak dari kelompok elit, bangsawan dan pejabat terhormatlah yang bisa memasukkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan modern seperti STOVIA dan sekolah-sekolah Belanda lainnya. Sejarah mencatat, para lulusan pendidikan modern sekolah-sekolah Balanda inilah yang kemudian melahirkan para aktivis pergerakan nasional dan cikal-bakal pemimpin nasional seperti Soekarno, Hatta, Gatot Mangkuprojo, Subardjo, Soetomo, Dokter Tjipto, Gunawan Mangunkusumo dll.. Para aktivis gerakan yang mendirikan Perhimpunan Indonesia misalnya adalah sekelompok intelektual mahasiswa Indonesia yang mengenyam pendidikan Belanda.

Gerakan ini terus bertambah, meluas dan berkembang sampai kemerdekaan dan sampai terbentuknya pemerintahan negara Republik Indonesia. Juga para aktivis pergerakan nasional lah yang awalnya masuk dalam pendidikan elit modern yang kemudian menjadi para pemimpin Negara Indonesia baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru. Para pemimpin di puncak tertinggi inilah -yang rata-rata orang Jawa- kemudian merefleksikan nilai-nilai kekuasaan yang mereka hayati dan internalisasi sejak dari kecil. Pengalaman penghayatan nilai-nilai kekuasaan tradisional Jawa itu begitu berkesan, ditambah model kekuasaan yang otoriter, sehingga memuluskan para penguasa ini mengaplikasikan ideologi dan nilai-nilai tradisionalnya dalam kepemimpinan modern. Dalam konteks inilah nama-nama atau tokoh-tokoh Sunda dan berorientasi Sunda tidak terdengar. Rata-rata para aktifis Jawa lah yang menguasai dunia pergerakan nasional awal abad ke-20, baik yang berhaluan Islam, nasionalis maupun komunis seperti Boedi Oetomo, SI, Muhammadiyah, PI, PNI dan lain-lain.

Walhasil, ketiadaan jejak politik dan kekuasaan Sunda dalam konteks pergerakan nasional dan kepemimpinan Indonesia pasca kemerdekaan adalah sesuatu yang terjadi dan berproses secara alami. Mungkin SDM, jumlah penduduk atau khazanah kekayaan historis kekuasaan Sunda memang tidak mewariskan kebesarannya. Kemunculan kesan kebesaran Jawa dalam Indonesia modern, sepenuhnya berkat kebangkitan kembali manusia Jawa (para aktivisnya) yang mendominasi percaturan politik dan pergerakan nasional. Ketika manusia-mansuia Jawa ini memimpin negara (Soekarno, Soeharto) mereka mendapat kesempatan yang besar untuk mengeksperimenkan kekuasaan Jawa dalam Indonesia modern.

Daftar Pustaka

  • Ajip Rosidi dkk. 2000. Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia dan Budaya, Pustaka Jaya.
  • Ayatrohaedi. 2003. ‘Orang Sunda Salah Memilih Leluhur?,’ Pikiran Rakyat, 2 Januari.
  • Anderson, Benedict R. O’G. 1990. Language and Power. Exploring Political Culture in Indonesia, Ithaca and London: Cornell University Press.
  • Fachry Ali, Refleksi Faham Kekuasaan Jawa dalam Indonesia Modern, Gramedia, Jakarta: Gramedia.
  • Frans Magnis Suseno. 1984. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Jakarta: Gramedia.
  • Nina H. Lubis.1998. Kehidupan Kaum Ménak Priangan 1900 – 1942, Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.
  • Nina H. Lubis. 2000. Tradisi dan Transformasi Sejarah Sunda, Bandung: Humaniora Utama Press.

LIHAT INDEKS ARTIKEL

6 Balesan

  1. Mohon komunikasinya, saya sedang membuat disertasi tentang faham kekuasaan dalam budaya sunda, pandangan elite keturunan sumedang larang, dalam perspektif ilmu politik.
    apakah punya alamat /hub dg ibu Nina l lubis dari Unpad?
    trmkash.
    indiana.

  2. ceuk sim kuring mah urang sunda teh ngedul, lalengle, jeung agoan, feodal. mangka dina kayaan globalisasi siga kiwari tong teuing digegedekeun budaya sunda teh teu kondusif. mending diajar budaya nu matak jembar salam dunya.
    cag!! punten.

  3. kalau mau belajar politik datang di muna age menunggu gadis manis dari jakarta siap jadi konsiltan cinta dengan seribu canda dan rayuan yang membingungkan klistoris

  4. MANDALAJATI NISKALA MENEMUKAN
    SISTEM EKONOMI SUNDA GLOBAL STAMO~2013
    Oleh: Helmi Adam Pramudya
    —————————————————————-
    KATA PENGANTAR SELAYANG PANDANG
    SISTEM EKONOMI SUNDA GLOBAL STAMO~2013.

    Dengan perasaan gembira saya diberi kepercayaan oleh Mandalajati Niskala untuk menyajikan “Sajorelat Ngenaan STAMO~2013”. Sebenarnya sejak akhir tahun 2007 beliau telah banyak bercerita kepada saya mengenai sebuah Sistem Ekonomi Sunda, yang mampu melahirkan kesejahteraan kepada seluruh umat manusia di dunia ini; Sistem Ekonomi ini beliau beri nama STAMO~2013.- Setelah saya baca dan pelajari dengan teliti, kemudian pertanyaan bertubi-tubi dari berbagai sudut pandang saya lontarkan kepada beliau; terutama yang berhubungan dengan sebuah Sistem Ekonomi; Aneh bahwa STAMO~2013 tidak termasuk Sistem Ekonomi Kapitalis juga bukan Sistem Ekonomi Sosialis. Bukan Koperasi, juga bukan Ekonomi Kerakyatan. Tadinya saya memandang bahwa STAMO~2013 adalah sebuah Sistem Ekonomi Baru yang lahir di penghujung peradaban manusia. Lebih aneh lagi bahwa Mandalajati Niskala mengatakan; “Ini bukan Sistem Ekonomi Baru tapi sebuah Sistem Ekonomi Sunda yang merupakan ‘Sistem Ekonomi Fitrah’ dan memiliki kemampuhan untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia di Dunia ini, serta pernah hidup dalam tatanan masyarakat Sunda dahulu kala”. Saya melihat begitu tajam dan mengakar Mandalajati Niskala menyoroti berbagai Sistem Ekonomi; sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa system-system tersebut akan hancur digilas oleh kesalahan dan kejahatannya sendiri. Saya yakin betul bahwa STAMO~2013 adalah sebuah Sistem Ekonomi Fitrah, Perfect, Holistik, Universal dan Rasional yang dihadirkan oleh Sunda dan akan disambut oleh umat manusia di seluruh Dunia ini.
    Bahwa yang dimaksud STAMO~2013 oleh beliau adalah sebuah singkatan dari Sistem Tribanda Aset Masyarakat Otomatis; dan 2013 adalah titik awal STAMO mendengungkan suaranya diseluruh Dunia; kemudian yang dimaksud unsur Tribanda Asset pada STAMO~2013 adalah:

    1)Sepertiga bagian Aset Otomatis Milik Negara
    2)Sepertiga bagian Aset Otomatis Milik Rakyat dalam suatu Negara
    3)Sepertiga bagian Aset Otomatis Milik Pengusaha STAMO~2013 di suatu Negara

    Mandalajati Niskala memberikan gambaran bahwa SUNDA adalah pemilik Hak Cipta & Hak Paten STAMO~2013. Dalam pengelolaannya diserahkan kepada 120 orang PEMEGANG KUASA SEBAGAI PENGELOLA YANG BERKEDUDUKAN DI INDONESIA. Sesuai Kitab STAMO~2013 bahwa PEMEGANG KUASA SEBAGAI PENGELOLA, mengelola royalty 10 % dari keuntungan bersih di setiap aktivitas STAMO~2013 di seluruh dunia.
    Royalty yang Masuk dari seluruh dunia itu tersebut akan dipakai untuk membiayai Sistem Organisasi & Perbankan STAMO~2013 diseluruh Dunia, kemudian sisanya akan dipecah kepada tiga bagian, yaitu:

    1)Sepertiga bagian akan diberikan kepada Negara Republik Indonesia
    2)Sepertiga bagian akan diberikan kepada Seluruh Rakyat Indonesia
    3)Sepertiga bagian akan dibagikan secara merata kepada PEMEGANG KUASA SEBAGAI PENGELOLA Hak Cipta dan Hak Paten STAMO~2013, yang berjumlah 120 orang.

    Dapat dibayangkan betapa akan jadi kaya raya Negara kita mendapatkan sepertiga bagian royalty yang mengucur terus menerus secara permanent dari nilai ribuan triliun transaksi ekonomi yang terjadi setiap hari di dunia ini. Demikian pula seluruh masyarakat Indonesia akan hidup sejahtera dan berkelebihan harta lebih awal, karena mendapatkan sepertiga bagian royalty yang mengucur terus menerus secara permanent.
    Mandalajati Niskala menjelaskan kepada saya mengenai Kitab STAMO~2013 yang SELURUHNYA BERADA DI DALAM MEMORI OTAK MANDALAJATI NISKALA, akan disusun oleh PEMEGANG KUASA SEBAGAI PENGELOLA. Kitab STAMO~2013 yang dilahirkan harus memiliki kriteria sempurna, selain memuat BAB, Pasal, Ayat dan Poin secara rinci, juga harus memperhatikan unsur penting lainnya, diantaranya;

    1)BERSIFAT UNIVERSAL;
    Kitab ini harus menjelaskan bahwa STAMO~2013 dapat diberlakukan dimanapun di seluruh Dunia, untuk dapat dirasakan manfaat kesejahteraannya oleh seluruh manusia di seluruh Dunia.

    2)BERSIFAT INTEGRAL;
    Kitab ini harus menjelaskan bahwa STAMO~2013 memiliki KAITAN INTEGRAL yang jelas dan tidak terlepaskan dari seluruh kompleksitas kehidupan, yang terintegrasi sampai pada variable terkecil BAHWA SELURUH MANUSIA DI SELURUH DUNIA MUTLAK HARUS MERASAKAN KESEJAHTERAAN SESUAI RENCANA TUHAN YANG MAHA KUASA, serta harus mampu menggambarkan hubungan-hubungannya secara rinci dan detail. Hal ini penting untuk menghindarkan munculnya PENYALAHGUNAAN STAMO~2013 yang diarahkan bagi kepentingan “SISTEM EKONOMI DESTRUKTIF”.

    3)BERSIFAT NATURAL HUMANIORA;
    Kitab ini harus menjelaskan bahwa STAMO~2013 merupakan fitrah kemanusiaan dalam beraktifitas ekonomi yang berkeadilan, bersumber dari Sunda untuk kesejahteraan umat manusia di Dunia.

    4)BERSIFAT SPIRITUAL HOLISTIK;
    Kitab ini harus menjelaskan bahwa STAMO~2013 semata-mala untuk menyempurnakan persembahan manusia Sunda kepada Tuhan YMK, dalam menjalankan amanah kehidupan di alam Dunia ini

    5)BERSIFAT PERMANEN & MANDIRI;
    Kitab ini harus menjelaskan bahwa STAMO~2013 bersifat permanent tidak ada pihak manapun yang berhak merubah baik Bab, Pasal, Ayat maupun Poin, karena STAMO~2013 ini merupakan Hak Cipta Sunda, yang tidak perlu dikompromikan kepada pihak manapun. STAMO~2013 MENYATAKAN MANDIRI & MELEPASKAN DIRI TEORI EKONOMI MANAPUN.

    6)BERSIFAT ORIGINAL;
    Kitab ini harus menjelaskan bahwa STAMO~2013 merupakan SISTEM EKONOMI ORIGINAL SUNDA yang membebaskan diri dari; SISITEM EKONOMI KAPITALIS, SISTEM EKONOMI SOSIALIS, SISTEM EKONOMI KOPERASI, SISTEM EKONOMI KERAKYATAN, SISTEM EKONOMI SYARIAH dan lain sebaginya. STAMO~2013 adalah REKONOMI SUNDA sebagai SISTEM EKONOMI SANG KHALIFAH RATU ADIL.

    7)BERSIFAT TERPADU;
    Kitab ini harus menjelaskan bahwa STAMO~2013 mengikat hubungan terpadu antara PEMEGANG KUASA SEBAGAI PENGELOLA Hak Cipta / Hak Paten Sunda dengan Negara Negara yang memberlakukan STAMO~2013 diseluruh dunia; yang di dalam Negara tersebut ada para pengusaha STAMO~2013 dan rakyat STAMO~2013, yang terfasilitasi dalam wadah organisasi yang bersifat PERBANKAN MODERN.

    8)PERBANKAN MODERN;
    Kitab ini harus menjelaskan bahwa STAMO~2013 menyelenggarakan SISTEM PERBANKAN MODERN diseluruh Dunia. Bahwa yang dimaksud Perbankan Modern adalah SISTEM PERBANKAN YANG DIKEMBALIKAN KEDUDUKANNYA KEPADA FITRAH, yaitu sebagai LEMBAGA NIRLABA YANG BERTUGAS “MERUPAKAN PENGABDIAN” UNTUK MEMBERIKAN LAYANAN BAGI TERCIPTANYA KESEJAHTERAAN UMAT MANUSIA DI SELURUH DUNIA. STAMO~2013 menghilangkan BISNIS PERBANKAN.
    Tiga Sistem Perbankan Stamo~2013 akan diselenggarakan di seluruh Dunia sebgai berikut:

    i)BANK NEGARA STAMO~2013
    adalah Bank yang diselenggarakan di setiap Negara untuk mengamankan SEPERTIGA ASET DARI KEUNTUNGAN STAMO~2013 yang menjadi HAK MILIK NEGARA.
    ii) BANK NIAGA STAMO~2013
    adalah Bank yang diselenggarakan di setiap Negara untuk mengamankan SEPERTIGA ASET DARI KEUNTUNGAN STAMO~2013 yang menjadi HAK MILIK PARA PENGUSAHA DI SETIAP NEGARA.
    iii) BANK RAKYAT STAMO~2013
    adalah Bank yang diselenggarakan di setiap Negara untuk mengamankan SEPERTIGA ASET DARI KEUNTUNGAN STAMO~2013 yang menjadi HAK MILIK SELURUH RAKYAT YANG BERADA DI SUATU NEGARA.

    9)BERSIFAT TUNTAS;
    Kitab ini harus menjelaskan bahwa STAMO~2013 merupakan LEMBAGA EKONOMI DUNIA yang memuat segala permasalahan kemanusiaan yang berhubungan dengan KEADILAN DAN KESEJAHTERAAN KEHIDUPAN LAHIR BATIN yang harus diselesaikan oleh STAMO~2013 secara TUNTAS.

    Aneh dan tidak terbayangkan sebelumnya oleh saya; Bahwa Mandalajati Niskala menjelaskan begitu detail sebuah kitab yang akan lahir dipenghujung peradaban umat manusia, yang mampuh memberikan jawaban konkrit kepada seluruh system dan “isme-isme kehidupan” dalam permasalahan kemanusiaan yang menyangkut ekonomi sebagai alat kesejahteraan hidup dan kehidupan umat manusia diseluruh dunia.

    Sisi lain menyoroti figur Mandalajati Niskala lebih aneh lagi, sebab beliau tergolong manusia Multi Talenta yang sanggup berpikir dan berhipotesa secara orisinil dan mandiri dalam banyak disiplin ilmu, sehingga produk-produk berfikir beliau sangat fitrah, logis, konstuktif, holistik dan alami. Beliau bukan termasuk manusia yang suka membaca buku, tapi saya yakin beliau berpotensi untuk melahirkan banyak buku dalam berbagai ilmu pengetahuan. Saya sendiri banyak belajar pada beliau mengenai, Filsafat Sunda, Filsafat Pendidikan, Filsafat Diri Manusia, Puragabasa dan Ruh Bahasa Sunda, Tasauf, Ilmu Kepemimpinan, Ilmu Metafisika, Spiritual, Ilmu Intelejen, Ilmu Terapi, ilmu bela diri dan banyak lagi ilmu yang “rada-rada aneh dan menakjubkan”.

    Mandalajati Niskala bukan produk akademik, tapi saya yakin cara berfikir beliau bisa jauh lebih melesat; beliau menemukan dan menguasai metoda bagaimana menghubungkan diri terhadap diri sendiri juga terhadap sesuatu di luar diri di alam ini; yang beliau katakan sebagai Kesadaran Raga, Kesadaran Sukma, Kesadaran Kusumah, Kesadaran Samasta, Kesadaran Nitis dll. Dari penguasaan metoda ini beliau dapat menemukan berbagai khazanah kekayaan ilmu pengetehuan yang menakjubkan; kemudian beliau katakan: “Inilah Ilmu Sunda yang tidak dimiliki pihak lain”. Beliau menjelaskan pula gelombang Sir, Budi, Cipta, Rasa dan Karsa yang berhubungan dengan; Devinisi, Karakteristik serta Indikasinya; juga menjelaskan mengenai “Lima Hak AZASI Potensi Makhluk” (jadi bukan hak AZASI manusia saja); yang sangat mengherankan saya, beliau katakan bahwa dalam Sunda kata AZASI itu sebenarnya merupakan singkatan dari urutan yang sangat konstruktif tersusun secara KRONOLOGIS MENURUT URUTAN WAKTU yaitu: Asma, Zat, Af’al, Sifat dan Iradat yang disingkat menjadi AZASI. Beliau menambahkan bahwa para Cerdik Cendikia ilmu Tasauf/Tarekat, baik para Kyai maupun para Akademik hanya mengenal “Empat Potensi Makhluk”, demikian pula yang umumnya kita ketehui, dengan susunan yang tidak konstruktif, acak-acakan seperti; Zat, Asma, Af ‘al, Sifat.
    Yang cukup mengherankan saya bahwa buku tidak pernah ia jadikan sebagai acuan atau rujukkan atau referensi dalam mendapatkankan ilmu pengetahuan. Beliau begitu yakin bahwa alam jagat raya ini adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Pengetahuan apa pun yang ingin beliau ketahui, cukup dengan menghubungkan diri terhadap sesuatu di luar diri di alam ini yang metodanya telah ia kuasai; yang tergambar dalam ungkapan; “NYUKMA NGUSUMAH NITIS LAJU NITIS DIPINDA SUKMA”. Pada saat nitis dipinda sukma itulah beliau telah mampu menangkap folder-folder pengetahuan yang dikehendakinya. Untuk mendapatkan Definisi, karakteristik, dan indikasi dari pengetahuan yang baru didapat, beliau cukup memanfaatkan gelombang Sir, Budi, Cipta, Rasa, dan Karsa, seperti yang dikatakannya. Beliau juga mengatakan kepada saya dengan tatapan mata yang sangat jauh: “Tahu Tidak…., bahwa Manusia Sunda adalah manusia “teraneh” di Dunia ini. Dazal dan Kaum Yahudi merasa takut, karena tidak akan mampu bertipu daya terhadap Manusia Sunda”.
    Ini sebuah gambaran bagaimana cara berfikir Mandalajati Niskala, hingga kita dapat memaklumi bahwa STAMO~2013 bukan hal yang sepele dan ecak-ecek. Hal ini saya sadari karena selama dua kali penyebaran naskah ini dikalangan para tokoh Sunda bahkan para Sarjana Ekonomi; Mandalajati Niskala mendapatkan kesimpulan sementara, bahwa ternyata yang dikatakan para akhli baik di kalangan akademisi maupun politisi rata-rata mempunyai cara berfikir yang sangat “Terbelakang”, ditinggalkan oleh Sistem Sunda itu sendiri yang Adi Luhung.

    Di atas dalam tulisan ini telah dikatakan bahwa, Mandalajati Niskala menyerahkan kepada 120 orang Tokoh Sunda PEMEGANG KUASA SEBAGAI PENGELOLA Hak Cipta / Hak Paten Sunda, yang kemudian mendapatkan Hak Royalty secara Internasional dari pemberlakuan STAMO~2013 di seluruh Dunia. Tetapi beliau telah menetapkan diri untuk tidak menerima sepeser pun dari semua hak yang akan didapat dari STAMO~2013 ini.

    Hal demikian dilakukan oleh beliau bukan atas dasar takabur atau apapun, tapi atas dasar perjanjian dan sumpah dirinya kepada Tuhan. Karena hanya satu yang beliau inginkan, yaitu Pertolongan dan Perlindungan Tuhan YMK agar STAMO~2013 BISA BERJALAN MEWUJUDKAN KEADILAN EKONOMI BAGI KESEJAHTERAAN UMAT MANUSIA DI SELURUH DUNIA; oleh karena itu apa yang beliau temukan akan diberikan bagi kepentingan kehidupan kemanusiaan dan alam sekitarnya.

    Tugas kita sekarang adalah Tong Talangke, memicu diri, sama-sama berjuang untuk melahirkan Kitab STAMO~2013, agar yang menjadi cita-cita dan perjuangan Mandalajati Niskala dalam menggali hasanah kekayaan Sunda bagi terciptanya kesejahteraan umat manusia dapat segera terwujud.
    Tentu saja yang mampu menyelenggarakan dan mengaping keselamatan ekonomi STAMO~2013 hanyalah “Manusia Suci Sang Khalifah Ratu Adil”.

    Jangan heran kalau dalam SELAYANG PANDANG STAMO~2013 akan terlihat gaya bicara dan cara berbahasa yang fenomenal dan sepertinya ringan dalam menghadapi resiko. Memang Mandalajati Niskala seorang yang aneh, segala yang beliau susun hanya merupakan implementasi dari penyempurnaan diri dihadapan Sang Pencipta dan yang ditemukannya untuk “dipersembahkan” kepada “Manusia Suci Sang Khalifah Ratu Adil”. Apa yang menjadi kemampuannya tidak menjadi kebanggaan diri dan keluarganya, demikian pula kelima orang anaknya tidak merasa bangga atas temuan orang tuanya.
    Beliau mengatakan bahwa ilmu bukan turunan tapi sebuah proses intelektualitas pada setiap diri manusia bersama Tuhannya. Satu sisi keanehan beliau karena namanya banyak; Jatisukma Dewaruci, Jagatpati Lasykar Langit, Gelap Nyawang, Gurat Bumi, Sandekala Siliwangi, Sri Palasipati, Kalfatar Garbakala dll. Itu semua sebenarnya bukan nama asli beliau. Cag.

    Bral Sunda Tandang Makalangan
    Nambak Ngabalerante Para Pasakten Leber Wawanen
    Hayu Turun Gunung Muru Bandung
    Prung Padungdung Lawung Ka Ahung Buana Gembrung
    Demikianlah Kata Pengantar saya semoga mendapatkan sekilas gambaran mengenai Mandalajati Niskala maupun STAMO~2013.

    Bandung Bandawasa Banda Indung, September 2009
    HELMI ADAM PRAMUDYA.
    (Helmi Adam Pramudya adalah Wartawan Sunda yang memberikan support moril kepada Mandalajati Niskala, sebagai penyaji naskah “Sajorelat Ngeunaan STAMO~2013”)

  5. Maaf tiba-tiba nyontrol dengan membawa judul:
    MANDALAJATI NISKALA MENEMUKAN
    SISTEM EKONOMI SUNDA GLOBAL STAMO~2013

    Maksud saya SUNDA bukan untuk DIPERBANDINGKAN DENGAN POTENSI ETNIS, sebab teritori Sunda memiliki cakupan dalam KEWILAYAHAN GLOBAL.
    Sunda bukan etnis sebab kata etnis berasal dari kata et~Nusa.
    et~Nusa Bali melahirkan et~Nis Bali,
    et~Nusa Lombok melahirkan et~Nis Lombok,
    et~Nusa Madura melahirkan et~Nis Madura dll.

    Dibawah et~Nis baru ada suku.
    et~Nusa Sumatra melahirkan et~Nis Sumetra
    dengan Suku; Batak, Aceh, Padang dll.

    et~Nusa Jawa melahirkan et~Nis Jawa
    dengan Suku; Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

    Tidak ada et~Nusa Sunda.
    SUNDA ADALAH POTENSI GLOBAL, yang kebetulan kordinat tripel zeronya (Titik Herkules) atau sebagai TITIK PUSAT SUNDA ada di wilayah Jawa Barat, tepatnya di PUSAT PARAHYANGAN.

    Sunda BUKAN NAMA ETNIS MAUPUN SUKU, tapi nama Planet yang kita duduki, yang bernama PLANET BUMI lam~DA atau PLANET BUMI sun~DA.

    Lihat Produk Berfikir Manusia di Pusat Sunda SELALU BERCIRIKAN GLOBAL seperti MANDALAJATI NISKALA.

    Adapun yg beranggapan Sunda merupakan etnis yang lokal, adalah korban dari kejahatan sejarah yang dilakukan Sistem Dazal Barat maupun Sistem Dazal Timur, DENGAN MAKSUD UNTUK MENGADU DOMBA.

    SUNDA MILIK SEMUA ORANG YANG ADA DI BUMI INI,
    MAKA SEBAIKNYA KITA BERHENTI MENGKERDILKAN SUNDA.

    Terima kasih.
    Helmi Adam Pramudya.

  6. SELAMAT DATANG
    █▀█║█▀█║║█║█▀█║║█║█▀█║█▀█║║█▀█║█▀█
    █▀▀║█▀█║║█║█▄█║║█║█▄█║█▀▀█║█▄█║█║█
    ▀║║║▀║▀║▀▀║▀║▀║▀▀║▀║▀║▀║║▀║▀║▀║▀║▀
    █▀█║█▀█║█║█║█▀█║█▀█
    █▄█║█║█║▀▀█║█▄█║█▀▀█
    ▀║▀║▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀║║▀
    SELAMAT BERLOMBA MERAIH GELAR RATU ADIL
    ▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀

    ZARO BANDUNG ZARO AGUNG MAJELIS AGUNG
    █▀█║█▀█║█▀█║║█▀█║
    █▀▀║█▀█║█▀▀█║█▄█║
    ▀║║║▀║▀║▀║║▀║▀║▀║
    █║█║█║█║█▀█║█▀█║█▀▀║█▀█║█▀█
    █▀█║▀▀█║█▀█║█║█║█║█║█▄█║█║█
    ▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀║▀
    █▀█║█▀█║█║█║█▀█║█▀█║║║║▀▀█║█▀█║█║▀▀█
    █▀█║█║█║▀▀█║█▀█║█▀▀█║║║█▀▀║█║█║█║▀▀█
    ▀║▀║▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀║║▀║║║▀▀▀║▀▀▀║▀║▀▀▀
    MANDALAJATI NISKALA
    Sang Pembaharu Dunia Di Abad 21
    ▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀
    Zaro Bandung Zaro Agung
    Majelis Agung Parahyangan Anyar
    adalah Top SDM Parahyangan,
    yang menyandang amanah dalam lingkup
    FILOSOFI IDEOLOGI SPIRITUAL SUNDA,
    yang memiliki otoritas melahirkan
    Khalifatulard “RATU ADIL” di Abad 21

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

%d bloggers like this: