Perilaku Politik Orang Sunda

Oleh SETIA GUMILAR

SEBAGAI dampak diberlakukannya konsep sentralisme pada masa Orde Baru hampir seluruh tatanan sosial mengalami persoalan yang sangat mengkhawatirkan. Dari segi budaya, kita merasakan adanya pemberangusan nilai-nilai budaya lokal yang semestinya merupakan fondasi bagi bangsa yang majemuk keberadaannya di dalam berinteraksi dengan nilai-nilai yang masuk melalui proses modernisasi dan globalisasi. Akibatnya, nilai-nilai budaya lokal kian tenggelam dimakan oleh budaya asing sebagai konsekuensi adanya upaya pemulihan kestabilan negara dengan menjadikan modernisasi sebagai ujung tombak pembangunan pada masa peralihan dari Orla ke Orba.

Memang kita tidak menafikan akibat penerapan konsep modernisasi tersebut. Kita dapat merasakan kemajuan ekonomi, kestabilan politik yang kian meningkat pada masa Orde Baru. Tetapi konsekuensi lebih lanjut, keterlenaan akan suasana yang harmonis telah menjadikan para pemegang kebijakan lupa diri. Upaya mempertahankan posisi dari kekuasaan menjadi fokus utama di kalangan para penguasa. Dari kondisi inilah segala kebijakan cenderung untuk berpihak pada satu pihak semata. Di sinilah pemberlakuan konsep sentralisme mulai diterapkan sebagai salah satu upaya untuk tetap melanggengkan kekuasaannya dalam rangka menikmati seluruh kehidupan ynag berorientasi pada kesenangan materi.

Mereka lupa terhadap nilai budaya lokal yang telah menjadi unsur pembentuk dan perekat bangsa. Dengan dalih demi kestabilan, ada usaha-usaha mematikan budaya-budaya lokal yang kuno digantikan dengan budaya luar yang menjanjikan dan mampu mengikuti arena perubahan zaman. Setiap aksi yang mengedepankan budaya lokal selalu dihadang oleh pihak berwenang. Dalam hal ini, penulis melihat kegagalan Orde Baru bahkan awal tidak jelasnya Orde Reformasi hingga sekarang sebagai akibat bangsa yang tidak lagi mempertimbangkan dan mengindahkan warisan budaya lokal yang sekaligus merupakan karakter bangsa yang sebenarnya.

Kita dapat melihat aksi-aksi para politisi kita yang jauh dari kepentingan rakyat. Hanya keinginan pribadi dan kelompoklah yang menjadi fokus perhatian para politisi kita. Mereka terjebak oleh kebebasan semu, terjebak oleh dalih reformasi yang tidak jelas. Segala cara dihalalkan untuk mencapai tujuannya. Satu pihak saling caci, saling menyalahkan, saling mengklaim dirinya atau kelompoknyalah yang paling benar. Prilaku yang haus akan kekuasaan menjadi tujuan utama dan pertama. Mereka salah mengartikan ungkapan Laswell bahwa politik adalah Who gets What, When and How. Nilai-nilai yang diwarisi oleh agama ataupun budaya lokal tenggelam dimakan oleh nafsu kekuasaan. Seperti itulah profil prilaku para politisi kita di zaman sekarang ini. Bagaimana dengan prilaku politik orang sunda?

**

SUNDA sebagai sebuah entitas budaya lokal terbesar kedua di Indonesia setelah budaya Jawa mempunyai seperangkat nilai-nilai atau norma-norma dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari mulai norma agama, politik, hukum, sosial, dan ekonomi hingga pada persoalan kehidupan lainnya. Khusus bidang politik, Sunda pun mempunyai norma-norma sebagai warisan dari budaya leluhurnya. Sejarah telah membuktikan, banyak tokoh-tokoh sunda yang menjadi politisi  dan berhasil menjadikan rakyat sejahtera, aman dari ancaman. Pangeran Kornel, Dipati Ukur, Otto Iskandar Dinata, dan yang lainnya merupakan tokoh-tokoh Sunda yang telah menjadikan norma budaya lokal sebagai dasar bagi perjuangannya.

Kenyataan hari ini, para politisi Sunda belum mampu menunjukkan jati dirinya sebagai politisi yang diperhitungkan di arena nasional, bahkan disamping terpengaruh oleh suasana global,  politisi Sunda masih di bawah keberadaannya di banding politisi dari daerah lain. Sangat ironis, DPRD Jawa Barat yang merupakan daerah orang Sunda diisi oleh sedikit putera-putera daerah. Para politisi Sunda, dilihat dari kuantitas yang duduk di gedung DPRD Tk. I lebih sedikit jumlahnya dibanding politisi dari luar daerah. Persoalan ini harus mendapatkan perhatian yang serius dari banyak unsur masyarakat Sunda. Apalagi bila melihat daftar calon legislatif yang diusulkan oleh setiap partai politik dalam pemilu 2004 lalu, dapat dilihat sejumlah orang yang menduduki nomor wahid bukan berasal dari orang Sunda sendiri melainkan berasal dari luar daerah.

 Lahirlah sejumlah pertanyaan, mengapa ini terjadi? Apakah budaya Sunda sudah tidak mempunyai nilai-nilai untuk perjuangan politik? Perlukan rekonstruksi budaya Sunda? Atau orang Sundanya yang kurang memahami budayanya sendiri dan menonjolkan pengaruh budaya luar? Itulah sejumlah pertanyaan yang memerlukan pemikiran serius dari kita sebagai orang yang mengaku komunitas orang Sunda.

**

ARNOLD Toynbee mengatakan bahwa suatu entitas kebudayaan akan tetap langgeng dan survive bila mampu menjawab tantangan yang dihadapinya. Para ahli fungsionalis berpendapat bahwa kebudayaan akan langgeng ketika kebudayaan tersebut fungsional terhadap lingkungannya. Sebaliknya, kebudayaan akan mengalami krisis bila tidak mampu fungsional dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Di tengah arus zaman yang semakin global, kita dihadapkan pada persoalan yang serba komplek. Sangat wajar bila banyak kebudayaan masuk ke Nusantara, sekaligus menjadi tantangan bagi budaya lokal. Arus modernisasi, globalisasi merupakan rangkaian kebudayaan yang sengaja masuk karena kebutuhan zaman, sekaligus mempengaruhi terhadap budaya lokal.

Kondisi inilah mempengaruhi terhadap tatanan kehidupan di segala bidang, termasuk aspek politik. Kehidupan politik di Indonesia diwarnai oleh gerak politik yang dilandasi oleh pemikiran-pemikiran sekuler. Arena pertandingan politik pun telah melupakan seluruh fondasi ketimuran yang kita miliki. Warisan kebudayaan lokal yang sarat dengan nilai dan norma menjadi punah atau dilupakan oleh para aktor politik di Indonesia. Suasana inilah mengimbas terhadap para politisi lokal, termasuk politisi  Sunda. Padahal dalam budaya Sunda terdapat serentetan norma yang bisa dijadikan landasan bagi aktivitas politik.

Silih asih, silih asah, dan silih asuh merupakan ungkapan sunda yang menjadi warisan budaya Sunda dalam menata kehidupan supaya hidup damai, tentram, dan aman. Pamali tarung jeung dulur, pamali bengkah jeung dulur, pun merupakan ungkapan yang menata keakraban sosial antara saudara. Di samping banyak lagi warisan budaya Sunda yang semestinya menjadi dasar bagi gerak langkah orang Sunda dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya termasuk dalam aspek politik, seperti kita harus cageur, bageur, pinter, singer, bener, teuneung, ludeung. Sangatlah ironis bagi para politisi yang kaya akan nilai-nilai budaya lokal, khususnya politisi Sunda, jauh dari akar budaya yang semestinya.

Keberadaan politisi Sunda, seperti diungkapkan di atas, yang secara kuantitas ataupun kualitas jauh ketinggalan oleh politisi lain, merupakan karakter yang harus segera dikembalikan kapada jati diri sebenarnya, yaitu menjadikan nilai budaya lokal sebagai dasar untuk berprilaku. Rasanya sikap siger tengah bukan satu-satunya alternatif dalam kondisi sekarang. Hal ini disebabkan semakin kompleknya persaingan kebudayaan yang menuntut kepada kita survive di tengah majemuknya budaya yang masuk sekaligus mempengaruhi aktivitas masyarakat Indonesia. Orang Sunda sudah selayaknya memupuk diri dengan aneka ragam ilmu pengetahuan tanpa menghilangkan warisan budaya lokal. Penulis melihat unsur-unsur budaya asing yang masuk ke Nusantara telah mengesampingkan nilai-nilai lokal, baik yang berlandaskan agama, sosial, budaya, ataupun ideologi negara. Kita terlena dengan pesatnya zaman, terlena dengan produk pemikiran barat yang sekuleristik sehingga berdampak pada suasana yang tidak nyaman, penuh dengan ketegangan, kekacauan, ketidakstabilan. Inilah sikap yang hanya berorientasi pada kenikmatan sesaat dengan landasan akal semata.

Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan di atas harus dijawab dengan jalan memfungsionalkan kembali nilai-nilai budaya sunda yang kita miliki dalam aktivitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Memfungsikan budaya lokal ini bukan berarti memunculkan kembali nilai-nilai etnosentris, tetapi di era yang pluralistik ini pelestarian dan pengembangan budaya lokal merupakan suatu keharusan.  Proses penyadaran akan pentingnya warisan budaya lokal membutuhkan waktu yang panjang. Meskipun demikian, tanpa kita memulai dan memaksakan untuk menjadikan warisan budaya lokal sebagai dasar perjuangan harapan hanya tinggal harapan tanpa sebuah kenyataan. Untuk itu, sosialisasi kembali warisan budaya lokal baik di tingkat para inohong atupun masyarakat menengah ke bawah merupakan suatu keharusan. Kemudian sosialisasi harus dilakukan di institusi-institusi yang ada, baik pemerintahan maupun non pemerintahan. Mudah-mudahan dengan mensosialisasikan dan memfung-sionalkan nilai-nilai budaya Sunda di setiap lapisan ataupun struktur sosial, khususnya yang dilakukan oleh politisi Sunda akan membantu terhadap pencegahan bahaya punahnya budaya Sunda dan sekaligus berdampak pada tatanan sosial dalam skup nasional menjadi semakin jelas. Sehingga krisis politik ataupun krisis lainnya dapat segera diantisipasi.

**

SEBELUM mengakhiri tulisan ini, perlu kiranya kita melakukan perenungan terhadap peristiwa-peristiwa sejarah yang mempunyai makna bagi kehidupan berpolitik. Adalah Pangeran Kornel sebutan lain bagi Pangeran Kusumah Dinata, seorang tokoh sejarah yang perlu dijadikan contoh oleh kita dalam sepak terjangnya sebagai pemimpin politik ataupun pemimpin masyarakat. Dia putra bupati Sumedang yang bernama Raden Adipati Surianagara, dan ia diangkat sebagai bupati Sumedang pada tahun 1791 dengan gelar Tumengung Surianagara. Sebagai bupati dia terkenal bijaksana. Pada masa pemerintahannya kehidupan rakyat berkembang baik dan sejahtera. Dia pun terkenal sebagai bupati yang cakap serta jujur.

Ajip Rosidi (1985) mengambarkannya sebagai bupati yang berhasil meningkatkan kehidupan rakyat Sumedang. Bahkan Nicolaas Engelhard (dalam Ajip Rosidi), seorang pejabat Belanda, telah memberikan kesaksiannya bahwa ia adalah seorang bupati yang jujur. Pada waktu itu, Nicolaas sedang memeriksa perkebunan kopi di seluruh priangan, ia singgah di Sumedang dan mengatakan daerah itu telah mengalami kemajuan, bahkan daerah yang asalnya hutan telah menjelma menjadi surga. Keberadaannya seorang yang kaya pun tidak pernah berprilaku untuk menambah kekayaannya dengan menggunakan kekuasaan dan jabatannya.

Dalam hal lain, Pangeran Kornel adalah seorang pemberani yang sangat memperhatikan pada kepentingan rakyat kecil meskipun harus berhadapan dengan keadaan yang mengancam dirinya. Terbukti ketika ia dengan lantang memprotes Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda yang menerapkan kebijakannya dalam pembuatan jalan raya Anyer-Bayuwangi dipandang telah memperkosa keberadaan rakyat. Daendels yang terkenal sebagai marschalk sangat disegani dan ditakuti oleh setiap rakyat pada waktu itu, apalagi pembuatan jalan di cadas pangeran (nama sekarang) tak kunjung selesai disebabkan oleh sedikitnya personal yang ada. Tetapi, kekhawatiran bringasnya Daendels tidak terjadi berkat sosok pemimpin Pangeran Konel yang mampu memberikan pemahaman kepada Sang marschalk. Berkat kepiawaiannya sebagai seorang pemimpin yang demokrat, rakyat menjadi bebas dari ancaman Daendels.

Masih banyak fakta historis yang telah terjadi pada masa lampau dan patut dijadikan ibrah bagi kita yang hidup di masa kini dan masa depan. Profil bupati Sumedang di atas, sangat didambakan dalam kehidupan dewasa ini. Para politisi yang konon sebagai penyambung lidah rakyat nyatanya jauh dari realitas sebenarnya. Kita melihat bagaimana keberadaan politisi-politisi dewasa ini yang cenderung telah menyimpang dari nilai-nilai ketimuran. Saling menyalahkan, saling tuduh, saling caci, saling menghalalkan berbagai cara untuk diri dan kelompoknya merupakan potret politsi kita yang jauh dari nilai-nilai ideologis, baik agama maupun negara.

Contoh peristiwa sejarah di atas harus menjadi modal bagi para poltisi dalam kiprahnya di alam ini, kini ataupun masa datang. Kita harus ingat bahwa politik adalah sejarah masa kini dan sejarah adalah politik masa lalu. Sejarah nemberikan data dan fakta bagi politik sedangkan politik memberikan teori bagi sejarah., History without political science has no fruit; political without history has no root (sejarah tanpa ilmu politik bagai pohon tak berbuah; politik tanpa sejarah bagaikan pohon tak berakar) demikian ungkap Sir Robert Seeley.***

LIHAT INDEKS ARTIKEL

About these ads

3 Balesan

  1. assalaamu’alaikum, palawargi sadayana,,,, kumaha sangkan kaula gbung di situs ieu ? haturnuhun…!

  2. Asslm wrwb. Menarik analisanya & cukup relevan utk dikaji o/ para politikus yg memang benar berkeinginan mengabdi pd masyarakat. Ketercerabutan dari akar budaya politik bangsa sendiri berakibat ketimpangan dalam orientasi & implementasi prilaku seperti saat ini. Tdk sedikit anomali prilaku elite politik kita akibat hal tsb. Wilujeng, wasslm wrwb

  3. assalamu’alaikum..

    da moal mungkin upami carita teu aya sajarahna mah..
    atuh asa aya nu kurang..

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: