Masyarakat Sunda-Islam dalam Menghadapi Budaya Barat

Oleh AYATROHAEDI

MENURUT tradisi lisan masyarakat Sunda, Islam  mulai masuk ke dalam kehidupan masyarakat Sunda pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Berdasarkan berbagai data banding, antara lain berupa naskah Carita Parahyangan, baik yang “asli” (1580) maupun yang kemudian disusun kembali oleh Pangeran Wangsakerta (1693), dan naskah-naskah karya “Panitia Wangsakerta” pada umumnya (1677-1698), besar sekali kemungkinan bahwa tokoh Prabu Siliwangi itu adalah Prabu Siskala Wastukancana, anak Prabu Maharaja, yang berkuasa cukup lama (1371-1475) (Ayatrohaedi 1986). Lajengkeun maos

Advertisements

Relasi antara Budaya Islam dan Budaya Sunda

Oleh ENUNG SUDRAJAT

Meuncit meri dina rakit
Boboko wadah bakatul
Lain nyeri ku panyakit
Kabogoh direbut batur

SEBAGAI bagian dari kreativitas orang Sunda, paparikan di atas termasuk jeprut, kalau dilihat secara bahasa. Tapi dalam pandangan axiologis paparikan tersebut terasa fenomena ekologis terlihat pada hubungan kata meri, rakit dan boboko, makna ekologis yang berdimensi antropologis bisa ditelurusi jika meri dinisbahkan kepada hewan Ovivar yang hidup di daerah basah (Lendo). Rakit dan boboko mempunyai bahan yang sama yaitu bambu (biasanya hidup pada ketinggian 100-500 dpl, daerah ini biasanya berada di antara gunung (bukit) dan penampung air (susukan). Bakatul sebagai bagian dari penggilingan padi setelah dipilih (diayak) dinisbahkan bahwa dalam proses tersebut terdapat proses yang sinergis antara unsur tektur tanah, air, perilaku manusianya. Lajengkeun maos

Menjawab Misteri Kelangkaan Candi di Tatar Sunda

Oleh MOEFLICH HASBULLAH

BELAKANGAN ini, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) melalui Balai Arkeologi Bandung sedang mendapat pekerjaan besar di Jawa Barat, yaitu penggalian candi di daerah Karawang yang diduga merupakan sisa-sisa peninggalan dari kerajaan Tarumanegara dan penggalian candi yang baru ditemukan di daerah Bojongmenje Rancaekek, Kabupaten Bandung. Lajengkeun maos

Pesantren Sebagai Pusat Budaya Orang Sunda

Oleh H. USEP ROMLI H.M.

PESANTREN merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa termasuk Jawa Barat. Lembaga ini sudah ada sejak permulaan abad ke-16. Paling tidak, demikianlah informasi yang tercatat dalam “Serat Centini” dan “Serat Cebolek”. Opus magnum karya sastra Jawa kuno yang tersusun pada abad ke-19 itu menyebutkan bahwa sejak permulaan abad ke-16 di nusantara telah banyak dijumpai pesantren besar yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik di bidang fikih, teologi, dan tasawuf. Bahkan, “Serat Centini” menyebutkan judul-judul kitab yang diajarkan pesantren masa itu, seperti Mukarrar (al Muharrar, karya Imam Rafi’i), Sujak (mungkin kitab Taqrib karya Ibnu Suja), Ibnu Kajar (Ibnu Hajar al Haitami, penulis kitab Tuhfatul Muhtaj?), Samarqandi (Abu Laits Muhammad Abu Nasr as Samarqandi, penulis kitab Ushuludin, tanpa judul, sehingga terkenal dengan sebutan pengarangnya), Humuludin (Ihya Ulumuddin karya Imam Gazali), Sanusi (Abu Abdallah Muhammad Yusuf as Sanusi al Hasani, penulis kitab Ummul Barahin atau Durrah yang membahas akidah dari sudut pandang tarekat Sanusiyah), dan lain-lain. Lajengkeun maos

Islam-Sunda Bersahaja di Kampung Naga

Oleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI

Cuntang gantang guratgaret papetelannyieun tali keukeumbingannyieun gantar pupuntungan,nyieun bom tali kerta.TAHUN ini (2003, –Ki Santri) adalah tahun kambing. Ini bukan ramalan shio China, tapi hasil perhitungan astronomi masyarakat adat Kampung Naga, Tasikmalaya. Sebagai masyarakat agraris, penamaan tahun ini dikaitkan dengan curah hujan dan curah matahari. Tahun kambing berada berada di bawah bayang-bayang Dewa Tumpekmindo, yang menandai karakter tahun yang kadang-kadang hujan, kadang-kadang kemarau. Perhitungan tahun masyarakat Kampung Naga menggunakan penanggalan Hijriah, lewat analisis terhadap jenis hari yang bertepatan dengan 1 Muharam, mereka menemukan jejak-jejak cuaca bagi kelangsungan kehidupan agraris mereka. Tahun 1423 H yang jatuh pada Sabtu dirumuskan berada dalam karakter kambing, sesekali saja membutuhkan air. Lajengkeun maos

Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda

Oleh DADAN WILDAN

Pak DadanTi meletuk datang ka meleték
ti segir datang ka segir deui
lamun dirobah buyut kami
lamun hujan liwat ti langkung
lamun halodo liwat ti langkung
tangsetna lamun buyut dirobah
cadas maléla tiis
buana larang, buana tengah, buana nyungcung
pinuh ku sagara (Pikukuh Baduy). Lajengkeun maos

Islam dan Sunda dalam Mitos

Oleh JAKOB SUMARDJO

PANDANGAN manusia Sunda masa kini terhadap hubungan antara agamanya (Islam) dan kebudayaannya (Sunda) tentulah berdasarkan pandangan dan pengetahuan yang sudah modern. Bagaimana hubungan itu seharusnya, tentulah menjadi bahan wacana yang aneka ragam. Tetapi orang sering melupakan bagaimana gagasan manusia Sunda itu dalam praksisnya. Bagaimana masyarakat Sunda pra-modern memandang dirinya dalam hubungan antara Islam dan Sunda. Gagasan semacam itu bertebaran dalam bentuk wawacan yang oleh Viviane Sukanda-Tessier dan Hasan M. Ambary telah dihimpun ringkasan isinya setebal lebih dari 2000 (dua ribu) halaman. Lajengkeun maos