Catatan Kritis Untuk “Sunda Tak Perlu Dibela”

Oleh ROZA R. MINTAREDJA

CUKUP paradoksal tema yang dibuat dalam Sunda tak Perlu Dibela (STPD)-nya Wawan Gunawan (WG). Suatu anomali pemikiran yang membuat penulis terperangah, karena secara jujur, terbuka, transparan ngaguar kasundaan dalam dimensi lain. Dimensi yang memunculkan suatu pengalaman pahit dari seorang anak muda yang dalam menemukenali apa itu Sunda, siapa Sunda, bagaimana Sunda, mau ke mana Sunda, kapan Sunda ada?

WG adalah wujud dari pareumeun obor-nya seorang anak bangsa dalam proses kehidupannya, dalam mencari jati diri sebagai urang Sunda. Harus bagaimana aku berlaku, berlaga tanpa ada panutan yang pantas untuk diteladani. Tidak sekedar strategic plan, tetapi action plan yang dibutuhkannya. Jeritan hati yang mewakili seluruh generasi muda anak bangsa dalam menggapai cita, kehendak, yang terukur. Bak menggapai bayang-bayang sang merah-putih, bayang-bayang sang garuda, bayang-bayang Pancasila belaka, tampaknya. Semuanya dalam suasana abstrak, penuh rekayasa dalam bentuk intepretasi pemahaman.

Kang Wawan, Anda adalah hasil produk dari kesamaran tujuan. Ingin pok-pek-prak dalam alam samar ini, tidaklah mudah. Perlu kesabaran. Jangankan Anda, para orangtua yang mengerti pun mungkin lebih tak sabar lagi. Yang menjadi titik kritis pada pemahaman Anda bahwa ada semacam apatisme menyeluruh dari semua urang Sunda, terhadap kamotekaran urang Sunda. Walau penulis sadar bahwa upaya ngageuingkeun urang Sunda versi Anda cukup greget. Bahkan the founding fathers kita (Soekarno-Hatta) pun jika masih hidup pasti memiliki greget yang senada.

Memang kita perlu sintesis dari keseluruhan pola pikir dan gerak anak bangsa yang hingga kini belum juga terwujudkan. Ekasila-nya Bung Karno adalah gotong royong masih berbentuk parsial. Kita perlu mengetahui, membuminya Pancasila sebenarnya terletak pada eka sila ini. Ini adalah wujud nyata dari Pancasila, tidak perlu lagi dibuat butir-butir penjelasan yang semakin tidak jelas akhirnya. Ini adalah prak-nya bangsa Nusantara.

Nuturkeun indung suku-nya Sunda berkonotasi negatifkah? Setiap suku mempunyai indung/bunda-nya, dari indung-lah kita berasal dan berawal. Dengan kesadaran penuh bahwa setiap gerak di alam ini ditengarai oleh ngindung ka waktu, ngabapa ka jaman. Rupanya polemik ini tidak akan berkesudahan jika kita sadar bahwa semua ada batas waktunya.

Manusia semakin cerdas, semakin pandai-pintar tetapi dampaknya adalah semakin tidak arif, semakin tidak surti dalam membaca zaman ini. Kelebihan dan kekurangan yang berbanding lurus ini justru yang membuat gerak. Gerak dalam tulisan Anda, sesuai profesi.

Gerak dalam profesi dari tiap individu ini sudah terjadi, di tiap profesi, seperti sastrawan Sunda, seniman Sunda, arsitek Sunda, politisi Sunda, teknokrat Sunda, pengusaha Sunda, pelukis Sunda, ekonom Sunda, filsuf Sunda, agamawan Sunda. Itulah budayawan Sunda.

Secara individu atau kelompok mungkin sudah mulang tarima ka lemah caina tetapi tidak ada sinergitas di dalamnya. Mereka hari ini ada. Mereka hari ini bergerak, detik ini bergerak, namun tidak dapat dipersatukan. Contoh, pernah terdengar Forum Musyawarah Masyarakat Sunda (FORMMAS) membuat gerak tetapi sesaat, tidak ada lagi tindak lanjut, yang artinya ternyata belum tercapainya satu amparan (landasan bersama).

Apakah benar harus dipersatukan? Apakah benar tidak satu fondasi? Apakah benar dalam kebinekaan ada ketunggalikaan? Banyak sudah, penulis cermati usaha-usaha ke arah ini, diupayakan sampai terjadi gerak, tetapi patah di tengah jalan. Di manakah cukang lantaran-nya? Jawabannya sangat mudah, karena tidak bisa membaca alam. Kita membutuhkan orang-orang arif tetapi jika tidak beramparan kearifan lokal, its’s impossible! Karena dengan mempelajari, mengamati, mengopeni kearifan lokal tersebut kita akan bisa membaca alam. Sudah terbukti, rasionalitas pemikiran barat takkan mampu memecahkan persoalan lokal. Kita harus back to azimuth, back to nature bahwa kita mempunyai BAJU SENDIRI. Mengapa harus memakai baju luar?

Pemahaman kenusantaraan berdasar baju lokal perlu kita guar kembali karena di situlah letak jati diri bangsa. Selama kita gumantung kepada baju luar, selama itulah kita tak pernah bersua dengan jati diri kita. Republik nusantara harus kita gaungkan kembali sebagai alat perekat bangsa. Ulah jati kasilih ku junti.

Kang Wawan, sudah saatnya pola pikir Sunda lokal kita buang jauh-jauh. Selama Sunda lokal menjadi paradigma yang mengtaklid buta, selama itu kita akan menjadi bangkong dikongkorong kujang. Lemah cai Sunda adalah bumi pertiwi, sama persis lemah cai Batak, lemah cai Aceh, Dayak, Bugis, dan lain-lain., adalah bumi pertiwi kita juga. Kita adalah kamu, kamu adalah aku. Kita sama punya keyakinan, di mana bumi di pijak di sana langit dijunjung, itulah makna persatuan dalam kesatuan. Itulah makna bhineka tunggal ika. Tuhanmu adalah Tuhanku jua, bangsamu adalah bangsaku jua, kemanusiaanmu adalah kemanusiaanku jua, keadilanmu adalah keadilanku jua, rakyatmu adalah rakyatku jua.

Alangkah indahnya jika itu menjadi amparan kita, ibu pertiwimu adalah ibu pertiwiku juga. Kita hormati semua ciri dan cara semua komunitas di muka bumi ini. Janganlah berpikir aku yang paling benar sebab benarmu adalah benarku juga. Kita jajarkan semua kebenaran itu dalam benarnya semua kebenaran, dengan kesadaran bahwa kebenaran mutlak ada di tangan yang berkehendak sebagai acuan dasar dari segala permasalahan di bumi ini. Apakah ini mungkin terjadi? Berat, sungguh berat, sebab inilah salah satu yang penulis temukan dalam Sunda utuh, bukan Sunda intepretatif (walau pun ini intepretasi juga).

Nah, jika Kang Wawan sepakat dalam amparan ini, baru kita menjelajahi kembali cara dan ciri Sunda secara lebih jernih, karena Sunda tidak sekedar entis belaka, tidak sekedar bahasa, tidak sekedar jaipongan, tidak sekedar arsitektur, bukan sekedar tata krama belaka. Sunda tidak sekedar sampurasun, bukan sekedar wayang golek, dll. Tetapi Sunda adalah sistem tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.***(Roza R. Mintaredja, Arsitektur; Budayawan Sunda. Republika, Rabu, 25 Agustus 2004.)

Sebelumnya:
Wawan Gunawan: Sunda Tak Perlu Dibela
Deden Suhendar: Membela Sunda Vs Membela Kebenaran

Lanjutan:
Kania Wahyu: Menjadikan Sunda Sebagai Pusat Kecenderungan
Agus Kresna: Syariat Sunda; Sebuah Keniscayaan Di Jawa Barat
Gunawan Undang: Ki Sunda; Di Triangulasi ‘Asah-Asih-Asuh’ Kita Bertemu
Abidin Aslich: Jawa Barat Tak Cuma Sunda

%d bloggers like this: