Matinya Islam Politik

Oleh HERMAN IBRAHIM

KITA tahu seorang ideolog selalu tampil kalem dan hanya bicara dengan kendali nalar yang teratur nyaris tanpa emosi. Tetapi, tulisan Adjan kali ini barangkali menunjukkan karakter yang sebenarnya. Saya pribadi yang sering dijuluki teman-teman sebagai provokator, kaget membaca tulisan Adjan yang begitu provokatif dan berseberangan dengan apresiasi saya selama ini terhadap dirinya.

Adjan ingin menanggapi tulisan Prof. Dr. Didi Turmudzi ihwal Islam dan Sunda di Jawa Barat. Dengan kapasitasnya yang dia tunjukkan tentang kesundaan, Adjan ingin mengoreksi Didi bahwa tidak benar Sunda identik dengan Islam. Beberapa nalar dan alasan korektif yang dia kemukakan tentang Sunda dan Islam masih wajar dan bisa diterima berdasarkan logika deduktif. Dia menolak Sunda identik dengan Islam atau sebaliknya dengan ilustrasi bukankah orang yang tinggal di desa Cideres Kecamatan Dawuan Majalengka adalah orang-orang Kristen dan bukankah pula masyarakat Madrais di Desa Cigugur Kabupaten Kuningan tidak bisa dikategorikan Islam?

Adjan lupa ihwal teori dominasi. Semua orang mengatakan bahwa Eropa identik dengan Kristen sekalipun di sana banyak orang Islam. Bukankah India identik dengan Hindu dan Thailand identik dengan Budha kendatipun penduduk yang beragama Islam di sana jumlahnya cukup banyak?

Tapi tampaknya bukan itu yang dipermasalahkan oleh Adjan. Bagi saya sendiri adalah tidak penting Sunda mau identik dengan Islam atau Islam mau diidentikkan dengan Sunda. Dalam keyakinan saya, Islam adalah umatan wahidah yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat etnik dan bahkan melampaui relasi manusia antarbangsa. Yang penting harus dikritisi adalah pandangan Adjan tentang Islam politik.

Saya ingin memulai dengan tulisan Adjan yang memandang rendah Islam politik. Bagi dia, terminologi Islam politik memiliki konotasi negatif dan bahkan jauh ke luar dari ke-Islamannya sendiri. Dengan cara mudah dan murah, Adjan memberikan contoh tentang seorang Muslim yang ingin dianggap baik di depan orang banyak dengan selalu menyempatkan salat Jumat, padahal di rumahnya tidak pernah bersembahyang. Untung setelah itu Adjan bercerita bahwa sebelum masuk sekolah dasar Adjan masuk sekolah agama di Kampung Taman Bogor. Pemahaman Adjan tentang Islam mungkin meningkat, tetapi pandangannya tentang Islam politik meyakinkan saya bahwa pengetahuan Adjan tentang Islam baru sebatas pendidikan di bawah sekolah dasar itu, untuk tidak dikatakan setingkat taman kanak-kanak.

Tengok saja literatur yang digunakan oleh Adjan yang me-remix pemikiran orientalis Stephen C. Headley, Karl D. Jackson, liberalis Nurcholis Madjid sampai pemikiran sosialis Partai Baath (Partainya Saddam Hussein). Seorang teman mengirim sms kepada saya bahwa tulisan Adjan menunjukkan si penulis betul-betul konsisten dan bersih atau steril dari …Islam. Rujukannya tentang Nurcholis sungguh ngawur. Ungkapannya bahwa Islam adalah agama sekuler karena dalam Islam diwajibkan mencari rezeki sebanyak-banyaknya benar-benar misleading.

Apa yang disebut dan di-refer dari Nurcholis bukanlah nash dan juga bukan hadis. Itu tidak lebih dari kata-kata hikmah semacam filsafat moral yang sering diajarkan Aa Gym. Mencari rezeki sebanyak-banyaknya, sangat paradoksal dengan kaidah Islam, sebab Islam sangat menganjurkan untuk hidup zuhud dalam perkara dunia. Kalimat hikmah itu berbunyi sebagai berikut, “Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok”.

Tetapi pepatah moral itu dipatahkan oleh rujukan yang paling valid dan mengikat yakni Alquran. Tengok firman Allah SWT, “Dan tiadalah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran:185). “Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, sedangkan akhirat itu lebih baik dan kekal” (Surat Al-A’la:16-17). “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui (Surat Al-Ankabut:64)

Alquran penuh dengan dorongan untuk tidak mencintai dunia, dengan menegaskan ihwal dunia yang penuh tipuan dan kefanaan. Antara zuhud dunia dengan mementingkan akhirat ada saling keterkaitan, karena sesungguhnya kita tidak akan mencintai akhirat kecuali mereka yang zuhud (tidak cinta) terhadap dunia. Dari rujukan Alquran di atas yang tidak terlalu memerlukan ilmu yang tinggi untuk menafsirkannya, dapat dengan mudah dan jelas ditegaskan bahwa Islam bukanlah agama sekuler seperti yang ditulis Adjan dengan mengutip kata-kata Nurcholis Madjid.

Kebekuan Adjan tentang pentingnya dunia dan hanya menganggap Islam sebagai urusan ibadah mahdhah (ritual) belaka dapat dilihat dari pandangannya tentang Islam politik. Pandangan itu sama dengan orang-orang Islam yang berpaham ideologi selain Islam, atau mereka yang tidak setuju tegaknya syariat Islam. Syariat Islam disederhanakan dengan salat, puasa, zakat dan ibadah haji. Padahal syariat Islam yang diangkat dalam Alquran dan dicontohkan Rasulullah saw. adalah segala aspek kehidupan manusia termasuk politik.

Itulah sebabnya Rasulullah saw. melakukan dakwah, dan dakwah ini adalah bagian utama dan awal dari gerak politik Islam. Politik Islam dan Islam politik adalah seruan untuk menegakkan kedaulatan Tuhan. Kebenaran Ilahiah tidak bisa direduksi oleh suara mayoritas manusia. Oleh karena itu, Islam menolak dan mengharamkan apa yang menjadi jargon orang-orang sekuler bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei).

Setelah dakwah diserukan, apa pun hasilnya politik Islam mengharuskan langkah-langkah politik berikutnya yakni hijrah, idad, ribath dan terakhir adalah jihad qital di jalan Allah. Orang bisa berargumen itu hanya terjadi sekali di zaman Rasulullah. Tidak banyak orang yang mau berbicara dan mengamalkan ratusan ayat Alquran tentang wajib jihad. Jihad wajib dilakukan sejak dulu sampai akhir zaman sampai terbunuhnya Dajal laknatullah. Orang selalu bicara tentang kemungkinan. Padahal tidak akan ada keajaiban dan pertolongan Allah jika kita tidak melakukan jihad dan hanya berdoa apalagi hanya ngomong belaka. Terhadap orang-orang demikian, Allah sangat murka seperti yang difirmankannya, “Kaburo maktan indallahi antaquluu maalaa taf aluun” (Alquran Surat As-Shaf:2-3).

Tentu saya tidak ingin terlalu jauh bicara ihwal wajibnya politik dalam Islam. Saya juga harus mengapresiasi dan membenarkan sebagian yang dikatakan oleh Adjan Sudjana. Saya sependapat dengan Adjan bahwa ajaran Islam tidak boleh dijadikan komoditas politik untuk kepentingan pribadi. Saya juga tidak pernah percaya bahwa syariat Islam bisa ditegakkan dengan undang-undang apalagi dengan peraturan daerah. Tetapi berbeda dengan Adjan, saya hanya percaya bahwa syariah bisa

ditegakkan jika Alquran dan As-Sunah dijadikan rujukan konstitusi tertinggi di negeri ini.

Selain itu harus pula dinyatakan bahwa perbedaan di dalam Islam adalah rahmat. Tetapi dalam soal akidah yang menyangkut keyakinan atas keesaan Allah berikut nama dan sifat-sifatnya umat Islam tidak boleh berbeda sedikit pun juga. Maka masyarakat madani harus ada dan tunduk kepada payung akidah. Demikian juga akhlak dan moral harus merupakan derivat atau turunan dari akidah. Itu semua hanya mungkin ditegakkan dan diperjuangkan dengan politik. Politik Islam atau Islam politik menjadi wajib hukumnya sejauh mengikuti manhaj Rasulullah saw. dan bukan dengan cara-cara sekuler.

Yang menarik adalah sinyalemen Adjan Sudjana tentang Kartosuwiryo. Tentu berdirinya NII dengan DI/TII-nya bukan berada pada garis NKRI. Tetapi tuduhan bahwa peristiwa Cibugel dan Rajagaluh sebagai produk DI/TII masih perlu diperdebatkan. Negeri ini punya pengalaman buruk tentang perilaku lempar batu sembunyi tangan. Seperti halnya teror yang saat ini selalu distigmakan kepada umat Islam. Kita tidak pernah sungguh-sungguh mencari kebenaran sejarah. Dalam kasus bom Bali kita juga tidak pernah serius mengelaborasi pernyataan Jou Vialis seorang ahli bom dari Australia yang mengatakan hanya orang idiot yang percaya bahwa bom termo nuklir dengan radiasi panas dan menimbulkan efek pembakaran yang luas, bisa dilakukan oleh orang semacam Amrozi dan Imam Samudra.

Pernyataan Adjan bahwa Kartosuwiryo memproklamasikan NII di Jawa Barat setelah dia terlempar dari SI Merah agak menggelikan. Proklamasi NII DI/TII tanggal 9 Agustus 1949 merupakan perpecahan dalam tubuh SI Hijau yang menempuh dua jalan berbeda. Yang pertama dengan melanjutkan perjuangan Islam lewat partai politik Masyumi (kooperatif) yang dipimpin Natsir c.s. dan yang kedua keluar dari perjuangan lewat partai (konsep hijrah) yang dipimpin Kartosuwiryo.

Sekalipun melakukan perjuangan lewat jalur kedua, sebelumnya Kartosuwiryo turut bergabung dalam partai bahkan sempat menjadi Ketua Masyumi Jawa Barat. Tetapi proklamasi terjadi jauh sebelum dia menikah dengan Ibu Dewi, putri dari Raden Adiwisastra Ketua Masyumi Malangbong. Jadi tidak benar bahwa Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo memproklamasikan NII karena terlempar dari SI Merah apalagi diidentikkan dengan PKI seperti yang dilansir Adjan Sudjana. Karena jangankan dengan PKI, pimpinan Semaun bahkan dengan Soekarno saja yang berpaham nasionalis dan sama-sama murid Cokroaminoto, Kartosuwiryo berseberangan secara diametral baik politik maupun ideologi.

Konsep negara Islam sebenarnya tidak relevan. Tetapi memperjuangkan tegakknya syariat Islam hukumnya wajib. Perbedaan persepsi serta cara di dalam memperjuangkan syariat Islam dalam batas tertentu masih bisa ditolerir. Tetapi cara-cara perjuangan lewat sistem sekuler tidak pernah berhasil. Islam juga tidak pernah menang lewat demokrasi karena demokrasi sebenarnya adalah sebuah selubung taktis dari ideologi tersembunyi neo liberal. Fakta menunjukkan partai Islam FIS di Aljazair yang memenangkan pemilu dianulir dengan intervensi Amerika Serikat. Demikian juga kemenangan partai Islam Rafah pimpinan Erbakan di Turki digagalkan dengan cara yang sama.

Secara historis, partai Islam yang sengaja dipecah belah melalui demokrasi memang tidak akan pernah memenangkan pemilu. Dalam hal ini Adjan Sudjana benar. Sekulerisme adalah paham yang memisahkan agama dengan politik. Itulah yang dianut oleh Adjan tetapi keinginan Adjan

untuk mematikan Islam Politik seperti yang ditulisnya Insya Allah tidak akan kesampaian. Tentu Islam politik dimaksud adalah yang sesuai dengan manhaj (metoda) Rasulullah saw. Wallahu A’lam Bish-Shawab.*** (Penulis Ketua Litbang Majelis Mujahidin. Pikiran Rakyat, Jumat, 29 April 2005.)

Sebelumnya:
M. DIDI TURMUDZI: Islam dan Sunda di Jawa Barat
ADJAN SUDJANA: Sunda dan Islam Politik

Lanjutan:
M. DIDI TURMUDZI: Dinamika Islam Sunda & Modernisme Islam

%d bloggers like this: