Islam di Sunda, Sumebar Dua Abad Méméh Wali Sanga

Galura, Minggu IV, Séptémber 2008

“Tina naskah-naskah kuna bisa dicindekeun agama Islam saenyana geus sumebar di tatar Sunda jauh saméméh Déwan Salapan aya,” ceuk Undang Darsa, M. Hum., salahsaurang ahli pilologi nu kawilang nyongcolang. Anu dimaksud Déwan Salapan ku ieu dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung téh taya lian ti Wali Sanga.

Dina naskah Carita Parahyangan (abad ka-16 katompérnakeun) upamana disebutkeun di tatar Sunda anu munggaran ngagem agama Islam téh Bratalagawa, putra kadua Prabu Pangandiparamarta Jaya Déwabrata atawa Bunisora Suradipati. Bratalagawa téh sodagar, mindeng balayar ka nagara-nagara nu jauh: Sumatra, Cina, India, Srilanka, tepi ka Arab. Continue reading

“Haolan” dan Solidaritas Sosial

Oleh HILMAN SAEPULLAH

SALAH SATU tradisi masyarakat Muslim Indonesia yang erat kaitannya dengan Hari Raya Idul Fitri adalah “haolan” atau “haol”. Dalam satu atau dua dasawarsa belakangan ini, paling tidak di masyarakat Sunda, tradisi ini rasanya semakin ramai.

Istilah ‘haolan’ berasal dari bahasa Arab, hawl, yang artinya daur dalam satu tahun. Dengan demikian, haolan dapat diterjemahkan sebagai ‘tahunan’. Haolan memang mengacu kepada waktu, bukan kepada jenis kegiatan. Itulah sebabnya segala kegiatan rutin tahunan dapat disebut ‘haolan’. Tetapi paling tidak, ada dua hal yang dikenal luas sebagai haolan. Continue reading

Tradisi Masyarakat dalam Hidup dan Mati

Oleh RUSLI PRANATA

Dalam Kamus Filsafat (1996: 1.115-1.116), tradisi merupakan adat istiadat, ritus-ritus, ajaran-ajaran sosial, pandangan-pandangan, nilai-nilai, dan aturan-aturan perilaku, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Takdir atau hidup dan mati sebuah tradisi sangat bergantung dan ditentukan oleh dua faktor. Pertama, pengguna atau pemakai tradisi (masyarakat). Kedua, pihak yang berkuasa atau pemerintah.

Untuk faktor pertama (pengguna tradisi), kita ambil saja contoh tradisi lokal yang pernah ada di sekitar Desa Babakan Panjang, Kec. Nagrak, Kab. Sukabumi. Tradisi yang pernah ada di sana salah satunya adalah tradisi yang berkaitan dengan pertanian. Dari dulu sampai sekarang para petani di desa tersebut Continue reading

Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Kian Santang; Tiga Tokoh Penyebar Agama Islam di Tanah Pasundan

Oleh ASEP AHMAD HIDAYAT

BERBICARA tentang proses masuknya Islam (Islamisasi) di seluruh tanah Pasundan atau tatar Sunda yang sekarang masuk ke dalam wilayah Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, maka mesti berbicara tentang tokoh penyebar dari agama mayoritas yang dianut suku Sunda tersebut. Menurut sumber sejarah lokal (baik lisan maupun tulisan) bahwa tokoh utama penyebar Islam awal di tanah Pasundan adalah tiga orang keturunan raja Pajajaran, yaitu Pangeran Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Prabu Kian Santang. Continue reading

Kesultanan Banten

(1568-1813) 

KESULTANAN yang pada masa jayanya meliputi daerah yang sekarang dikenal dengan daerah Serang, Pandeglang, Lebak, dan Tangerang. Sejak abad ke-16 sampai abad ke-19 Banten mempunyai arti dan peranan yang penting dalam penyebaran dan pengembangan Islam di Nusantara, khususnya di daerah Jawa Barat, Jakarta, Lampung, dan Sumatra Selatan. Continue reading

Kesultanan Cirebon

KESULTANAN Cirebon merupakan kesultanan di pantai utara Jawa Barat dan kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Cirebon pada saat sekarang merupakan nama satu wilayah administrasi, ibu kota, dan kota. Nama Cirebon juga melekat pada nama bekas sebuah keresidenan yang meliputi kabupaten-kabupaten Indramayu, Kuningan, Majalengka, dan Cirebon. Continue reading

Sejarah Cirebon

KISAH asal-usul Cirebon dapat ditemukan dalam historiografi tradisional yang ditulis dalam bentuk manuskrip (naskah) yang ditulis pada abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut dapat dijadikan pegangan sementara sehingga sumber primer ditemukan.

Diantara naskah-naskah yang memuat sejarah awal Cirebon adalah Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cirebon, Sajarah Kasultanan Cirebon, Babad Walangsungsang, dan lain-lain. Yang paling menarik adalah naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, ditulis pada tahun 1720 oleh Pangeran Aria Cirebon, Putera Sultan Kasepuhan yang pernah diangkat sebagai perantara para Bupati Priangan dengan VOC antara tahun 1706-1723. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers